[ONESHOT] Jangan Dilipat

buku

credit pict: unsplash

by theboleroo/Adelma

“Kadang pertanyaan tak masuk akal harus dijawab oleh sesuatu yang tidak masuk akal juga, kan?”

.

Aku tidak mudah percaya. Bahkan sampai detik ini aku masih tak percaya jika kami sudah berjalan sejauh ini—jauh sekali sampai-sampai titik di mana kami dipertemukan sudah tidak terlihat lagi. Kadang-kadang aku sengaja melihat ke belakang; ada aku dan dia di sana, tampak sangat kecil dan aku harus memicingkan mata untuk sekadar memastikan. Tapi itu memang kami, walau bagaimanapun juga aku tak serabun itu sampai-sampai tak mengenal postur tubuhku sendiri ataupun postur tubuhnya. Kami yang dulu dan sekarang masih sama, meski ada yang berubah kami tak cukup pintar untuk menyadarinya, dan kalaupun kami berusaha untuk mencari tahu di mana letak perubahannya, kami bingung gunanya untuk apa. Jadi, ya sudah, kami biarkan saja tetap begini karena toh tak mengurangi kesenangan kami saat sedang bersama.

Aku masih tidak percaya, bahwa ternyata ada beberapa hal yang saling mengaitkan kami sedari dulu. Ya, ya, ya. Besar kemungkinan ini hanya sebuah konklusi tak penting yang dibuat oleh seseorang yang tengah bahagia karena bisa mencintai dan dicintai seperti aku, tapi serius, kadang aku cekikikan sendiri ketika memikirkannya. “Masa, sih?” atau “Kok bisa, ya?” adalah contoh kecil dari pertanyaan konyol yang kerap kali menghujaniku di saat sesi mikir-mikiran itu berlangsung, dan—seperti biasa—pertanyaan-pertanyaan itu pada akhirnya hanya akan kugantung di udara untuk kemudian dipertanyakan kembali di waktu yang lain.

Well, pada dasarnya kebanyakan pertanyaanku tak pernah benar-benar membutuhkan jawaban—ah—atau mungkin butuh tapi kurang mendesak kalau harus terjawab saat itu juga. Entahlah. Kadang-kadang aku terdiam untuk sejenak yang cukup panjang dan mempersilakan keheningan absurd menginvasi. Tujuannya satu, aku cuma ingin mendengar pertanyaan dalam kepalaku satu per satu. Tentu saja jumlah jemariku masih kalah banyak jika dibandingkan dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Maka aku pun rajin menyortir mereka untuk kemudian kusimpan di dalam laci pertanyaan yang kebetulan belum penuh. Setelahnya—ya—aku akan menyimak kembali pertanyaan itu di lain waktu dan berusaha untuk mencari tahu jawabannya.

Seperti sekarang …

Di suatu sore yang cukup panas, aku mengajaknya keluar untuk ngopi. Agak beda dengan kemarin-kemarin, sore kami kala itu terasa begitu terang sehingga menumbuhkan pemikiran bahwa kami terlalu cepat untuk sekadar menikmati sore. Tapi sudahlah, selisih suhu udara yang tak mencapai sepuluh derajat tentu takkan membunuh kami.

Kami duduk berhadapan, dan ketika kopi favorit kami datang dia meminta izin untuk tidak berbicara selama setengah jam karena ingin menyelesaikan bab terakhir dari buku yang dibacanya. Aku mengangguk setuju, sambil diam-diam memerhatikan matanya yang tengah melahap kata demi kata yang tertera di buku itu. Tenang saja, aku cukup sabar untuk apa pun yang berkaitan dengannya. Jadi tidak masalah.

Tiga puluh menit berlalu, dia pun berkata, “Extra minutes, okay?” dan aku mengangguk ketika membubuhkan brown sugar ke dalam minumanku.

Aku menunggunya sambil memerhatikan keadaan sekitar. Tampaknya cuma kami yang belum bertukar obrolan semenjak mempertemukan bokong dengan permukaan kursi kayu di kedai kopi yang kami singgahi. Penghuni-penghuni lain sudah mulai tenggelam dalam diskusi; sebagian masih pemanasan sedangkan sisanya sudah melebur dalam tawa. Nice.

“Selesai,” katanya sambil menutup buku lalu memasukannya ke dalam tas. “Maaf sudah membuatmu bosan.”

“Tidak masalah,” kataku lantas mengangkat bahu. “Sudah selesai?”

“Sudah. Extra minutes untuk membaca catatan penulis. Aku membaca sampai halaman paling terakhir yang sebetulnya tidak berkaitan dengan cerita.”

“Kau hebat,” pujiku tidak sungguh-sungguh.

“Kita berdua sudah tahu itu sejak lama.”

“Narsis.” Dan dia hanya menanggapi dengan seulas senyum yang biasa saja.

Teringat akan salah satu pertanyaan yang kusimpan di atas laci pertanyaan—yang letaknya ada di sudut ingatan—aku pun menghela napas panjang sambil menerka bagaimana reaksinya saat pertanyaan itu kuutarakan. Tertawa? Marah? Diam saja? Entahlah. Yang jelas aku begitu antusias untuk mengetahuinya. Kendati aku tahu jika ini bukan jenis pertanyaan yang asyik, tapi tak ada aturan bahwa pertanyaan semacam ini harus dihindari, kan?

“Aku ingin tanya sesuatu,” kataku, sedetik kemudian aku merasa kalimat itu terdengar bodoh. “Langsung saja, ya?”

“Aku tahu sore ini agak panas, tapi aku tidak percaya kau akan sebegini canggungnya padaku hanya karena kau ingin menanyakan sesuatu.” Dia menyesap kopinya sedikit sebelum beralih pada kotak rokok yang disimpannya di saku jaket.

“Oke. Jadi pertanyaanya adalah—” ucapanku sedikit tertahan oleh rasa malu—ugh—tapi ini sudah tanggung. “—bagaimana caranya agar aku tahu kalau kau benar-benar mencintaiku? Tolong beritahu.”

Saat pertanyaan itu terekam oleh kedua rungunya, kulihat matanya sedikit melebar. Ekspresinya masih biasa saja; tidak terlihat jijik atau apa, hanya saja—ya—hanya saja aku berpikiran bahwa kala itu dia ingin sekali menelan sebatang rokok yang baru saja dinyalakannya.

“Oh?” tanyanya.

“Kenapa? Pertanyaanku ngaco, ya?”

Dia tertawa kecil, mengejek. “Kapan, sih, pertanyaanmu tidak ngaco?”

Aku membenahi posisi duduk, mengembuskan napas pelan, dan menjawab pertanyaannya. “Kapannya aku lupa, tapi aku berani bertaruh kalau pertanyaanku tidak semuanya ngaco.”

Well, perbandingannya 2:10.”

“Terserah, deh.”

Terlihat dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aku tahu, aku tahu kalau dia kurang suka diseret pada topik obrolan seperti ini. Ah, mungkin suka-suka saja, namun timing yang kurang tepat mengesankan bahwa pertanyaanku tak lebih dari pemuasan ego semata. Tapi kalaupun iya, memangnya kenapa?

“Kesambet apa, sih? Sampai hal yang seperti ini ditanyakan segala?”

“Tidak kesambet apa-apa,” jawabku. “Hei, kau mengerti maksudku, kan? Begini, selama ini aku percaya kok kalau kau mencintaiku. Tapi—ayolah—aku sangat ingin tahu bagaimana caranya aku mengetahui kalau kau benar-benar mencintaiku?”

Laki-laki itu diam, lantas membiarkan punggungnya mengecup sandaran kursi. Mata kami saling bertaut; aku penasaran, dia kebingungan. “Aku harus menjawab apa? Mengerti pertanyaanmu saja tidak.”

Sesungguhnya aku ingin menyublim sekarang juga. Ya, aku juga bingung dengan pertanyaanku sendiri, bahkan aku merasa merasa sangat tolol karena mempertanyakan hal retoris seperti itu. Cara mengetahui dia benar-benar mencintaiku? Sial, memangnya apa yang telah dia lakukan dan berikan padaku tidak cukup jelas? Eksistensi? Afeksi? Waktu? Dan hal-hal yang tak terdefinisi lainnya? Ini gila.

Aku menggeleng. “Oke, sudahlah, lupakan saja. Mungkin benar tadi aku kesambet sesuatu. Tentang sesuatunya apa, aku tidak mau bahas. Oke? Jadi, lebih baik kita lanjutkan acara ngopinya. Kalau ingin pesan makanan, pesan saja. Aku yang teraktir.”

Aku menyesap minumanku, lalu meringis lantaran tadi kebanyakan memasukan gula. Terdengar tak-tuk kecil di atas meja, oh, itu suara telunjuk dan jari tengahnya. Kudapati matanya masih lekat menatapku, ah, menyebalkan.

“Begini,” katanya sebelum mengeluarkan buku yang tadi dia baca dari tasnya. “Kupinjamkan ini padamu, oke?”

Buku itu disodorkan kepadaku; penulis dan judulnya tak kukenal sama sekali. Ya mana mungkinlah? Selera kami terlalu berbeda. Meski tak menutup kemungkinan juga kalau aku akan suka seleranya, dan begitu sebaliknya, tapi tetap saja sampai detik ini kami tak pernah tertarik untuk saling mencicip preferensi. Aku pun menerimanya; menaruh buku itu di samping cangkir kopi, mengelus permukaannya, dan mengeja judul buku tersebut di dalam hati. “Apa aku harus membacanya?”

“Terserah. Tapi yang jelas, kalau kau sudah merasa cukup puas dipinjami, tolong cepat kembalikan.” Dia menghisap pangkal rokoknya lagi, mengembuskan asapnya perlahan melalui celah mulut dan hidungnya. “Kautahu? Sejak setelah aku menyadari bahwa aku suka sekali membaca, aku tidak pernah meminjamkan buku-buku yang kupunya kepada siapa pun termasuk orangtuaku. Aku lebih rela meminjamkan seluruh uang tabunganku ketimbang meminjamkan bukuku.” Dia tertawa kecil, “Aku tahu ini absurd, tapi aku jujur.”

Butuh beberapa menit buatku untuk mencerna hal ini, sampai akhirnya aku pun memberanikan diri untuk menarik satu kesimpulan. “Apa ini berkaitan dengan pertanyaanku barusan?”

Dia menghela napas yang cukup panjang, semoga saja bukan karena jengah karena kelambatanku dalam berpikir. “Iya,” jawabnya sedetik setelah menganggukan kepala. “Kadang pertanyaan tak masuk akal harus dijawab oleh sesuatu yang tidak masuk akal juga, kan?”

Aku tersenyum mendengarnya. Segera kuambil buku itu, membolak-balik halamannya secara asal untuk sekadar tahu warna kertas dan jenis font-nya. Ya. Dia memang sedang berusaha menjawab pertanyaanku yang rumit dengan cara yang sederhana, dan untungnya aku mengerti, kalau tidak? Bisa-bisa dia menyiram kepalanya sendiri dengan dua cangkir kopi yang ada di meja kami—hahaha—tidak, tidak. Itu hanya khayalan tololku saja.

“Tapi …”

“Tapi apa?”

Serta-merta matanya langsung tertuju pada buku yang tengah kupegang—tatapannya mendadak begitu protektif. “Jangan dilipat,” katanya. “Jangan pernah berani melipat selembar pun kertas dari buku itu.”

Sial, membatasi bacaan dengan cara melipat kertasnya, kan, adalah kebiasaan burukku?

“Kalau … dilipat?” tanyaku, ekstra hati-hati.

“Kita putus,” jawabnya enteng sebelum mengadukan ujung rokok dengan permukaan asbak.

-fin.

  1. Sesungguhnya ini di bawah ekspektasiku. Sekian lama gak nulis, berharapnya sih menulis yang lebih baik dari ini, tapi apa daya sanggupnya cuma segini.
  2. Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kritik dan saran sangat ditunggu.
Advertisements

17 comments

  1. Ah, sukaaa. Mulai baca separagraf udah nebak-nebak ‘Duh, ini subjeknya apa yah kira-kira?’ sempet ngira ini yang lagi ngomong buku loh. Lalu di tengah-tengah bimbang. Woah kayaknya orang beneran ini yang lagi narasiin. Dan yah, mereka mungkin memang sepasang kekasih. Anyway, cara si cowok memperlakukan buku kayak aku. Jangankan ngelipet, buka halaman aja hati-hatinya luar biasa.
    Suka sekali, semangat nulis terus, Kak…

    Liked by 1 person

  2. Meski bilangnya lama gak nulis tapi menurutku ini enak banget dibaca. Aku baca dari awal paragraph udah kepo dan akhirnya sampe akhir juga wkkw. Btw ‘mas’nya sama kek aku, kalo minjemin buku ke orang mesti pake syarat gaboleh lipat kertasnya. Dan jujur aja suka sebel kalo bukunya balik dengan bentuk gak kayak pas minjemin /curhat/ wkwk.

    Semangat nulisnya ya kaak

    Liked by 1 person

  3. Pas baca di awal, udah ngeh kalo si aku ini cewek, tapi di pertengahan waktu si cowoknya minta waktu buat nyelesein bukunya, lho kok rempong amat, ditambah pembawaan si aku jadi kek emas2. malah jadi ketuker gender. Tapi, dibaca lagi, akhirnya beneran kan si aku ini ceweknya. Hehe Maaf komennya rada muter2, salam kenal kakak… 😀

    Liked by 1 person

    1. haha memang gak dijelasin sih mana cewek mana cowoknya. tapi kalo diperhatikan dari gesture dan narasi, kayaknya kalo cowok gak akan semenye itu deh. terima kasih ya udah baca dan berkomentar 🙂 salam kenal juga ….

      Liked by 1 person

  4. Waaah, ini keren sekali ceritanya. entah kenapa aku suka, hahaha. awalnya baca ficletnya, eh malah jadi penasaran sama cerita sebelumnya. terima kasih untuk ceritanya, semangat berkarya ya, Kawan. salam kenal 🙂

    Like

  5. halo kak nisa! ya aku tahu ini kak nisa setelah lihat username theboleroo-nya, haha.
    (hm kak nisa pasti bertanya-tanya, ih ini reader SKSD banget manggil kak nisa2, tapi yang jelas aku emang udah ngefans sama kak nisa sejak di IFK. wkwk. intinya aku ini penggemar fiksi kak nisa, yey)
    well, yang jelas ini bukan khayalan tololku (aku suka sama semua pemilihan kata di fiksi ini sampe terkontaminasi ke kolom komentar, haha) karena sungguh fiksi ini worth to read sekali! aku tak ingin menilai karena aku bukan juri golden memories di Indosi*r 😀
    aku datang ke sini hanya untuk menikmati~tsahhh

    anyway, terimakasih atas fict-nya kak nisa~
    tetap semangat berkarya yey~

    Like

  6. Gimana atuh suka banget 😦 Aku jatuh cinta sama tulisan theboleroo semenjak ff Kris-Jill dulu (sampai sekarang itu salah satu ff terbaik yang pernah aku baca, sungguh deh). Setiap baca tulisan Kakak aku selalu bisa bayangin situasi, ekspresi, sampai segalanya huhuhuhu. Hope to see more original fiction from you in the future ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s