[ONESHOT] Sabers War

sekai

– distadee & Chocokailate –

.

.

.

“Kalau aku mati, apa kau akan menangisiku?”

Jongin hanya tersenyum ketika pertanyaan itu terdengar. Matanya berkejap, sekali dua kali, rasanya agak pahit setelah semalaman gagal melelapkan diri. Dia tidak salah dengar, dan meski Sehun kadang bisa jadi sedikit absurd, pertanyaan itu tetap terasa asing.

“Kau tidak akan mati.” Jongin menjawab singkat, ala kadarnya.

“Jongin. Manusia akan mati pada akhirnya. Aku akan mati pada akhirnya.” Kalimat itu masih disampaikan dengan nada yang sama. Datar. Khas seorang Oh Sehun.

Alih-alih menjawab, Jongin menggerakkan kepalanya sedikit, menyapu pemandangan di kanannya dari balik bahu. Hampir tidak ada yang bicara. Di padang pasir yang luas ini, seharusnya sulit baginya untuk melihat dengan jelas wajah mereka satu-persatu. Anehnya orang-orang itu tampak sama. Barisan manusia berdiri tegak dalam keheningan, ketegangan, seolah sedang menunggu vonis mati yang tidak pasti.

Mereka akan berperang. Dan ini akan menjadi pergempuran terbesar sepanjang sejarah.

Jongin lalu menyentuh pipinya yang dingin. Sudut matanya berkedut beberapa kali, membuat bekas luka kemerahan dari pertarungan sebelumnya terasa gatal. Kemampuan berkelahi Sehun sangat meningkat dibanding lima tahun lalu. Kini kemampuannya bergerak dan berpindah dengan cepat tidak lagi jadi tantangan bagi Sehun untuk menggores wajahnya dengan mata pisau, meninggalkan gurat tipis di tulang pipinya yang tidak bisa berhenti mengeluarkan darah semalaman.

“Kau tidak akan mati.” Jongin mengulangi pernyataannya. “Tidak hari ini.” Ketika Jongin menoleh pada teman di sampingnya itu, Sehun hanya mendengus. Bila saat itu Sehun ingin tersenyum, Jongin yakin anak itu sedang menahannya sekuat tenaga. Begitulah lagaknya.

Jongin telah mengenal Sehun sejak, bisa dibilang, mereka mulai belajar membaca alfabet. Umurnya lima tahun ketika seorang master jedi menjemputnya di rumah dan membawanya ke sebuah tempat di mana para ksatria berpedang pendar berlatih perang. Di sana Jongin bertemu dengannya, berlatih dan belajar bersama bertahun-tahun untuk menjadi seorang jedi.

Mereka sedikit dari beberapa padawan dengan kemampuan transendental yang masih bertahan di dalam perserikatan. Pertemanannya bersama Sehun semakin erat ketika seorang yang lain terjun bebas dalam kegelapan. Dan kini, kemampuan khusus itu mengukuhkan mereka berdua menjadi jedi terbaik di antara yang ada. Sehun adalah makhluk terdekat, jauh lebih dari seorang saudara untuknya.

Dan Jongin tidak akan membiarkan orang terdekatnya itu mati. Tidak hari ini.

Langit semakin gelap. Jongin mendongak sekilas, memandang hamparan biru yang pucat kini mulai tergantikan dengan awan gelap yang bergerak cepat ke tengah-tengah lautan manusia. Dengung rendah yang khas menyadarkan Jongin bahwa beberapa ksatria di belakangnya mulai menyalakan pedang mereka.

“Gugup kau kurasa, Jedi muda?”

Sepertinya bukan hanya Jongin saja yang menyadari perubahan cuaca yang tiba-tiba ini. Master Yoda mengutarakannya tanpa menoleh ke belakang.

Yang ditanya tampaknya tidak begitu sadar apa yang telah dia lakukan, karena begitu Sehun mendongak, seketika cuaca kembali tenang seperti semula. Awan gelap menghilang pelan, dan hawa tidak lagi sedingin sebelumnya.

“Maaf, Master,” Sehun berkata ringan pada para master di depannya, lalu menggerakkan tangannya seolah memberi tanda ke belakang barisan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Setidaknya saat ini.

“Perang tidak selalu buruk. Pikirkan yang terbaik kau harus, takut jangan. The Force akan melindungi kita semua.” Sang master jedi berkata lagi, angin membawa suaranya hingga ke ujung belakang barisan agar seluruh petarung mendengarnya. Gumam kalimat terakhirnya sahut-menyahut terlontarkan.

Jongin diam saja, begitu juga Sehun.  Dia tahu bukan itu masalahnya. Dia ingin tersenyum, tapi bibirnya terasa kaku. Saat ini seakan-akan dia bisa merasakan keprihatinan temannya. Mereka sepertinya memikirkan hal yang sama.

Sehun menoleh ke arahnya.

“Kau akan baik-baik saja, Jongin. Kau jedi yang kuat, kegelapan bukan tandinganmu” Tuturnya serius. Sehun tidak biasanya menyanjungnya seperti ini, sama sekali bukan gayanya.

Dan tentu saja kalimat itu membuat Jongin heran, ketika hendak bertanya ada apa, ternyata dia tidak perlu payah-payah melakukannya.

“Awan gelap itu mengatakan segalanya. Emosimu mempengaruhiku.”

Tidak ada yang bisa mengontrol emosi sebaik Sehun, Jongin sedari dulu mengamini. Kemampuan Sehun mengendalikan angin muncul saat mereka menerima pedang pendar pertama mereka—Lightsaber mereka menyebutnya, di saat yang sama Jongin mulai berpindah-pindah tempat secepat kilat. Master Yoda menjelaskan bahwa pedang itu memiliki semacam penggali bakat yang membangkitkan kekuatan alam dalam diri mereka.

Mereka yang menunjukkan bakat khusus ini, dilatih lebih intensif dan hati-hati, karena – katanya – mereka lebih rentan distraksi. Terbukti saat salah seorang di antara mereka menghilang di kegelapan lima tahun yang lalu, mereka seolah kecolongan. Para padawan kehilangan salah satu yang paling kuat, Sang Penduplikat. Yang mungkin akan mereka hadapi hari ini.

Jongin menggarisbawahi kata-kata Sehun dengan sungguh-sungguh, dan berusaha lebih untuk mengendalikan emosinya. Dia sudah berhenti jadi anak yang cengeng bertahun-tahun lalu, semua orang tahu sejarahnya dan kepentingannya di pertarungan ini. Bila Sehun bisa merasakan emosinya, dia yakin para jedi lainnya pun begitu.

“Dia akan bertarung hari ini, kaupikir?” ujar Sehun lagi tanpa terdengar seperti sebuah pertanyaan, Jongin mengangguk menjawabnya.

Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan cepat.

Masa lalu tidak akan membuatku lemah.

.

Sang penduplikat dulu Jongin panggil dengan nama aslinya, Luhan. Dia yang menjadi pemicu Jongin untuk menjadi lebih kuat lagi mengasah kemampuannya. Karena Luhan memang memiliki kemampuan istimewa untuk meniru kemampuan orang lain hanya dengan menyentuhnya.

Dulu mereka selalu bermain-main tiap kali latihan. Luhan akan mengerjai Jongin dengan beradu paling kilat dalam berpindah tempat, membuat Jongin kesal dan akhirnya tergelitik untuk mengerahkan seluruh kemampuannya agar bisa menandingi Luhan. Dia bisa dibilang menjadi sahabat, mentor, dan partner terbaik Jongin, sebelum akhirnya sisi kegelapan merebutnya dari sisi Jongin.

Sebenarnya Jongin sudah punya firasat tentang itu sejak pertama kali bertemu dengan Luhan. Dengan kekuatan seistimewa itu, akan mudah bagi temannya itu untuk tersedot ke sisi gelap yang menawarkan agungnya kekuasaan. Kekuasaan yang membutakan dan membinasakan kemanusiaan.

Jongin rindu hari-hari yang dulu, kalau boleh dibilang. Perang dan membunuh orang tidak pernah menjadi aktifitas favoritnya sepanjang masa, masa-masa perseteruan antar makhluk beberapa tahun ini memperburuk segalanya. Dia rindu masa kanak-kanaknya, saat dia bermain permainan ‘laki-laki’ bersama teman-temannya di kem pelatihan. Dia rindu bersepeda di musim panas, menikmati angin hangat yang Sehun kekang.

Dia rindu ibunya, kakak-kakak perempuannya, juga anjing-anjingnya. Dia rindu makan malam keluarga yang tenang, tanpa ketukan kalut di pintu atau perintah siaga. Dia rindu damai.

Jongin sepertinya sudah lupa kapan terakhir kali dia meletakkan sabernya di atas meja dan meninggalkannya sejenak saat membersihkan diri, atau tidur sedikit. Dia tidak ingat kapan terakhir kali berjalan-jalan bersama para anjingnya menyusuri taman hijau di dekat rumah orangtuanya, atau berbalapan motor bersama Sehun saat malam.

Perseteruan melawan rezim kegelapan ini makin runyam sejak para petarung mereka menyusup ke dalam dewan senat, lalu entah bagaimana kekaisaran kini menjadi penggemar nomor satunya. Ini peperangan besar, hari ini nasib makhluk hidup di seluruh alam semesta bergantung pada kemenangan mereka. Di padang yang luas ini para pelindung masa depan siap berdegap, dari para master, laskar jedi, hingga para padawan bersumpah untuk beradu sampai mati.

Langit kembali gelap. Kini lebih cepat, awan bergumul di atas kepala mereka pertanda badai, menerbangkan ujung jubah-jubah para wira yang bersibaku dengan angin kencang. Lalu kabut menyelimuti pandangan mereka. Hawanya sungguh tidak mengenakkan.

“Yang ini bukan ulahku,” ujar Sehun saat Jongin menoleh padanya seketika, mempertanyakan kehadiran angin ribut dan selimut kabut.

Bersamaan dengan pernyataannya, para master di barisan depan waspada. Pedang-pedang mulai berpendar, menampakkan sinar laser yang memanjang dari ujung-ujungnya. Jongin mengeluarkan lightsabernya dari saku jubah, menyalakan pemantiknya. Sinar biru menyala terang dari pedangnya yang mematikan.

Lalu perlahan, dari kejauhan Jongin melihat mereka. Samar-samar muncul para ksatria lain menembus pekatnya selimut pirau kelabu. Barisan memanjang yang melangkah garang, pendar kemerahan menyala nanar dari anggar yang siaga.

Dan di antara mereka Jongin melihatnya.

Sang Penduplikat yang melegenda.

“Jongin. May the force be with you.” Kalimat terakhir Sehun sebelum segalanya dimulai.

May the force be with us.

Gumam terakhir yang terucap sebelum Jongin bertemu mata dengan Sang Penduplikat, lalu biru saber-nya beradu dengan nyala merah sang teman lama.

.

.

.

[2015]

di antara kamu mungkin ada yang nggak ngikutin Star Wars, jadi nggak begitu paham dengan beberapa istilah yang dipakai di atas. Jadi aku kasih penjelasan umumnya ya.

Plot utama Star Wars cerita tentang perjuangan dan pertarungan antara The Force dan The Dark Side, lebih gampangnya perseteruan good vs evil. Jedi adalah mereka yang terpilih dan dilatih untuk menyeimbangkan tatanan semesta alam dari kegelapan, so jedi is not someone’s name, it’s somekind of a troop ;p. Jedi dilatih untuk selalu berbuat baik, menahan hawa nafsu dan memerangi rasa takut. Mereka dilengkapi dengan pedang pendar yang melegenda, kamu pasti kenal yang namanya lightsaber. Ya itu, picnya banyak di google, hehehe…

.

persembahan terakhir tahun ini, akhirnya bisa juga nulis kolaborasi

if you like it, let us know 🙂

Advertisements

14 comments

  1. suka banget kak!
    Alhamdulillah aku juga suka star wars jadi bisa ngikutin alurnya. Sehun sama Jongin ini kok kayaknya cocok banget jadi jedi di bayangan aku, ganteng-ganteng lucu gimana gitu -jadi ngawur
    hahaha

    Pokoknya two thumbs up buat fic ini 😀

    Like

  2. akhirnya gimana???? mungkin akhirnya Sang penduplikatpun takluk karena melawan sem bi lan jedi yang tersisa di planet exodus, lalu sang penduplikat menyerahkan diri bersama sekutunya si naga (kris) dan pemberhenti waktu (tao), mereka pun membuka new world yang damai dengan para exo-l =okeh ini delusional=

    uuuu akang thehun sama aa jongin jadi jedi yaaaa li li li li li light saber ooyeah xD

    ini seru serasa saya yang mau perang heheheh

    Like

  3. Halo Ka Dista. Sepertinya sudah lama semenjak Ka Dista menulis dengan cast idol ya? (Atau mungkin aku yg udh lama nggak baca disini hehe). Kangen sama tulisan Ka Dista sama Ka Hilda. Aku nggak begitu mengerti tentang bahasa dan tata penulisan. Yang aku tahu pasti, tulisan Ka Dista dan Ka Hilda jarang yg mengecewakan (gak ada sih paling kecewa sama endingnya hehe). Dan maafkan, aku lebih sering jadi silent reader disini hehe. Salam kenal kakak berdua :))

    Like

  4. Walaupun aku gak terlalu mengikuti star wars segila aku mengikuti harpot, tapi gegara minggu2 lalu ada star wars di global aku nonton ep 1, jadi cukup mudeng lah,,,,

    akhirnya terjawab sudah bayangan sehun, kai dan luhan versi ksatria jedi,,,,hahahaha….
    keren juga kok sama kerennya kayak sehun di slytherin…😋😋😋

    Like

  5. Suka bangeeet. SeKaiLu!! Kumpulan cogan, aku bisa apaaa! Aah ya ampun, semua hal yang nyeritain tentang ‘teman lama’ di sini bikin baper. Ya, udah ketinggalan banyak seri Star Wars tapi paham kok beberapa istilah2 di sini. Dan part ini: Gumam terakhir yang terucap sebelum Jongin bertemu mata dengan Sang Penduplikat, lalu biru saber -nya beradu dengan nyala merah sang teman lama. Asdfksslhsyshlg keren sekali T__T. Butuh kelanjutannya sih tapi gini aja udah ngena.

    Like

  6. Kakak ada rencana lanjutin ceritanya ga? Sumpah rindu banget sama tulisan kakak soal luhan dan jongin. Keep writing dista dee!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s