[ONESHOT] Bakwan Terakhir

Bakwan_(seafood_cake_with_whole_shrimp)

image credit: here

-aminocte-

Saat ia bersiap hendak memakan bakwan itu, hatinya ragu.

Kemarin lelaki itu bertandang ke pekan buku di kotanya dan kini uang di dompetnya habis tak bersisa. Hanya ada lima ribu yang terselamatkan gara-gara terselip di saku celananya. Lelaki itu amat bersyukur karena setidaknya ia bisa menghabiskan dua ribu untuk jajan dan tiga ribu untuk ongkos pulang.

Jam istirahat kerja masih empat kali enam puluh menit lagi, tetapi lelaki itu tak tahan dengan perutnya yang keruyukan. Maka dikuat-kuatkannya kakinya, dihapus-hapuskannya malunya, dibuang-buangnya ketakutannya. Ia abaikan rekan-rekannya yang menatapnya penuh cemooh. Ia abaikan atasannya yang acap melakukan inspeksi mendadak sewaktu-waktu. Ia pergi keluar kantornya yang mungil. Menyeberang jalan selebar satu meter. Menempuh jalan setapak kecil menuju sebuah kantin kecil di sudut rumah sakit. Harus kantin itu dan selalu kantin itu. Ia tak mau kantin lain, bahkan untuk sekadar membeli bakwan sebiji.

Dua ribu rupiah itu rencananya akan digunakannya untuk membeli sebungkus kacang bawang, tetapi alas! Kacang bawang itu tak ada, barangkali lupa diantar atau malah lupa dibuat. Ia meneguk ludah, menyaksikan aneka gorengan yang panas mengepul; sebagian uapnya mengembun di balik kantong plastik bening, mampu menggodanya sedemikian rupa, menyamai buku-buku yang menggodanya kemarin layaknya gadis-gadis desa yang molek dan pemalu. Namun, godaan-godaan itu tak membuatnya lantas hilang akal. Ia bisa menyisihkan gorengan manis seolah berada ratusan mil jauhnya dari tempatnya berdiri. Yang masih setia di sana, merayunya tanpa ampun adalah pastel, risoles, dan bakwan. Lelaki itu meneguk ludahnya sekali lagi. Si penjaga kantin bertanya kepadanya dengan suara yang renyah seperti biasa.

“Mau beli apa, Dek?”

Kendati demikian, bagi lelaki itu, suara si penjaga kantin tak ubahnya bagaikan ledekan yang menyentrum telinga dan menyulut sumbat emosi. Ia bisa saja membeli kantin ini dengan seluruh isinya, itu yang harus diketahui oleh si penjaga kantin. Ya, ia bisa melakukannya asal ia harus menjual rumahnya. Untuk itu, tentu ia harus bernegosiasi tanpa lelah dengan kedua orang tuanya yang terus mendesaknya untuk menikah. Bila orang tuanya menolak, masih ada cara lain: meminjam dari kantornya. Akan tetapi, rasanya mustahil meminjam uang dari kantornya yang bahkan tidak dilengkapi dispenser itu.

Lelaki itu mengingat-ingat lagi jumlah uang yang ada di dalam saku celananya. Lima ribu rupiah. Dua ribu untuk jajan, tiga ribu untuk ongkos pulang. Sudah syukur ia bisa menumpang motor temannya untuk pergi ke kantor; ia tak ingin merendahkan harga dirinya untuk meminta tumpangan sekali lagi.

“Bu, gorengannya berapa?”

“Serba seribu, Dek. Kan Adeknya juga udah langganan di sini.”

Dua ribu untuk jajan, tiga ribu untuk ongkos pulang, dirinya mengingatkan. Jangan sampai tertukar.

Tangan kanannya meraih pastel dan risoles. Terbayang olehnya kulit pastel yang gurih beraroma mentega dan tumisan kentang berbumbu kari yang menggugah selera. Terbayang pula olehnya kulit risoles bertabur panir renyah dan isian wortel yang manis gurih. Oh, alangkah nikmatnya jika ia mencecap keduanya nanti di kantor, di balik pembatas kubikelnya yang bau cat minyak itu.

Sambil tersenyum simpul, ia menyerahkan uang lima ribu kepada si penjaga kedai. Si penjaga kedai mengintip lacinya yang berisi setumpuk uang beraneka warna, memilih selembar uang berwarna abu-abu, kemudian menyerahkannya kepada lelaki itu.

“Lho, kok cuma dua ribu? Saya kan beli gorengan dua. Dua ribu. Saya bayar lima ribu. Kembaliannya tiga ribu,” protes lelaki itu dengan nada sabar yang dibuat-buat.

“Lah tadi Adek ambil gorengannya tiga. Tiga ribu. Kembaliannya dua ribu,” jelas si penjaga kedai dengan nada sabar yang sesungguhnya.

“Tiga ribu.”

“Dua ribu.”

“Ibu salah lihat mungkin.”

“Nggak mungkin saya salah lihat.”

“Sudahlah Bu, jangan diperpanjang urusan ini. Saya ambil gorengannya dua,” jelas si lelaki sambil memperlihatkan pastel dan risoles di atas telapak tangannya yang mulai berminyak. “Ibu jangan seenaknya mengambil uang saya, dong. Dosa.”

“Adek yang nggak boleh seenaknya mencuri dagangan saya. Sudah mencuri, bohong pula,” ujar si penjaga kedai yang mulai kehilangan kesabarannya. “Saya lapor satpam, mau?”

“Ya sudah. Silakan Ibu panggil satpam. Saya nggak takut.”

Si penjaga kedai tercenung, seakan meragukan kesaksiannya sendiri.

“Mungkin saya salah lihat. Maaf ya, Dek. Terima kasih sudah belanja di sini.”

Lelaki itu bisa saja menghabisi harga diri si penjaga kedai dengan meneriakkan serangkaian ejekan, tetapi ia menahan diri. Ia meminta sehelai kantong kresek hitam, kemudian berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Hei.”

Lelaki itu celingak-celinguk. Beberapa kali ia melihat ke belakang untuk memastikan arah suara, tetapi tidak ada satu pun yang berbicara kepadanya. Semua orang yang dilihatnya sibuk berbicara sendiri.

Saat hendak melanjutkan perjalanannya menuju kantor, lelaki itu bersumpah melihat saku celana kirinya terbuka lebar. Sebuah bungkusan plastik berisi bakwan mengintip dari baliknya.

“Lah, kenapa kau ada di sini?”

“’Kan kau yang mengambilku tadi.”

“Kapan?”

“Tadi, sebelum kau bayar dua gorenganmu.”

“Ah, jangan bohong kau. Sudah jelas tadi aku ambil dua gorengan. Kau saja yang meloncat ke sini tanpa sepengetahuanku.”

Lelaki itu mendengar tawa penuh cemooh. “Setelah menuduh Ibu penjaga kedai itu, kini aku pula yang kau tuduh. Malulah pada dirimu sendiri dan buku-buku yang kau baca itu, Bung!”

“Apa pula urusannya dengan buku-buku yang kubaca?”

“Tentu saja ada! Membaca itu harusnya membuatmu jadi beradab, bukan menjadi penjahat!”

“Seenaknya saja kau mengataiku. Apa buktinya?”

“Tak perlu bukti. Tanya saja dirimu sendiri. Sungguh kau benar-benar mencuri atau tidak? Tangan kirimu itu pasti tahu. Tanyakanlah padanya.” Suara yang tampaknya berasal dari dalam bakwan itu terus merongrongnya. “Kalau tidak, aku akan menuntutmu.”

“Hah, mana ada sejarahnya bakwan bisa menuntut manusia? Omong kosong!”

“Ada sejarahnya. Aku yang akan menciptakannya. Nanti, di suatu masa yang panjang. Kau akan tahu sendiri. Sampai masa itu tiba, kau boleh tertawa. Setelah aku menuntutmu kelak, kau pasti menyesal!”

Lalu senyap. Lelaki itu tersenyum lega. Namun, sebuah sensasi aneh menggerayangi dadanya. Mirip sensasi ketika ia tak berhasil membawa pulang lima buku incarannya kemarin. Apa itu namanya? Penyesalan?

Lelaki itu terduduk di tepi jalan setapak. Ia berbisik kepada tangan kirinya. Benarkah kau mencuri bakwan di kantin itu? Tak ada jawaban dari si tangan kiri. Pemuda itu tersenyum. Barangkali bakwan itu cuma besar omong.

Perutnya bergemuruh. Tanpa pikir panjang, si pemuda mengambil sebuah pastel dari kresek hitam di tangan kanannya. Dua menit, pastel itu habis. Diambilnya lagi risoles dari kresek yang sama. Satu menit, risoles itu habis. Mulutnya penuh minyak dan sisa-sisa kentang kari bercampur tumisan wortel.

Namun, perutnya masih minta diisi. Lelaki itu mengeluarkan bakwan dari dalam sakunya. Tidak seperti tadi, bakwan itu tak lagi meronta. Saat ia bersiap hendak memakan bakwan itu, hatinya ragu. Ia putar lagi pengalamannya saat di pekan buku kemarin. Sebuah buku klasik setebal bantal menggodanya. Harga buku itu tak kurang dari lima puluh ribu rupiah, didiskon atas kemurahan hati penjualnya. Namun, saat itu uangnya sudah habis dibelanjakan. Ia tergoda untuk memboyong buku itu pulang, tetapi apa kata dunia jika untuk mereguk ilmu saja ia harus mencuri?

Bayangkan jika bakwan ini adalah buku. Lelaki itu bersumpah mendengar suara itu dari dalam benaknya sendiri. Bayangkan jika kau menjualnya, kemudian seseorang mencurinya darimu, tetapi berhasil kau pergoki. Namun, bukannya mengaku, ia malah balas menuduhmu memfitnah dirinya. Kau pun ragu dengan kesaksianmu sendiri.

Dengan perut yang masih bergemuruh, lelaki itu kembali ke kantin. Si penjaga kantin menatapnya seakan-akan ia adalah pahlawan yang dinanti-nanti sejak lama, alih-alih statusnya sebagai pencuri yang tak tahu diri.

“Bu, bakwannya—“

“Dek, uangnya—“

Lelaki itu nyaris kehilangan kesabaran karena koinsidensi ini membuatnya muak. Pengakuannya yang seharusnya memberikan kesan kesatria justru dirusak oleh adegan khas serial kejar tayang.

“Bu, bakwannya saya kembalikan. Saya minta maaf karena tadi menuduh Ibu memfitnah saya. Belum saya makan, kok, Bu. Cuma plastiknya saja yang agak lecek.”

Si penjaga kedai malah tersenyum lebar.

“Dek, sebenarnya tadi saya teriak-teriak panggil Adek, tapi kayaknya nggak kedengaran. Uang Adek yang seribu lagi kan belum saya kembalikan. Rencananya nanti saja saya kembalikan kalau Adek ke sini lagi.”

Lelaki itu terdiam. Wajahnya mengeras. Perutnya semakin berisik. Tanpa basa-basi, ia menyobek bungkusan plastik itu dengan ganas, kemudian menggigit isinya dengan buas. Minyak menyembur dari dalam mulutnya. Alangkah bencinya ia kepada bakwan yang besar omong itu. Alangkah bencinya. Memang benar, bukan ia yang mencuri. Si penjaga kantinlah yang menahan uang seribu itu tanpa sepengetahuannya. Ia bersumpah tidak akan membeli bakwan lagi di kantin itu.

“Dek, uangnya—“

Lelaki itu berhenti mengunyah. Ia menatap uang seribuan itu dengan nanar.

“—saya simpan lagi, ya?”

fin

  • Kangen Saladbowldetrois! ❤
Advertisements

16 comments

  1. Perihal uang seribu bisa bikin org galau begini, ternyata.
    Udah Mas, saran saya, yg seribunya dibeliin gorengan aja lag. Trus seribu sisamya dibeliin minum, biar kenyang. Pulangnya jalan kaki deh. Haha..

    Like

  2. cuma kak ami yang bisa bikin tahu, tempe sama bakwan jadi cerita super berfaedah kayak gini. asli deh kak, coba lain kali pake seblak ceker, then I’ll adore you so much more than this hahah

    masa kak dari deskripsi kelaparannya si aku, pengen jajan tapi uangnya harus banget disisihin, perasaan pas liat risoles, pastel sama bakwannya tuh super kegambar, emosinya meradiasi dari hp nyampe ke nabil, nyampe ke nabil kak, sampe ke Jawa Barat, ke Bandung Barat, ke Lembang!!!! crazy isn’t it? how internet works? LOL or no, it’s just you who did your work perfectly ♥

    i love every sentences you wrote, and I always adore your beautiful yet so faedahful/? writings ♥ nabil nemu koinsidensi di atas dan pas liat di kbbi ternyata oh ternyata apakah kak ami lebih sering membuka kbbi dan sinonim kata dibandingkan novel? Bikos nabil selalu dapet kosakata baru dari ceritanya kak ami 🙂 nambah pahala tuh kak hehe 🙂 semangat terosss kak amiiquuu ♥♥♥

    Liked by 1 person

    1. Haloo nabiil ketemu lagi di sini 😀 coba aja aku pernah nyobain seblak, mungkin aku bakal nulis seblak (karena aku nggak tahu rasanya seperti apa haha). Nabiil komenmu membuatku terharu karena emosi yang nyampai ke pembaca adalah hal yang langka dan sekaligus membuatku ikut senang.

      Sebenarnya koinsidensi itu karena aku teringat coincidence yang bisa diindonesiakan jadi koinsidensi, tapi aku ragu makanya cek KBBI dulu haha. Aku masih suka novel kok nabil, cuma sebelum publish khawatir ada kata-kata yang nggak tepat jadi cek duluu. Aamiin semoga jadi nambah pahala juga. Love you nabiil, semangat teruus!

      Liked by 1 person

  3. Dari awal taun bolak balik cek saladbowl gaada tanda2 kehidupan. Eh kak ami kemarin muncul dengan bakwannya. Seneng kali lah akuuuu saladbowl’s still alive! Haha

    Endingny gemes kesel tapi nyesel ya. Udah bela-belain balikin gorengan tautau kembalian ketinggalan. Emosi lah ujungnya gak mikir langsung telen aja tuh bakwan baru ngeh kalo ongkos pulang kurang seribu 😂😂😂

    Liked by 1 person

    1. Duh, aku jadi merasa bersalah sudah mengecewakan (karena jarang ngepost di sini) tapi ke depannya insya Allah kuusahakan. Author lain mungkin sedang ada kesibukan atau urusan jadi jarang ngepost juga.. huhu.
      Iya, aku juga gregetan sama endingnya haha. Bisa-bisanya dia lupa bahwa uangnya masih ada sama penjaga kantin 🙂
      Terima kasih sudah membaca

      Liked by 1 person

  4. Hi, Kak ami! Long time gak sapa-sapa di wp hehe 🙂

    Setuju banget sama Nabil, kayaknya cuman kak ami yang bisa membuat hal simple jadi cerita super berfaedah. Waktu itu juga ada pensil kan? Cantik banget. Terus feel di sini bener-bener diacak-acak, naik turun gitu rasanya, dabest memang kak ami.

    Gak tau siapa yang salah. In a way tetep cowoknya yang gak sadar gitu IMO, hahaha. Dan kalimat terakhirnya sangat amat menarik.

    Keep making something awesome, kak 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s