[SERIES] Unspoken – Chapter 2

.

Kinanti bertemu dengan Dewantara pertama kali saat umurnya dua belas tahun. Hari itu adalah saat yang tidak akan pernah terlupakan, ketika Dewantara menghampirinya dan memperkenalkan diri. Kinanti ingat menahan napas hampir selama setengah menit, dan berpikir Tuhan pasti sedang gembira saat menciptakannya, makhluk yang begitu rupawan.

Ya, umurnya dua belas tahun, dan saat itu pertama kalinya dia dibuat hampir membeku karena seseorang. Terakhir kali Kinanti merasa jantungnya berdegup sangat kencang adalah ketika dia berpidato di depan seluruh siswa Gilberton Primary School saat James Franco berkunjung ke sekolah. Degup itu hadir kembali saat Dewantara memintanya untuk menjadi teman berduet piano dalam konser kelulusan lelaki itu.

Saat itu Dewantara adalah seorang pianis, dan juga mahasiswa jurusan Film Scoring di Berklee College of Music yang tengah menyelesaikan studinya. Sebuah karya komposisi musik film telah disiapkan, dan dari yang lelaki itu tuturkan, dia memerlukan seorang pemain piano untuk menjadi solois menampilkan hasil ciptaannya di hadapan ratusan tamu undangan dan juga dewan dekanat sekolah tingginya.

Ketika Dewantara memberikan set partitur musiknya, mereka berlatih selama tiga minggu untuk menguasai materi dan dinamika musik. Tiga kali dalam seminggu Kinanti berlatih di sebuah studio tak jauh dari sekolah musiknya, dan bermain musik bersama Dewantara selama dua jam sepulang sekolah. Seminggu berikutnya, setelah latihan mereka dirasa cukup matang, Dewantara mengajaknya berlatih bersama orkestra dari Berklee yang akan mengiringi mereka saat konser.

Telah lama sekali dia bermain piano, dan bermain dengan diiringi orkestra adalah salah satu impian besarnya. Bagi Kinanti, Dewantara bagaikan peri pewujud mimpi. Dia tidak pernah membayangkan kesempatan itu akan datang. Seorang pianis hanya bisa bermain diiringi oleh orkestra bila mereka turut andil dalam sebuah konser musik klasik, atau tergabung dalam grup simfoni tertentu.

Kinanti tidak pernah bergabung dalam grup musik apapun, maupun berusaha untuk audisi. Ayahnya hanya mendukung keahlian berpianonya sebagai sebuah hobi semata. Dan, Dewantara membuka pintu peluang itu untuknya, meski hanya untuk sekali dan seumur hidup. Malam itu adalah saat yang tidak akan pernah dia lupakan sampai kapanpun.

Secara resmi Kinanti jatuh cinta pada sang musisi rupawan itu begitu riuh tepuk tangan para penonton membahana di seluruh penjuru auditorium Berklee College. Saat lelaki itu menggenggam dan mengangkat tangannya, mengenalkannya pada para hadirin, kemudian mengecup puncak kepalanya sebelum turun panggung.

* * *

“Jadi itu orang pacarnya atau apa?”

Darma mengangkat bahu ketika Aditya bertanya. Malam itu resepsi pernikahan ibu dan ayah barunya digelar di sebuah gedung pertemuan hotel ternama, dan Darma mengundang para anggota band-nya ke pesta perayaan sederhana itu.

Sebagian besar tamu undangan datang dari pihak keluarga dan relasi ayah Kinanti. Ibunya tidak memiliki saudara kandung, jadi sedikit sanak saudaranya yang datang ke resepsi acara itu. Beberapa saudara dari keluarga ayahnya pun tidak banyak yang datang, kebanyakan dari mereka tinggal di luar ibukota. Dan biaya untuk pergi ke Jakarta dirasa terlalu berat bagi mereka yang hidup dalam keluarga yang tidak terlalu berada.

Karena itulah dia membawa teman-temannya ke resepsi pernikahan itu, untuk menemaninya supaya tidak terlihat seperti anak hilang. Terutama karena Kinanti bersikap seolah dia tak kasat mata. Satu-satunya interaksi yang mereka miliki terjadi saat mengambil foto keluarga pertama begitu upacara pernikahan selesai dihelat, itu pun cuma sekedar kalimat singkatnya ‘sini, geser’ ketika mengikuti arahan fotografer.

“Pacarnya? Emangnya nggak terlalu tua, ya? Berapa sih umurnya? Tiga puluh? Tiga puluh lima?” pertanyaan terlontar oleh Asad, sang drummer, dengan mulut penuh potongan buah zaitun dari pie buah-buahan di atas meja.

“Nggak setua itu kali. Kayaknya sekitar dua sembilan-an, soalnya dia mirip abang tetangga sebelah rumah.” Suara lain terdengar di antara mereka, suara feminim milik Anindita—satu-satunya anak perempuan di antara kumpulan makhluk berjakun itu. “Perawakannya maksud gue, gantengnya enggak.”

Anak-anak lain memutar bola mata mereka saat Anindita mengoreksi kata-katanya, seolah ada yang peduli.

Dari sudut ruangan, di sisian meja bundar bagian undangan VIP, lima pasang mata fokus memandangi sosok pria yang tengah berbaur di antara para tamu undangan. Darma tidak kenal orang itu, bahkan baru lihat hari ini. Tapi orang ini langsung saja menarik perhatiannya—dan ternyata juga teman-temannya—ketika Kinanti menyambut kedatangannya dengan antusias, dan terus menempel di sisi anak perempuan itu sepanjang malam…

Atau sebaliknya, ya?

Pria itu tampan. Banget. Badannya tinggi, mungkin sekitar tujuh centi lebih tinggi daripada Darma—padahal dia sudah mengklaim nama tengah “tiang listrik” di sekolahnya. Matanya besar dan tajam, tapi sangat kontras dengan tatapannya yang jauh lebih lembut. Anindita bilang bahwa orang itu punya mata dengan sorot yang teduh, menawarkan perlindungan—yang katanya tipe kesukaan anak perempuan.

Memang keliatan beda sih kalau dilihat. Cara orang itu melipat lengan kemejanya hingga ke siku, walaupun sebenernya biasa tapi entah kenapa terlihat lebih keren—tanpa sadar Darma melakukan hal sama pada lengan kemejanya. Lalu postur badannya, Darma yakin laki-laki ini membentuk tubuh rampingnya dengan olahraga maksimal. Darma bahkan harus mengakui bahwa laki-laki itu memiliki pesona yang tidak terelakkan, karena sisi maskulinnya terasa begitu kuat, bahkan untuk seorang laki-laki seperti dia sendiri.

Dia cuma tahu lelaki itu bernama Dewantara, saat “tidak sengaja” nguping Kinanti menyebut nama itu beberapa waktu lalu. Lelaki itu bermain piano, dan menyanyikan sebuah lagu lama yang diaransemen ulang untuk pasangan pengantin. Suaranya bagus. Musiknya berkelas.

Darma makin penasaran dengan jati diri lelaki itu, apalagi saat melihat mata Kinanti seperti dipenuhi bintang-bintang yang berkilauan ketika menatapnya. Kalau saja tubuh bisa berbicara, Darma yakin tangan, kaki dan rambut Kinanti sudah berteriak ‘I love you! I love you! Dewantara, you’re so handsome!‘ selama satu jam ini, non-stop. Terlihat jelas sekali kalau dia menyukai pria itu.

“Tetep aja tua ih!” Sang basis tengil, Bayu, menampik Anindita dengan santai. “Kayak pacaran sama om-om, tauk?”

Darma hampir tersedak air minum yang tengah dia teguk, tawanya berlanjut ketika Anindita mulai ngomel di sampingnya.

Biasanya dalam keadaan normal, Darma pasti akan ikut banyak berkomentar bila orang-orang ngerumpiin Kinanti, atau membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan gayanya yang konon sok misterius. Siapa sih yang nggak tertarik sama yang namanya Kinanti? Darma ingat di salah satu obrolan dengan para anak laki-laki di sekolah. Selain juteknya yang selangit, anak laki-laki cukup banyak yang mengaguminya; anaknya cantik, pinter, nggak kebanyakan gaya, dan yang paling penting—ini juga yang paling disukai anak-anak—nggak pernah tebar pesona, seolah pesonanya itu terbatas untuk kalangan tertentu saja. Di saat yang sama, hal-hal ini juga yang membuat banyak anak perempuan yang senewen. Darma paling hobi bergabung dalam obrolan-obrolan rumpi mereka dan ikut berkomentar untuk memanaskan suasana.

Tapi kali ini dia diam saja, terlalu asik memandangi saudara perempuan barunya itu. Kinanti memberinya sebuah kejutan besar hari ini. Bukan, bukan hadiah atau sesuatu yang bisa nyenengin hatinya atau apa, tapi kejutan melihat orang yang sepertinya tidak punya urat ramah ternyata bisa begitu ‘manja’ di samping Dewantara. Rasanya lucu bila mengingat bahwa ini pertama kalinya dalam tiga tahun, mereka menyaksikan Kinanti tersenyum sepanjang malam.

Kinanti terlihat sangat berbeda bila ada Dewantara. Tidak ada lagi sosok perempuan jutek dan arogan, imej yang terpatri itu tiba-tiba aja hilang dan digantikan oleh Kinanti yang seperti anak perempuan lainnya di sekolah, saat mereka sedang bersama anak laki-laki yang sedang ditaksir. Darma berpikir mungkin inilah Kinanti yang sebenarnya, gadis yang sesungguhnya bisa bersikap manis dan manja bila—mungkin—kita sudah dekat sama dia. Dan Darma kemudian berpikir, mungkin ini angin segar untuk hubungan mereka.

Mungkin, dia berharap, dalam beberapa minggu ke depan, tembok es yang mengelilingi Kinanti akan mencair. Dengan begitu akan lebih mudah Darma mendekatinya. Ya, semoga saja.

“Tau nggak sih, gue pernah denger…” Darma tiba-tiba saja berkomentar, masih dengan kedua mata mengekori Kinanti dan Dewantara di seberang ruangan. “When you love somebody, age is just a number. Gimana kalau kita nggak usah ngomongin hubungan orang? bukan urusan lu orang juga sih dia mau pacaran sama siapa.”

Sebenarnya Darma mengucapkan kalimat ini dengan nada yang biasa saja. Dia tidak kesal atau sewot karena obrolan teman-temannya, tapi entah kenapa yang terdengar malah berbeda di telinga yang lain. Saat menoleh kembali, Darma merasa dihakimi dengan pandangan-pandangan nista dari teman-temannya.

“Eh, cieee.. yang nggak terima sodara barunya dikatain.”

“Iya deh, yang protektif banget sama dek Kinanti.”

Dalam sekejap saja dia diserang berbagai macam ledekan yang tidak ada habisnya. Gelak tawa teman-temannya makin keras terdengar. Darma menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal, dia malu sekali. Mungkin mukanya merah sekali saat ini, seperti pantat monyet.

Dia biasa mengatakan hal yang bodoh. Kadang responnya terhadap sesuatu bisa jadi sangat random, dan itu sering menjadi bulan-bulanan teman-temannya karena lelucon yang serupa. Hanya saja, tidak seperti biasanya, kali ini mereka tidak cuma berlima. Ada banyak orang di sana yang mulai memandangi mereka dengan tatapan aneh, bahkan keributan itu juga menarik perhatian Kinanti dan Dewantara.

“Eh, udah donk. Gila lo pada, malu nih diliatin orang.”

Sebenarnya Darma tidak begitu peduli dengan kata-kata atau pandangan orang melihatnya. Yang membuatnya gugup adalah bagaimana Kinanti memandangnya saat itu. Saat menemukan anak perempuan itu memberinya tatapan mencela, lalu cemooh sinis tingkat tinggi, Darma merasa seperti ingin mengubur dirinya saat itu juga.

“Heh, udahan sih. Nggak enak sama Kinanti.” Omelnya setengah berbisik, sambil menutupi setengah mukanya dengan tangan, seolah gesture kecil itu berhasil menyembunyikan dirinya dari tatapan orang sedunia.

Keempat temannya masih tertawa, tapi tawa itu tiba-tiba menghilang. Darma langsung menyadari ada sesuatu di belakangnya saat melihat tatapan teman-temannya tertuju pada sesuatu di balik punggungnya. Lebih tepatnya, seseorang.

“Darma?”

Suara itu tidak terdengar asing. Ketika berbalik dan menemukan Dewantara berdiri seorang diri di hadapannya, terus terang Darma melasa senang. Curi-curi menghela napas lega, untung banget Kinanti tidak ada di sana.

“Saya Dewantara, kita belum sempat berkenalan.” Ujar lelaki itu dengan tangan terulur. Intonasinya datar, tapi cukup tegas. Darma bengong mendengar suaranya, terpukau.

Sialan, laki-laki ini nggak ada cela buat dinistain.

Darma membalas jabatan tangannya. Dia kemudian mengenalkan teman-temannya saat Dewantara menyapa mereka—tiga penyamun itu mendadak canggung, Darma menduga pasti gara-gara langsung didatangi oleh topik pembicaraan mereka tadi, sementara Anindita bersikap terlalu ramah, tiba-tiba berubah jadi imut.

Satu hal lagi tentang Dewantara yang dia pelajari adalah bahwa dia adalah laki-laki yang ramah dan sopan, sangat jauh berbeda dengan Kinanti. Sikap laki-laki itu tidak dibuat-buat, atau berusaha mendominasi, seperti kebanyakan laki-lai dewasa yang bicara dengan seseorang yang jauh lebih muda daripada mereka. Dewantara tidak menghakimi, tidak juga berpura-pura ramah. Darma bisa merasakan intensinya yang tulus dari nadanya berbicara. Dia tahu Dewantara tidak mendekatinya hanya untuk basa-basi saat itu.

“Yuk ikut, saya kenalin ke keluarga baru kamu.” Ujar Dewantara kemudian, seolah sadarkalau Darma tidak pernah meninggalkan sudut ruangan ini sejak pertama kali dia datang. Tidak berhenti sampai di sana, Dewantara pun tidak lupa meminta ijin teman-temannya. Dih sopan banget sumpah.

“Saya pinjam teman kalian sebentar ya. Silakan keliling cari makan, banyak yang enak loh.”

Darma sebenernya lebih suka tidak pergi kemana-mana, selain karena dia merasa tidak mengenal sebagian besar orang yang datang ke resepsi, rasanya lebih nyaman berada di tengah teman-temannya. Tapi dia merasa tidak sopan bila menolak ajakan Dewantara, apalagi orang itu ngajaknya sopan banget. Makin bersalah dia kalau tidak ikut pergi.

Dewantara mengenalkannya pada beberapa relasi ayah Kinanti; kolega di Universitas tempatnya bekerja, keluarga yang datang dari Amerika, dan beberapa orang yang pernah dia lihat di televisi. Dia tidak tahu ayah Kinanti memiliki relasi seluas ini, tapi tentu saja, sejak pertama kali mengenal calon ayah barunya itu, sudah terlihat kalau bukan orang biasa.

Orang-orang itu pasti sudah kenal Dewantara dengan baik, melihat bagaimana tampaknya ini bukan sekali dua kali saja mereka bertemu. Orang-orang ini tahu namanya, mereka bahkan saling menanyakan kabar dan hal-hal yang Darma tidak begitu mengerti. Baru setelah itu mereka membicarakannya begitu Dewantara menyebut tentang anak laki-laki ibu Anita.

“Kinanti itu memang mungkin awalnya sulit dihadapi. Tapi semakin kamu kenal dia, kamu akan lihat sebenernya dia itu anak yang baik.” Dewantara tiba-tiba saja membahas topik lain saat mereka memisahkan diri, sedikit menepi sambil mengisi tenggorokan mereka yang kering dengan segelas fruit punch.

Sesaat Darma tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini bermuara, tapi ketika Dewantara mengedikkan dagunya pada sosok gadis yang sedang mengobrol asik dengan seorang wanita asing, Darma mulai paham apa maksudnya.

“Kok dia bisa jinak banget ya sama Abang?” Eh, tiba-tiba Darma teringat sesuatu. “Oiya, boleh panggil Abang, kan?”

Pertanyaannya terdengar bodoh, dan karena itu Dewantara menertawainya. Hanya sekilas, tapi cukup bikin malu juga. Bener-bener deh, saat ini Darma hanya bisa berharap dia akan berhenti mempermalukan diri di hadapan seorang Dewantara. Laki-laki itu bikin dia tampak seperti gumpalan lumpur di tengah butiran batu berlian.

Tapi Dewantara tidak langsung menjawab pertanyaannya. Laki-laki itu membiarkannya menunggu beberapa detik dengan menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, lalu menghabiskan fruit punch-nya dalam beberapa teguk sebelum menjawab.

“Sejak ibunya meninggal, Kinanti nggak terlalu membuka diri sama orang-orang baru. Bisa dibilang saya menyaksikan cukup banyak hal.”

Oh, jadi mereka udah lama kenal. Kesimpulan itu dia dapat dari jawaban Dewantara. Sepertinya memang harus lama banget kenal Kinanti supaya bisa membuat anak perempuan itu lebih terbuka. Dia sebenarnya ingin menanyakan satu hal lagi, yang menjadi topik pembicaraan grupnya selama satu jam belakangan. Dan pertanyaan itu sudah berada di ujung bibir, siap terlontar, tapi Darma menahan diri.

Mungkin lebih baik kalau cari tahu sendiri, pikirnya. Lagipula cepat atau lambat pertanyaan itu pasti akan terjawab juga, toh mereka akan tinggal di rumah yang sama. Rahasia tidak akan tersimpan selamanya, jadi dia memutuskan untuk menunggu sampai waktu yang tepat.

“Jadi, Bang, ada yang bisa di-share soal Kinanti? Karena sepertinya dia nggak bergitu suka gue, dan berhubung dia jutek abis, gue nggak bisa tanya apa kemungkinan dia nyimpen pisau buat nusuk gue malem-malem pas tidur.” Ha! kalo begini lucu nggak ya? Setidaknya Darma merasa bisa mengubah imejnya supaya terlihat lebih humoris sedikit, daripada terliha bodoh.

Dewantara kembali tertawa. Sekilas, tapi kali ini cuma senyum yang tetap tertinggal di sudut mukanya, dikulum dalam keheningan singkat yang terasa seperti seminggu buat Darma. Sebenarnya Darma bukan seseorang yang melankolis, yang apa-apa dibawa perasaan dan jadi emosional. Tapi entah kenapa belakangan ini apa yang ada di dadanya seperti bekerja lebih maksimal daripada otaknya, karena tiba-tiba saja dia menjadi pemerhati yang andal. Darma berhasil mengamati bahwa Dewantara sepertinya suka sekali tertawa sekilas, atau memang begitulah caranya tertawa. Dan dia tidak mengira bakal sebaper ini mengamati laki-lakinya Kinanti, senyum aja jadi topik.

“Saya nggak pernah dengar soal pisau, tapi nggak tahu kalau sianida.”

Ha? Ha-ha, ya Tuhan, joke-nya boleh juga nih Dewantara. Darma terpingkal di dalam hati. Kali ini mereka benar-benar tertawa, terbahak berdua di pinggir ruangan. Orang-orang kembali menatap mereka, tapi dengan pandangan yang berbeda. Dewantara jelas memiliki andil besar dengan tatapan yang lebih beradab itu.

“Yang sabar ya menghadapi Kinanti, kamu harus percaya diri.” Dewantara berkata lagi sebelum mengajaknya pergi lagi, “Yuk, sini.”

Darma mengekor di belakang Dewantara, membiarkan laki-laki dewasa itu memimpin. Tadinya dia mengira akan dikenalkan lagi pada teman atau keluarga ayah Kinanti, tapi ternyata yang mereka datangi adalah si Kinanti sendiri.

Anak perempuan itu sudah tidak lagi mengobrol dengan siapapun. Dia berdiri diam di sudut lain ruang besar itu, seperti sengaja memisahkan diri dari keramaian. Dari caranya memandang kedatangan mereka, sepertinya Kinanti tidak mengira Dewantara akan mengajaknya ke sana.

“Ayo sini kenalan dulu.” Ujar Dewantara seraya menarik tangan Kinanti agar berdiri mendekat. Ini seperti pelajaran baru untuk Darma dengan topik bagaimana berhadapan dengan si ratu jutek yang kemungkinan sedang PMS, Dewantara terlihat tidak terpengaruh dengan jawaban sinis Kinanti yang mengatainya ‘apaan sih, garing banget’—padahal satu kalimat itu cukup menjatuhkan keberanian Darma untuk mendekat.

“Bang, nggak papa kok.” Katanya nggak enak, sepertinya lebih baik dia kembali pada teman-temannya sebelum seluruh kepercayaan dirinya habis menjadi santapan makan siang Kinanti.

Kinanti menaikkan alisnya, seperti ada yang aneh dengan kalimatnya barusan. Dan ternyata itu pun dibahas oleh Dewantara.

“Tuh, kamu dengar dia panggil aku apa? Kamu harus banyak belajar dari Darma.” Katanya menggurui Kinanti. Darma semakin tidak paham ke mana arah pembicaraan mereka. “Ayo sini kenalan dulu.”

Dewantara mengambil tangan Kinanti dan diulurkannya ke arah Darma, “Darma, ini Kinanti. Dia saudara perempuan baru kamu.” Lalu pada Kinanti, “Kinanti, kenalkan ini Darma. Dia kakak laki-laki kamu. Ayo jangan galak-galak, be a good girl.”

Ini mungkin adalah pemandangan paling lucu yang pernah dia lihat. Untuk pertama kalinya Darma tidak peduli Kinanti akan bilang apa, tapi dia ingin sekali tertawa saat ini. Dan dia tertawa, meski ditahan-tahan karena masih terintimidasi oleh tatapan Kinanti. Dia membalas jabatan tangan Kinanti yang tidak niat. Tujuan Dewantara membawanya bertemu Kinanti mulai Darma pahami, mungkin ini babak awal dari proses sabarnya.

Darma sudah menduga kalau ini tidak akan berhenti di sini, apalagi saat Dewantara berpamitan untuk pergi sebentar. Dia tahu Kinanti tidak nyaman, tapi karena Dewantara menyuruhnya untuk tetap tinggal di sana, sepertinya anak perempuan itu tidak bisa melakukan apa-apa. Si Dewantara ini sepertinya memang pawangnya Kinanti, fix, Darma langsung yakin saat melihat Kinanti berubah jadi penurut di depannya.

Hening. Tidak ada yang bicara selepas Dewantara pergi. Kinanti sengaja tidak menghadapnya, menatap ke manapun selain dia sambil memainkan ujung rambutnya yang panjang. Darma menoleh ke arah teman-temannya, yang ternyata sejak tadi mengawasi ke manapun dia pergi. Aditya dan Anindita mengibas-ngibaskan tangan mereka, sebuah tanda supaya Darma melakukan sesuatu untuk mengajak Kinanti bicara. Makin lama pemandangan di seberang ruangan itu seperti para aktor yang sedang berakting di film bisu, kibasan tangan dan aba-aba dari mulut yang tak bersuara semakin antusias. Bahkan disela dengan runtukan, dan mungkin sumpah serapah karena Darma tidak berani bergerak.

Akhirnya Darma berpaling dari teman-temannya. Daripada menatap pemandangan yang sama sekali tidak indah dari teman-temannya, Darma memutuskan untuk mengamati Kinanti. Sepertinya ini pertama kalinya dia berada sedekat ini dengan kinanti, tidak sampai satu meter jarak mereka berdiri. Bahkan kalau Darma bergerak sedikit saja, mereka pasti akan bersenggolan.

Terasa sekali ada peningkatan aktifitas di gerak jantungnya. Mengamati Kinanti itu rasanya seperti memandangi singa di taman safari dengan jendela mobil yang terbuka, tidak hanya satu, tapi segerombolan. Berhati-hati Darma mencuri pandang, sebisa mungkin supaya Kinanti tidak merasa dipandangi, dia melangkah agak mundur.

Dibanding anak-anak perempuan di sekolah, Kinanti bisa dibilang tinggi, sekitar 168 centimeter, bahkan lebih tinggi daripada Aditya. Kalau saja pribadi Kinanti seperti anak perempuan lainnya yang lebih mudah didekati, mungkin dulu dia sudah termasuk dalam jajaran anak perempuan yang dia incar jadi pacar. Di dalam kepala Darma mulai mengalun nada-nada musik piano yang mengalun lembut, menemani pengamatannya pada saudara barunya itu.

Kinanti cantik, kulit mukanya halus seperti tidak pernah berjerawat. Dan dia senang punya saudara yang cantik—yang nantinya bisa dia pamerin ke teman-temannya, apalagi dia juga juara kelas. Perfect. Beneran, perempuan macam Kinanti ini sebenarnya harus dilestarikan, karena jarang banget anak perempuan jaman sekarang yang pinter dan nggak banyak gaya seperti dia. Tipe-tipe Hermione Granger gitu. Cuma memang di dunia ini tidak ada orang yang sempurna, ketika fisik dan otak yang begitu ajaib ini disanding dengan ketidakramahan maksimal, Darma semakin yakin bahwa Tuhan itu memang adil.

Sebenarnya akan lebih bagus lagi kalau…

“Apa liat-liat?”

Musik di kepala Darma berhenti mengalun, seketika dia menurunkan matanya ke lantai. “Enggak, cuma mau bilang aja kok, dih galak amat.” Katanya pelan, agak sedikit terkejut karena ketahuan memandangi diam-diam.

“Mau bilang apa?” kini Kinanti memutar badannya, sengaja menghadap kea rah Darma. Nadanya tidak lagi galak, tapi tidak ramah juga. Setidaknya saat itu Kinanti bersedia memberinya perhatian.

Tapi kali ini Darma yang bingung harus menjawab apa, kata-katanya tadi spontan keluar karena terkejut. Ini kesempatan langka, dan mungkin tidak akan terjadi tiap hari. Kinanti mengajaknya bicara, ingin tahu sesuatu. Jadi dia harus menemukan sesuatu yang menarik supaya obrolan ini tidak berakhir hanya dalam satu dua kalimat saja. Tapi apa ya? Darma berpikir.

Oh iya! Dia teringat sesuatu yang akan dilakukannya tidak lama lagi, sesuatu yang sudah dia siapkan bersama teman-temannya.

“Gabung yuk sama kita, bentar lagi gue sama anak-anak mau perform buat ibu sama ayah.” Ujarnya kemudian, betul! Ini ide yang bagus, dia mungkin bisa menemukan spot untuk Kinanti di antara teman-teman band-nya saat mereka tampil nanti.

“Kita?” Kinanti member respon. Kedua alisnya terangkat, sama sekali tidak terlihat tertarik dengan tawarannya. “Lo aja kali sama temen-temen lo.”

Kedua mata Darma melebar, tidak paham. “Eh?”

“Kita itu aku dan kamu. Kalau kamu sama temen-temen kamu, itu namanya kami. Masa bahasa Indonesia dasar gitu aja nggak ngerti.”

Terus udah, gitu aja. Untuk kedua kali Kinanti menyudahi obrolan mereka dengan singkat dan melunyur pergi. Darma cuma bisa bengong menatap punggung gadis itu melangkah meninggalkannya. Dia menggeleng tidak habis pikir. Tadinya Darma berpikir perempuan jutek macam Kinanti itu Cuma ada di sinetron aja, ternyata ada juga aslinya di dunia ini.

Nggak sopan.

Kata-kata Dewantara seketika terngiang, sepertinya kata ramah dan menyenangkan itu mungkin hanya berlaku buat dia aja. Sikap Kinanti sangat jauh dari kata apa yang lelaki itu sebut tadi. Dan apa katanya tadi? Sabar?

Sabar ndasmu, Darma sepertinya harus benar-benar banyak beristighfar menghadapi Kinanti nantinya.

* * *

.

.

.

.

chapter2, yay!

whoever you, kali aja ada yang nungguin epilognya Enchanted plis sabar ya. karena terus terang aja, aku juga bingung endingnya mau digimanain, heheu… buat yang pengen baca main storynya, bisa cek di asianfanfics search aja, in English of course, aku edit biar cerita lebih PG. 😀

Advertisements

15 comments

  1. Oh my god!!!!!! Gak sadar dari awal baca sampe akhir ni mulut ternyata gak berenti nyengir,,,,,,,

    sambil nginget2 cerita forsaken malah keblinger sama enchanted,,,hahaha…padahal baca ini serasa akrab namun lupa2 ingat. Tapi pas inget enchanted baru deh tuh ingatannya mulai terpisahkan antara han jo yg di forsaken sama enchanted.

    duhhhhh,,,,Kinanti jutek bgt sih, kan kasian Darmanya…kak Dista ini bakalan sama plek gak ama forsaken apa beda ending hehehe,,,,mau sama mau beda tetap aku suka hahahahaiiii

    Like

  2. Aduuh, aku gak bisa berhenti ketawa 😀 😀 . Bener2 bikin aku senyum dan ketawa sendirinya. Susah jinaknya kinanti. Seenggaknya, senyum kek ke darma. Emangnya senyum bisa bikin kulit robek sampe telinga? Jadi gemes deh ke kinantinya

    Liked by 1 person

  3. kinanti itu tsundere yg galaknya bgt2 dah tp ujung2nya manis, yakin deh dia pasti punya sisi lembut sm sayang yg blm diketahuin byk orang. Darma emg udh seharusnya cari tau kan? Apalagi mrk tinggal satu atap.
    Their journey is just begin~

    Like

  4. ini ngakak sumpah haha kinanti macem galak galak gemesin gitu nggak sih, sama temennya darma yang cewek itu juga aku suka haha
    jadi sebenernya umur dewantara berapa haha kepo xD
    malah jadi nggak sabar gimana mereka tinggal bareng. suka sama interaksi di cerita ini

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s