SALADBOWL CONTRIBUTOR PROJECT – #1

Pada Sebuah Pengakuan

by : rineema

.
—Kau sudah mengenal, tapi gagal memahami. Terkadang aku heran kenapa kau bisa menjadi orang yang tahu-segala.—

.

~***~

.

Suatu hari aku bertemu denganmu. Bukan untuk kali pertama, tapi di sanalah aku mengenalmu. Di sebuah organisasi acara.

Si lelaki pendiam. Cemerlang, meluap-luap, cerdas.

Perlahan menebar jerat tak terlihat.

Ketika percakapan tidak lagi melulu soal teknis dan revisi acara. Jerat pertama.

Ketika Fate/Stay Night dan Star Wars menggantikan segala macam persoalan kuliah. Kedua.

Ketika kau tidak lagi menjadi ‘Teman-Seberang-Kelas’ karena memilih duduk di sampingku. Ketika label ‘Orang-Sedih’ runtuh seiring banyaknya senyum yang kaulemparkan untukku.

Ketiga, keempat.

Kemudian ada jerat yang tak terduga. Melebar dan meresap dalam tiap kefokusanku, kelemahanku. Saat berikutnya aku sudah terbelit dalam duniamu, dalam racikan emosi dan rasa kebebasan.

Kata.

Sejak saat itu aku tahu harus terbiasa dengan kehadiranmu karena aku pun ingin terbiasa hadir di sekitarmu.

.

.

Lalu,

.

.

suatu hari kau bertanya

“Terbuat dari apakah perempuan?”

.

.

Dan aku hanya diam. Tak sanggup mengungkapkan apapun.

Lama, lama setelahnya. Pada hari lain setelah aku memahami pertanyaan itu.

Padamu aku ingin bertanya

“Apa itu cinta?”

~***~

Hujan membawa pertanyaan terakhir hadir tanpa suara. Berputar dalam ruang baca yang hangat, di antara dua manusia yang duduk saling membelakangi. Sang gadis dengan atensi penuh pada tiap bulir hujan yang berjatuhan di belahan lain jendela. Sang lelaki dengan pikiran-pikirannya. Keduanya membiarkan hening mengambil alih.

Setelah beberapa tarikan napas, sang lelaki tahu keheningan harus dipecah, olehnya.

Draft awal?”

“Bukan. Curahan hati ‘Aku’.”

“Oh.” Sang lelaki tidak yakin bisa menjawab dengan lebih baik.

“Kau kuminta kemari bukan untuk berkomentar sesingkat itu.” Helaan napas tak sabar sengaja dikeluarkan sang gadis. “Jadi?”

“Mengikuti caramu menulis selama ini, ‘Aku’ akan menemukan seseorang yang lebih baik.”

Sang gadis mendengus.

“Mengikuti jalan ceritanya, ‘Kau’ akan menyadari kesalahannya dan pergi.”

Hening kembali. Lebih singkat, tapi bahkan hujan tahu keheningan itu telah membuat udara terasa lebih berat.

Jangan asal membuat. Kenali tiap bahan, pahami karakter mereka. Pastikan tiap racikannya akan membawa pada hasil yang memuaskan.” Sang gadis tersenyum sinis pada jendela di hadapannya. “Ternyata sang chef sendiri menolak kata-katanya untuk cerita sesederhana ini.”

 “‘Aku’ adalah cermin,” tukas sang gadis, “Diam, memperhatikan lalu akan menjadi refleksi orang lain. Sering membual dapat memahami semua orang padahal ‘Aku’ hanya memperhatikan terlalu dekat. Tukang penasaran. Ketika rasa penasaran menggelitik maka akan digali sampai akar. Ketika ‘Aku’ menemukan rasa menggelitik dari ‘Kau’ maka ‘Aku’ berusaha mencari cara—

“Di saat berikutnya ‘Aku’ sudah terlalu memperhatikannya.”

Atensi sang gadis terpecah tak fokus pada jendela. Sama sekali tidak menyadari kekosongan ruang di sampingnya telah diisi.

“Kau menangis.” Sang gadis terkejut.

“Kau, kan, tahu kelenjar air mataku tidak pernah berteman baik dengan emosiku.” Gerakan terburu sang gadis untuk menghapus jejak air mata cukup menjadi jawaban yang lebih tepat.

“Tolong jelaskan bagaimana karakter ‘Kau’ dari sudut pandangmu.”

“Terlalu bergantung pada ‘Aku’. Terlihat dari sikapnya yang mulai membuka rahasia.” Pandangan mengintimidasi sang gadis membuat sang lelaki tertegun sejenak, “Karena… ‘Kau’ akhirnya menemukan sosok yang peduli dari ‘Aku’.”

“Dan apakah ‘Kau’ akan membiarkan ‘Aku’ pergi? Bisa baik-baik saja tanpa ‘Aku’?”

Sang lelaki mengambil waktu sejenak untuk menjawab, “Tidak.”

“Keduanya tidak bisa pergi karena alasan yang berbeda. Bagus.”

Sang gadis menyambar buku mungil biru dari tangan sang lelaki, mulai menorehkan tinta di atasnya. Mengabaikan sama sekali sang lelaki di sampingnya sampai terkikik sendiri oleh dunianya.

 “Aku tidak percaya hari ini akan datang. Rupanya kau juga bisa sembarangan. Absolutely delicious!”

Sang lelaki mengacuhkan nada sinis dalam kalimat sahabatnya. “Bagaimana akhir kisah ini?”

“Sebelum itu,” Sang gadis menutup bukunya dan kini menatap penuh pada sang lelaki, “Apa jawaban pertanyaan tadi?”

“Cinta adalah… perasaan ketika kau mulai melihat sesuatu dengan sudut pandang berbeda, membuatmu merasakan hal yang berbeda setiap saat, tetapi kau tetap ingin merasakannya lagi dan lagi. Lingkaran yang tidak akan berhenti.”

“Oh, aku mulai khawatir kau memang keturunan cenayang. Kata-katamu persis seperti yang ada di kepalaku.”

 “Bagaimana akhir kisah ini?” ulang sang lelaki, merasa tidak nyaman dengan tiap detik yang digunakan sang gadis untuk mengulur jawaban.

“Karena keduanya tidak bisa pergi karena alasan masing-masing, karena keduanya membutuhkan satu sama lain, keadaan mereka akan tetap seperti itu adanya. Tapi karena ‘Aku’ tahu hal itu tidak akan merusak persahabatan mereka, maka ‘Aku’ akan mengakhiri kisah ini dengan caranya—

“Aku mencintaimu, hanya itu yang ingin ‘Aku’ katakan.”

Hujan masih setia turun, tampaknya terlalu menikmati interaksi keduanya.

“Ada yang namanya elemen kejutan. Bisa saja pengakuan tadi membuat segalanya berubah.”

“Kita berdua tahu kemungkinannya pun masih tak jelas.” Sang gadis menaikkan alisnya, “Walau harus diakui aku menunggu sesuatu setahun ini.”

Baka.” Sang lelaki menepuk puncak kepala sahabatnya, antara gemas dan geli.

Kembali hening, tapi kali ini lebih ringan. Mendadak keduanya menjadi tertarik pada tiap tets hujan, mendadak tidak lagi keberatan dengan kehadiran satu sama lain. Lalu tiba-tiba, sang lelaki menoleh.

“Hei, aku menemukan elemen kejutannya.” Sang gadis menoleh dan hanya memberikan tatapan bertanya pada wajah sang lelaki yang sumringah, “Ini semua hanya mimpi.”

Kembali sang gadis mendengus. “Aku paling benci sifat tahu-segalamu di saat seperti ini.”

Lalu sang gadis membiarkan bibirnya menjangkau bibir sang lelaki.

.

.

.

“Biarkan saja aku mengaku, Idiot.”

.

~*END*~

.

.

  • Terinspirasi dari judul episode 1 anime Hourou Musuko (2011): What Are Girls Made Of?”

 

 

Advertisements

9 comments

  1. Halo rineema. Hmm, gimana ya ngomongnya?
    Aku perlu baca ini dua kali. Selain karena ngga nangkep apa intinya (di pembacaan kedua aku udah paham. Ternyata ada kalimat yg ambigu di kalimat “aku adalah cermin”. Aku kira si tokoh “aku” yg mereka bahas itu cermin beneran xD), nah selain itu adalah dialog mereka yang posisinya menurutku agak nggak pas.

    Jadi letak penjedaan kalimat antara sang gadis atau sang lelaki yang bicara itu agak membingungkan (apalagi pas di belakang kalimat ngga ada penjelasan “kata”, “ujar”, dsb). Bukan berarti aku mewajibkan adanya tambahan sejenis kata, ujar, ucap, dll itu. Tapi aku lihat kamu kurang rapi dalam peletakan dialog.

    Tapi ceritanya bagus kok. Dialog yang kamu susun itu unexpect (diluar kebingungan karena tata letaknya), mirip dengan novel luar negeri yang setiap tanya jawab antar tokohnya ga ketebak sama pembaca. It’s very well orific. Keep writing, dear ^^

    Liked by 1 person

    1. eh, halo, niswaa. ingatkah siapa diriku? yah aku cuma pernah muncul di twitter sekali dan itu cuma tanya tentang fanfiksimu sih. hehe.
      dialognya ga rapi ya? akhirnya ada yang mengatakannya :”) ceritanya memang aku lagi coba bikin dialog yang beda dengan makna tersembunyi dan letak yang membingungkan. mau tahu gimana hasilnya dan ternyata aku masih perlu belajar banyak 🙂
      terima kasih sekali kritiknya! semangat nulis juga buat kamu, niswa 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s