[AUTHORS’ PROJECT] Jarak

Jarak

JARAK

-azureveur

© 2014

.

.

 

Dear Rika,

Surat ke tiga ratus tujuh puluh kutulis di atas pangkuan travertine, menunggu underground mengangkut kami menuju destinasi terakhir. Piccadily nyaris saja menjadi episentrum baru saat Greg memetik lantunan chord dari single terbaru kami. Tapi, yang paling menakjubkan adalah momen ini, momen kala aku pulang—ke kondoku, tentu saja—setelah sekian lama tidak menulis surat untukmu.

Aku harap kabarmu baik-baik saja, Rika. Untuk sekian lama aku langut akan masa itu …

 

Bullshit! Aku nyaris membanting iPad, setelah terpaku pada kata-kata busuknya. Ia memang brilian, kala pertama bertemu hingga terpelet oleh lirik-lirik elok ciptaannya. Ya, pria itu memang pandai menggombal. Menyematkan akronim “S” di akhir surat, seolah-olah hubungan kami kepalang akrab.

Surat sampah ke tiga ratus tujuh puluh yang tak pernah masuk ke spam dengan sendirinya. Aku mendengus sejurus; menyundut Skoal pertama pagi itu. Membiarkan mesin kopi mendengung cukup lama. Merembeskan sedikit demi sedikit cairan hitam pekat di dinding drip pot.

Kaki-kaki sahih itu menggerataki linoleum dapur. “Morning, Rika.” Seolah khatam dengan ritual pagi hariku, tangan cekatan Jeff meletakkan dua cangkir kopi hitam di atas meja.

“Pagi, Jeff,” suaraku lesu; membumbui cangkirnya dengan takaran dua setengah sendok teh brown sugar.

Jeff mengecup ubun-ubunku singkat, mengganjur koran pagi yang celentang di atas meja. “Ada masalah?”

Aku tahu dirinya yang masih separuh sadar, duduk bertelanjang dada dengan gigi-gigi yang mencuat sesekali, melihat kolom Klasika[1]. Jeff sudah keranjingan Woody Allen saat umurnya lima tahun; dan alasan mengapa kami dapat duduk berdua, mungkin lantaran premis yang sama. Ia bukan pacarku—terlebih suami—ya … sama sekali bukan. Kendati aku pernah tertarik padanya tiga tahun lalu. Ia duduk di divisi kreatif dan aku seorang copywriter. Kubikel kami hanya berjarak lima meter, dan aku sibuk mencuri lihat ke arahnya sejak hari pertama. Tapi Jeff bukan tipeku, tentunya sejak aku menyimpan sedikit rahasianya. Aku pindah ke dalam kondonya dua tahun lalu. Kami terlalu lekas akrab seperti minyak dan air, sedikit cekcok tapi menyarati satu gelas penuh. Jeff banyak cerita tentang kekasihnya. Dan orangtuanya yang jengah tentang status anak tunggal mereka. Ibu sempat panik sejurus, mendengarku mengadakan konsolidasi kondo sepihak dengan rekan kerja priaku, tapi saat aku menjelaskan segalanya, untung saja ibu mau mengerti.

Aku menyesap dalam-dalam rokokku hingga asapnya merajam paru-paru.

“Surel itu lagi ya?” Jeff sudah mengintip ke layar iPad tanpa kusuruh.

Aku buru-buru merebut tablet lencir itu dari tangannya. “Hush.” Menyerput kopi dengan lekas.

“Sampai kapan kamu mau menghindar sih, Rika?” Ia melirik sesekali ke arahku, ganti membaca tajuk di lembar depan. Aku tertegun, meletakkan cangkir lamat-lamat.

Aku tidak menghindar, ujarku dalam hati. Kendati jengah, aku tahu, Jeff benar tentang semuanya.

“Aku heran padanya, aku tak pernah membalas surel-surel itu, Jeff. Tapi, dia tidak mau berhenti. Dia di London dan aku di Jakarta. Biar kutegaskan, bukan aku yang melarikan diri, tapi pria bangsat itu, Jeff,” tandasku dengan suara nyaris habis. Pagi itu sungguh hari banal ketiga ratus sekian untuk surat yang ia kirim dan selalu kubaca hingga perih hati.

“Rika, please … aku tidak ingin mencampuri urusanmu, tapi ya, setidaknya kamu perlu melihat niat baiknya.”

“Maksudmu?” Aku meletakkan puntung itu berjinjit di sembiran asbak.

“Kamu baru membaca separuh halaman.” Jeff melengos ke arah microwave.

“Aku gak pengin melanjutkannya,” dengusku, bersedekap. “O ya, daripada berbincang mengenai si Tolol itu, bagaimana dengan keadaan Devon?”

Oukey, sesungguhnya aku benci cara kamu memutar arah pembicaraan, Rika.” Ia menyembul begitu saja dari arah belakang, membawa dua spinach quiche di atas piring. “Devon sudah baikan. Demamnya sudah turun.”

“Jadi, kamu harus bolos kerja lagi untuk hari ini?”

Jeff mengedik. Aku turut prihatin tentang Devon. Serangan gejala tifus dua hari lalu membuat kami kehilangan satu personil trio. “Take your time. Aku bakal bilang ke Dimas kok. Dia pasti mau ngerti,” sahutku.

“Aku sudah mengambil cuti seminggu, Rika. Untuk jaga-jaga.”

Sekejap saja tatapan teduh itu luput, tak perlu eksposisi lebih lanjut. “Oke. Aku berharap Devon cepet sembuh ya. Biar kita bisa nonton Maliq[2] dua minggu lagi,” sergahku dengan sedikit senyum canggung.

Jeff tergial. “Makasih, Rika. Nanti aku sampaikan ke Devon deh. Well, sekarang saatnya quiche. Aku beli ini tadi malem saat lewat Starbucks Kemang. Sarapan favorit kamu.”

“Makasih kembali, Jeff.” Aku mengecup pipinya sambil tersenyum. Setidaknya dengan apa yang kupunya, sepotong spinach quiche, Jeff, Devon, …

Door bell baru saja di-buzz tiga kali saat tanganku bersiap menggamit sendok dan garpu. Jeff berlari ke balik pintu. Menjenggut kaus oblong tanpa lengannya di kapstok. Aku terbahak; buzz, buzz, buzz. Tipikal pagi kedua yang harus Jeff jalani ketika Devon terbaring tak berdaya di ranjang.

“O, Rika. Bisa tolong buang rokokmu.” Ia mendelik tak sabar padaku.

Tentu saja.

Jeff baru saja membuka pintu; sepasang kaki kenes serta-merta berlarian nyaris tersandung babut.

“Eits!” pekik Jeff, mendekap tubuh mungil itu secepat kilat.

“Pagi, Non Rika,” ujar Mbak Suti, mengekor di balik tubuh jangkung Jeff.

“Pagi, Mbak. Makasih ya sudah mau jaga Nakula.” Aku memutar tubuh sekilas, menyunggingkan senyum padanya.

Nakula menggelayuti tungkai kaki ayahnya. Sementara Jeff sibuk memberitahu Mbak Suti tentang piranti kondonya yang kepalang mutakhir.

“Halo, Nakula. Papa Jeff lagi sibuk, sini main sama tante aja yuk.” Aku memangku bocah kecil itu; ia masih memainkan riap-riap rambutku yang mirip kembang gula. Sepertinya ia menyukai eksperimenku dengan Manic Panic. Jeff nyaris anfal, menemukan rambutku berubah wujud menjadi pink manyala seminggu lalu. Dimas dan Herman memang tidak pingsan, tapi sibuk bergunjing di belakangku. Tapi, toh tak ada larangan bagi seseorang untuk mengecat rambut dengan produk Manic Panic di kantor.

“Hei, hei.”

Ia mulai menjambak rambutku saking senangnya. Kami tertawa-tawa. Ia menatapku, aku menatapnya. Menatap manik cokelat kelereng itu. Hidung bangir yang tertatah sahih memagari sepasang pipi tembamnya. Hatiku seketika disatroni gemuruh.

“Ada apa, Nakula?” tanyaku. Ia berusaha berdiri di atas pahaku, menggapai-gapai iPad yang berada tak jauh dari jemari mungilnya.

“Mau main,” ia menjawabnya acuh tak acuh.

Aku membenarkan posisi, menggapainya dengan mudah hingga tak sengaja mengintip sesuatu.

 

PS. Boleh aku minta nomor teleponmu? Aku ingin kamu mempromosikan debut kami di Indonesia.

Spinach Quiche

****

Dear Sadewa,

Maaf, aku tidak dapat membantu. Untuk beberapa bulan ini kami punya proyek untuk klien yang lain.

Rika.

 

Aku terpaksa membalasnya, setelah Jeff mendesakku mati-matian. Entahlah. Itu bukan surat balasan yang baik, tapi paling tidak aku menulis sesuatu setelah ratusan surat yang berlalu begitu saja ke tong sampah. ­­

Agaknya hanya aku yang menyebutnya Sadewa seperti yang tertulis di kartu pelajar dulu, kendati para teman, bahkan kerabatnya pun, memanggilnya Dewa. Terakhir aku menjumpainya, mungkin tidak pernah ada kata selamat tinggal. Aku raib. Bak lesap ditelan angin. Hingga setahun lalu ia berhasil menyapaku via surel—yang entah ia ketahui dari siapa. Sejak itu ia tak pernah jemu mengirimiku satu. Baik surel atau kartu pos elektronik mengenai band indie-nya yang tengah naik daun.

Sadewa dan aku bukan teman. Bukan sahabat. Bukan juga musuh. Kami duduk bersisian di tahun kedua saat kami mengenakan setelan abu-abu. Ia jangkung dan aku mengisi ruang di bahunya siang itu.

“Rika, gimana udah jadi jinggle buat Suntory besok? Ijong nagih terus tuh dari kemarin,” singgungan Erin dari balik dinding kubikel, sukses membuyarkan lamunanku. Senyumnya kuyu. Ia pasti baru saja disemprot Ijong tiga menit lalu.

“Duh, iya, maafin gue, Rin. Ini lagi gue bikin.”

Aku bohong. Kepalaku nyaris meledos karena memikirkan surel itu sepagian.

“Jangan bengong mulu dong.”

“Iya, iya.” Lekas-lekas aku mengambil pensil yang mencuar di kotak perkakas tulis.

“Eh iya, lu ikut ke DWP ‘kan besok?” tanyanya berbinar.

“DWP?” Dahiku mengerut.

“Djakarta Warehouse Project. Kuno banget sih lu.” Mulai lagi Erin, ratu party sejagat.

“Nggak deh. Gue kayaknya harus jaga rumah.”

“Jaga rumah siapa?” tanya Erin. Aku tak mungkin bilang yang sejujurnya, bilang kalau aku tinggal seatap dengan Jeff dan Devon sedang sakit. Kujamin, Erin pasti bakal mengoreknya hingga tandas.

“Jaga rumah gue lah. Udah ah, nggak pokoknya.”

“Ih, sensi banget. Gue ‘kan cuma ngasih referensi tempat, biar lu bisa nyari cowok. Semua orang punya gebetan. Dan lu? Jeff juga gak pernah ngasih kode buat lu. Udah cari yang lain aja, setidaknya yang nggak PHP.”

“Makasih kalau gitu, Rin. Mungkin lain kali, sekarang lagi nggak bisa nih.”

Erin berlalu dengan dengusan kecewa, tapi tidak lama—terlebih setelah ia bersandar di kubikel Bima dengan topik yang sama.

Setelah empat tahun berlalu, aku memang tidak pernah memiliki jawaban atas pertanyaan itu. Jeff mungkin baik, tapi aku bukan cangkir teh miliknya. Ia hanya krimer. Bumbu yang membuatku terasa semuanya seimbang. Ia selalu mengecup dahiku di pagi hari, tiba di rumah, sebelum tidur, tapi kecupan sesungguhnya adalah milik Devon.

Bip. Bip.

Aku menarik napas, mengaduk-aduk isi tas, mencari ponsel yang tengah berkeredap. Sembari memikirkan jinggle, nada itu sempat memercik di kepala. Ada dududu, tapi tiba-tiba saja aku tersedak liur sendiri.

 

Rika, Dimas bilang kalian masih bisa menerima klien baru. Boleh kan daftar untuk yang kedua? Setelah proyek Suntory itu?

****

Sadewa Prakoso memang pandai. Culas, tepatnya. Ia mencari jalan belakang, selalu saja. Ia tidak berubah, kecuali dengan potongan rambut spike-nya yang dipadu dengan kemeja lumberjack hitam merah. Ada Dodi, antek-anteknya saat SMA silam. Duduk mengangkat separuh kaki dan mengaku-ngaku statusnya sebagai tour guide. Maklum, Jakarta memang telah banyak berubah.

Aku mencengkeram tangan Jeff, sangsi. Seminggu lalu Sadewa menyulap mingguku seperti limbo, dan minggu ini ia menyihirnya menjadi neraka. “Santai saja, Rika,” bisik Jeff di telingaku. Ia teman yang baik, tapi keberadaannya memang diminta. Dimas mengadakan meeting itu di sebuah kedai kopi.

Perbincangan pertama lebih tergolong seperti acara kongkow-kongkow. Yang naga-naganya Dimas tak lain teman nge-band amatiran Sadewa dulu. Oke, aku salah masuk biro iklan kalau begitu.

“O ya, Rika. Kamu sudah kenal Dewa, ‘kan?” Dimas melirik ke arahku.

Aku tersenyum rikuh. Keren. Dimas sudah tahu tentang segalanya. Dari ratusan mil etape yang membedakan kami, dalam hitungan hari, Sadewa sudah berada dua meter dari batang hidungku.

“Kita memang pacaran pas SMA, Dim. Ya, dia anak seni lukis, sedang gue anak musik. Sering tengkar sih, tapi deket juga deh,” ujar Sadewa, menyeruput Americano-nya.

Hatiku bergemuruh. Aku ingat saat ia mengejek lukisan pertamaku saat eksibisi sekolah. Lalu aku melemparnya dengan tepung saat sedang manggung di Taman Musik Centrum. Saat ia membelai kepalaku sepulang sekolah.

“Duh, romantisnya. Kalian sama-sama dateng dari Bandung, tapi kok Rika gak pernah cerita sih kalau dia anak Bandung juga.”

“Masa?” Sadewa mendengus geli.

Aku menarik napas dalam-dalam. Benci bernostalgia. Ada ketawa-ketiwi, tapi kepalaku berputar. Sama sekali tidak lucu.

“Rika?” Jeff memanggilku dengan lembut. “Kamu baik-baik aja? Bibirmu pucat banget.”

“Aku pengin ke kamar mandi, Jeff,” suaraku parau, menahan tangis yang sebentar lagi merembes.

Jeff mempersilakanku untuk menyusuri lorong sempit di antara kursi dan coffee table. Entah efek red velvet latte atau seluruh realita yang kini datang menghampiri. Aku mencoba untuk mendengar kata-kata itu; Sadewa yang melarikan diri. Tapi kini ia hadir seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Membuatku terkucil bahkan tak mengenali diriku sendiri. Aku memegang perutku. Mengingat seseorang yang pernah tinggal di sana, tapi tak pernah kuakui. Tangis mendaras bunyi keran yang membanjiri wastafel.

Aku ingin pulang. Menyeduh secangkir chai, duduk termenung dalam kegelapan, menonton teve hingga Jeff tertidur pulas di sofa. Namun, eksodus-eksodus ekspres macam itu sudah tak lagi berdampak saat Sadewa kembali.

.

Ctak. Bunyi Zippo terdengar nyaring saat aku mencucuh Skoal di bawah kanopi kafe. Pahit bercampur manis. Cengkih melabur sirup raspberry. “Aku masih ingat kamu, Rika walaupun kamu mengecat rambutmu dan menindik hidungmu,” kata-kata itu melipir dibarengi derap kaki.

Napasku tertahan. Disembur sedikit demi sedikit; julaian asap itu menari. Sadewa merebut rokok itu dari tanganku. “Tapi, aku tak pernah ingat kalau kamu merokok.”

“Itu bukan urusan kamu. Sekarang kembalikan rokokku. Kita tidak pernah saling mengenal ‘kan? Itu yang kamu mau dulu.”

“Oke, aku minta maaf, Rika. Maaf buat kebrengsekanku dulu, tapi bisakah kita berkenalan dari awal. Aku Sadewa. Ingat?”

“Aku ingin sendiri. Kamu bisa masuk ‘kan? Dimas pasti bakal mencari kliennya yang hilang.”

Meeting sudah selesai. Kamu membaca surel-surelku, ‘kan?”

“Tidak.”

“Tidak membalas, tapi aku tahu, kamu membacanya.”

“Aku tidak peduli.” Aku masih berjinjit, berusaha merebut kembali rokokku dari tangannya. Sadewa memang jangkung sedari dulu. Dan sialnya, tinggiku hanya bersanding dengan bahunya.

Sial! Sadewa menyesap rokokku dengan begitu lancang.

“Kembalikan, Sadewa!” pekikku, gemas.

“Kukira kamu sudah lupa namaku.”

Aku tidak akan pernah lupa, Sadewa. Sekalipun berlari ke ujung dunia, namamu selalu yang membuatku ketakutan dan merasa hina.  

Sadewa menyesap rokokku dengan begitu santai. Aku mengamati rintik hujan yang mulai melurung. “Aku rindu kamu, Rika. Saat gig pertama kami di Manchester, seseorang melemparku dengan telur, ia bilang lagu kami payah.” Ia terkikik. “Aku ingat kamu yang melemparku dengan tepung.”

Aku memejamkan mata.

“Rika, bisa kamu terima aku lagi? Terakhir kali kita bertemu memang aku memang brengsek, aku ninggalin kamu begitu aja. Bukan dengan pamit, tapi—”

“Cukup, Sadewa. Aku benci kamu,” aku menangis, tangis yang membuatnya ingin menyentuh pipiku. Aku menahan tangannya. Ada tato yang ditusikkan di tepi punggung tangannya; Erika.

“Apa karena laki-laki itu?” tanyanya. Ia pasti curiga dengan Jeff.

“Jeff bukan siapa-siapa.” Aku membuang muka.

“Lantas kenapa kamu menolakku? Aku perlu alasan, Rika. Lebih dari: aku ingin sendiri.”

Aku melepaskan tangannya. Alih-alih, ia balas mencengkeram pergelangan tanganku.

“Lepaskan.”

“Jawab aku, Rika. Aku ingin kita kembali lagi seperti dulu. Tanpa jarak, aku rela buat debut lagi di sini, aku janji, Rika. Aku bakal menetap di sini kembali, demi kamu.”

Sadewa tidak akan mengerti sekalipun lidahku berbusa menjelaskan segalanya. Ia mempererat cengkeraman tangannya.

“Lepaskan,” kata itu berubah menjadi rintihan.

“Tidak, Rika. Sebelum aku mendapatkan jawaban itu.”

Shit! Hentikan!” aku separuh menjerit, di kala yang sama sebuah tinjuan mendarat di samping bibir Sadewa. Tubuh jangkung di hadapanku terjajar mundur.

“Jeff?” Mataku nyalang seketika. Jeff tidak banyak berkata-kata, ia menarikku pergi sementara Sadewa menatapku dengan bibir sompek berdarah.

Erika

 

****

 

Jeff bilang, ia tak suka melihat Sadewa yang memaksa, kendati ia juga menyalahkanku lantaran selalu memungkiri diri. Sungguh membingungkan. Devon menginap malam ini. Mereka bercumbu semalaman. Sementara aku menghuni kamar sebelah menjadi parapet bagi kamar Nakula di pojok lorong. Mbak Suti sudah pulang sejak senja.

Insomniaku sukses kambuh. Aku sudah minum dua pil tidur bekas tahun lalu—yang untungnya belum kedaluwarsa. Setelah empat tahun berlalu, aku kira aku sudah terbiasa dengan jarak. Etape yang selalu mengungkung kami dalam satuan mil atau pun jutaan yard. Tapi, saat Sadewa mendekat, aku kupikirkan adalah kala dulu, dan Sadewa tak pernah tahu. Saat siang terakhir ia melucuti satu per satu kancing kemeja SMA-ku. Saat desahannya berbisik di telingaku. Kami sama-sama dungu. Hanya memikirkan momen itu, tanpa tahu akan kehilangan kesempatan untuk merebut mimpi sekolah di luar negeri.

Aku lulus SMA dengan tertatih. Sadewa dikirim orangtuanya ke London; aku tak pergi ke airport untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku tak memberitahunya tentang janin itu. Aku pikir, sekalipun memintanya untuk tinggal, Sadewa terlalu pengecut untuk membangkang. Ujian SMPTN tahun itu aku lewati di atas ranjang. Aku tidak kuliah. Aku duduk di rumah dengan jengah. Rina, sahabatku semasa SMA, yang pertama kali tahu. Aku menangis tiada henti. Aku ingin aborsi. Tapi saat menyentuh lantai dingin itu, pertanyaan itu bersipogang di kepala; apa ia memiliki pilihan?

“Tante?” suara kecil Nakula menyembul dari balik pintu.

“Iya, sayang?” Aku lekas-lekas menghapus air mata.

“Papa mana?” Nakula kecil mengucek matanya dengan sebelah tangan, menarik-narik beruang teddy pemberianku hingga membesut lantai.

“Papa-papa lagi di kamar sebelah. Ssst … jangan diganggu ya.”

Nakula berlari, lantas duduk di sampingku. Tungkai kakinya mengawang. Dua inci ringkas menyentuh parket.

“Nakula kenapa belum tidur?” Aku melirik jam di meja nakas; 23:30 berkeredap dalam balutan cahaya remang.

“Nakula takut soalnya ada hantu.”

“Mana hantu?” Aku tergial ringan. “Nanti tante usir hantunya.”

“Beneran?” Nakula berguling-guling di atas kasur. Kami terbahak-bahak kecil.

“Eh iya, Nakula. Gimana kalau kamu nemenin tante jalan-jalan?”

Ide gila itu terbersit begitu saja, tapi Jeff dan Devon takkan tahu, sekalipun kami hengkang semalaman. Nakula memekik kerasan.

 

Aku seperti disorientasi. Memarkir Benz milik Devon di pinggir taman kota. Nakula dan aku saling pandang; tersenyum sejurus. Ia masih terjaga, menyesap susu dari cangkir plastik kesayangannya. Pun diriku, tentunya, setelah melipir menjadi pelanggan terakhir Ika, barista langgananku, di Starbucks Kemang. Nakula memang mirip diriku. Ia punya bawaan insomnia sejak lahir. Dan kini, ia yang melonjak terlebih dahulu, membuka pintu.

Taman Ayodia sepi di malam hari. Hanya ada lindap kecipak air mancur dan temaram lampu.

“Nakula, hati-hati. Nanti kamu bisa kecebur lho!” teriakku, mengambil tempat duduk di sisi kolam, menyesap hazelnut latte yang tak kunjung tandas. Nakula berlarian. Ia memang cerdas dan tampan seperti ayahnya. Dan semakin aku menatapnya, hatiku semakin renyuk oleh rasa bersalah.

Entah apa yang harus Jeff katakan padanya suatu hari nanti, kalau ia hanya punya dua orang ayah, satu orang tante, tanpa kehadiran seorang ibu. Air mataku meleleh. Menerawang siluet kenes itu, berlarian sembari bereksperimen dengan riak air.

“Rika.”

Lamunanku sekejap membisu. Shit!

Kata itu mencuat di belakangku. “Kamu?!” balasku dengan mata membulat; tanganku lekas-lekas menghapus jejak air mata.

“Ini,” ia menyerahkan ponsel itu padaku. “Kamu ninggalin ini di Starbucks tadi.”

“Tapi, bagaimana bisa kamu—” aku serta-merta merampasnya.

“Aku baru meeting dengan manager baru kami tadi. Terus, kamu malah pergi begitu saja, tanpa sadar kalau ada yang tertinggal. Aku mau minta maaf, Rika. Maafin aku tentang tadi sore. Aku tahu, aku memang terlalu memaksa, tapi setidaknya aku mau kamu tahu, aku sudah berubah.”

Aku mencengkeram keliman tas. Memandang ke sekitar, di mana Nakula? Ya, Nakula. Ini benar-benar kacau.

“Rika, kamu sedang mendengarkan ‘kan?” sergahnya.

“Aku harus pergi sekarang, Sadewa.”

“Tante!” pekik nyaring itu terdengar sayup, dilindas kecipak air.

Okay. Aku menghela napas dalam-dalam. Nakula berlarian dengan teddy kesayangannya. Kain piyama kedodoran yang menyapu-nyapu tanah. “Ayo kita pulang sekarang, sayang,” ujarku, menjulurkan tangan. Aku tak ingin Sadewa berlama-lama memerhatikan bocah itu.

“Rik, anak …”

Sekejap Sadewa bungkam, tapi Nakula tahu, ia dibohongi untuk kedua kali; memilih menarikjins denim pemuda itu. “Om, pacarnya Tante Rika ya?” Kepalanya yang ditumbuhi rambut ikal mendangak, meminta perhatian.

“Selamat tinggal, Sadewa,” aku menyela, menarik tangan Nakula dengan sedikit memaksa.

“Tunggu, Rik. Dia anak kamu?” Ia menahan tanganku.

“Bukan, dia anak Jeff dan Devon.”

Sadewa tidak berhenti di sana. Ia berlutut, matanya bersirobok dengan manik cokelat Nakula.

“Bukan, om temennya Tante Rika.” Tatapan waswas itu memandangku sepintas. “Kalau kamu?” tanyanya dengan nada ceria. Untuk kedua kalinya, pemuda itu memang cerdas, ia tahu, seorang bocah baru saja merampok hidung bangir dan mata cokelatnya yang cemerlang. Tapi, dia punya bibirku. Bibir yang tak luput ia pagut di siang sepulang sekolah.

“Aku Nakula.”

Mereka berjabatan. Nakula dan Sadewa. Darahku berdesir, lidahku kelu, ponsel itu mati di tanganku. Sadewa tersenyum sengit, seolah tahu, jarak tak lagi tepat untuk menjadi sebuah jawaban.

Teddy

-fin.

 

______________________

[1] Kolom dalam koran harian Kompas yang membahas tentang dunia hiburan sekaligus jadwal bioskop dalam sepekan.
[2] Maliq & D’essentials; sebuah band beraliran jazz-soul dari Jakarta

Advertisements

40 comments

  1. Keren…..
    Sebelum baca nama penulisnya aku udah bisa nebak ini tulisan sapa….azureveur….

    Pas bagian awal aku masih belom paham ni cerita kemana jurusannya, masih ngira hubungan cinta yg kandas karena jarak, dan gak ada konflik lain.

    Tapi pas bagian sadewa ketemu erika aku paham. Apa hubungan erika dan jeff, siapa nakula sebenarnya, alasan erika tinggal sekondo sama jeff dan hubungan erika dan sadewa. Ini fokusku lagi bagus jadi bisa paham tanpa harus baca dua kali horeeeeee…..

    Hehehe….dan aku tercengang….
    Kehidupan remaja kayak gitu emang hmmmmm…. memprihatinkan.

    Kasian nakulanya….
    Oia, yg masih menjadi bahan penasaran buatku adalah itu devon cewek apa cowok sih??????

    kalo diliat dari perkataannya erika yg nakula punya 2 ayah dan 1 tante- kalau 2 ayah itu menjurus ke jeff dan devon berarti dugaanku benar, kalo rahasia jeff yg dimaksud erika itu jeff adalah gay-berarti devon cowok. Kalimatku kayak detektif belom yaaaa….

    Hahahaha abis makan apa sih saya tadi….

    Oke, pokoknya keren pake banget dan maaf jika pemahaman saya ada yg melenceng atau malah salah tapi saya suka ceritanya….

    Azureveur terima kasih dan semangat…
    Cus mau baca author project yg lain….

    Like

    1. Terima kasih, Ms. Dre, salam kenal juga lho. Hehehe 🙂 Ah, terima kasih. LOL.
      Memang tema LDR sulit sih buat diangkat, tapi akhirnya saya coba angkat tema yang lain di sela LDR ini. Hahaha 🙂
      Iya, di fiksi yang ini memang banyak pertanyaan dan jawaban sih, dan soal Devon itu. Kamu benar kok.

      Like

  2. Heeei Kak Zura! Kapan terakhir kali aku baca fic kakak? Dah lama kan ya. Seneng banget begitu buka saladbowl ketemu fic kakak hehehe 🙂

    Okay, well, um. Jujur, awalnya aku sempat kepikiran, Rika ngga takut apa tinggal seatap sama Jeff? Dan mereka pacaran aja nggak. Terus waktu awal-awal Devon disebut, aku mikirnya “Ini cewek namanya kok nggak cewek banget sih” of course lah yaaa dia kan bukan cewek HAHAHA.

    Sadewa itu ngotot banget ya orangnya. Aku awalnya kagum-kagum gitu ke dia, sanggup ngirim e-mail sampe 300an dan ngga dibales-bales, cuma yang terakhir itu aja dibales. Awalnya mikir Rika ini tegaan banget. Awal-awal kan masalahnya belum jelas, jadi aku kiranya Rika ini marah sama Sadewa karena mereka kepisah jarak gitu… dan ternyata lebih dari itu, kelihatannya.

    Makin ke bawah, makin banyak yang ketahuan. Aku kaget mulu bacanya hahaha. Akunya terlena ama diksinya kak Zura yang purrrfect abis, sih. Huahaha. Jadi Jeff ini sebenernya gay kan ya? Devon ini suaminya? Soalnya Rika nyebut Jeff dan Devon sebagai ‘Papa-papa’. Terus Nakula ini sebenernya anaknya Rika sama Sadewa? Ih sialan aku sama sekali nggak ngeduga hal ini ya ampuuuun. Kirain Nakula anak adopsi atau apa gitu._.

    Kakaaaaaak ini bagus banget. Suka bangetngetnget! Worth to read, deh. Ga nyesel udah baca, love this so so so much! I’ll be your fans forever deh kak ❤

    Like

    1. Hei, halo hehehe 🙂 Iya nih, kamus udah lama gak ke saladbowl juga ya? Saya juga seneng lho menjumpai komenmu.
      Devon ini nama yang sedikit ambigu ya? Saya kira nama itu cukup jantan dan terkesan anak orang kaya sih, ketimbang orang yang namain anaknya dengan tokoh pewayangan haha.

      Ah, kamu bisa aja. Ini ceritanya saya cuma nikmati esesnsi idenya; diksinya beneran gampang deh. Saya aja kagak mikir sampe diksi-diksi begitu.
      Tebakan-tebakan kamu bener kok. Iya, jadi sejak kejadian itu Rika itu semacam minder, dia malu ngakuin keberadaan Nakula, jadi akhirnya dua punya dua papa deh.

      Terima kasih ya dek 🙂

      Like

  3. ga pernah nyesel baca karya kamu tapi yang ini suer parah aku suka banget, karya kamu yang ini langsung jadi favoritku dari tulisan-tulisan kamu lainnya! tapi aku suka semua karya kamu sih 😀

    awalnya baca tentang rika ini semacam “waw ini cewek hebat banget tinggal seatap sama cowok yang bukan suami bahkan pacarnya” tapi ini yang bikin aku makin tertarik buat baca lol dan rika yang keras kepala plus angkuh sama cowok yang ngirimin dia surel berkali-kali ini, jadi langsung suka sama wataknya si rika ini, nah ini baru cewek tangguh XD

    trus soal jeff, awalnya aku kira bakal ada “ehem” antara rika sama jeff ini, tapi setelah ada nama devon aku jadi nebak apa mungkin si devon ini bakal jadi tokoh utama lainnya tapi ternyata salah wkwk. rika & jeff juga cuma sahabat dan ternyata jeff itu GAY??????? nakula beruntung punya dua papa (?) oh! dan satu lagi papa yang belum diketahui -tiiiiit nama disamarkan-

    berlanjut ke scene pas rika akhirnya ketemu sama sadewa haaaaaaah sumpah itu bikin greget banget wkwk, aku suka interaksi mereka berdua ini. si sadewa ini orangnya juga lumayan keras kepala juga ya, hampir mirip sama rika tapi si sadewa ini beneran tipe orang yang kalo punya mau harus terpenuhi. awalnya aku kira hubungan mereka itu rusak ya gara-gara sadewa yang ninggalin rika ke luar negeri dulunya dan sumpah aku ga nyangka ternyata ada suatu rahasia besar yang disembunyikan si rika. gila aja bertahun-tahun ditinggal sendiri di indonesia dalam keadaan hamil anaknya sadewa tanpa cowok itu tahu. mungkin kalo aku jadi rika aku juga bakalan bersikap kayak dia, HAH KESEL! (?)

    aku nyes nyes baca adegan rika sama nakula, awalnya memang ga dijelasin dengan gamblang kalo sebenernya nakula ini anak rika makanya aku kira si nakula ini anak jeff sama istrinya yang dulu trus cerai atau mati trus si jeff jadi gay dan pacaran sama devon, buahaha kayaknya aku terlalu berimajinasi di luar batas. waktu kamu mulai jelasin perlahan kalau si nakula ini anak rika aku bacanya mulai nyes nyes, jadi ikutan kasian sama rika, anaknya sendiri ga tau kalau dia itu ibunya ;_;

    trus waktu nakula ketemu sama sadewa AAAAAAAAAAAAAAAA pengen mewek rasanya, pengen ngelempar bakiak ke mukanya sadewa *ga gitu juga* tapi itu sumpah bagian terakhir waktu akhirnya rika, sadewa & nakula ketemu bikin cenat cenut bacanya. apalagi waktu nakula nanya ke sadewa dia pacarnya rika asdajfhierhfdkjlv nakula kamu masi polos banget nak ;_; si sadewa ngeh kalo nakula ini anak dia sama rika kaaaan? aaaaaaaaaaaaa endingnya sukses bikin gregetan hahaha, suka banget pokoknya fav banget lah sama cerita ini 😀

    oya, rika ini pernah ada perasaan juga ga sih sama jeff? kok kayaknya aku nangkepnya gitu hehehe. ah, tapi jeff sukanya sama jeruk sih, ya semoga bahagia sama devon huahaha

    makasi udah dikasi linknya ya zura 😀

    Like

    1. Terima kasih buat komennya ya, Yoo haha :DD
      LOL. Iya, di fiksi ini memang banyak banget pertanyaan dan jawaban yang muncul, idenya malah beneran kayak FTV banget.
      Wah, soal komenmu yang Jeff ditinggal mati sama istri lamanya, lol. Itu keren banget, saya aja gak kepikiran sampai sana 😀 saya bikin karakter gay gitu gegara nonton Glee sih, lagi momen-momen bahagia banget.

      Soal Rika yang punya perasaan sama Jeff, iya, seperti yang kamu tangkep di ceritanya, memang Rika itu naksir Jeff waktu dia pertama kali kerja di biro iklannya Dimas, tapi ternyata, Jeff punya rahasia lain. Gak jadi deh.

      Sama-sama 😀

      Like

  4. seperti biasa. dua kali baca klw karangan Azura… dr awal aku udah curiga pas munxul nama Nakula… ternyata Sadewa nya si Mantan. ^^

    Like

  5. Aku sampai bingung mau komen apa
    Ceritanya bikin aku meleleh(?)
    Sukses membayangkan rupa Sadewa. Dan nggak terpikir sama sekali kalau Jeff dan Devon, juga kemunculan Nakula.
    Aku mencoba untuk nggak menebak dan menikmati ceritanya, dan yah… Aku berkali-kali tertegun gitu :))))
    Duhh, jadi penasaran banget.. Apa ada lanjutannya? Itu ada tulisan “Fin” soalnya 😀

    Like

    1. Hehehe 🙂 terima kasih ya sudah membaca.
      Buat lanjutannya, um… kayaknya bakalan gak ada deh, soalnya sebenernya ide cerita ini kayak FTV gitu, jadi takutnya kalau saya panjangin ntar malah terbaca sangat mainstream.

      Like

  6. saya suka! sungguh saya suka! kata-kata yg kamu tuliskan di sana itu indah. terkadang memakai diksi yg memang jarang dipakai, tapi ternyata mengesankan. kalau ingat dulu saat saya pertama kali baca tulisanmu beberapa tahun lalu, saya suka yang sekarang. lebih mudah dimengerti meskipun dengan deskripsi yg hmmmmmm….. xD
    kalau soal cerita, saya gak akan banyak komentar. sebenarnya, saya pernah nonton dg cerita yg serupa, tapi tulisanmu ini beda. :))
    sip. keep writing 😀

    Like

    1. terima kasih, kak. hehehe 🙂 iya, dari sekian banyak yang sudah saya tulis, saya jadi semakin belajar sih,kalau tulisan yang baik buat menang dari permainan diksi, tapi dari ide, juga enak dibaca. hehehe 🙂
      iya, ide semacam ini memang sering diangkat jadi tema-tema ftv.

      Like

  7. Woow zuraa akhirnya bisa baca tulisamu lagi^^

    Tulisan ini emang udah gaya kamu banget deh. Dan tetap kagum sama pemilihan kata kamu..

    Awalnya aku menerka hubungan tiap karakternya. Aku kira Rika sama Jeff emang tinggal bersama tanpa status apa2 trus tiba2 cinta di masa lalu Rika muncul. Tapi di awal juga aku agak2 curiga sama devon dan nakula. Agak nebak2 juga sih sebenernya.
    btw, mau nanya, tapi agak gak penting sih. Si sadewa kenapa bisa nemuin Rika sama Nakula di taman? Hehehe

    Overall, sukaaaak^^

    Like

    1. Halo, titayuu.. iya, akhirnya, setelah ada event ini jadi lebih semangat buat nulis lagi juga nih 🙂
      Terima kasih lho hehehe.
      Ah, itu, Sadewa taunya karena mengikuti Rika, saat mereka gak sengaja bertemu di Starbucks, ponsel Rika gak sengaja ketinggalan, jadi Sadewa pengin mengembalikan ponselnya.

      Like

  8. Hi my personal helper! I just come by when you tagged this link to some people on twitter 😀

    Ini pertama kalinya aku baca fiksi kamu, dan ninggalin banyak banget komentar yang aku pengen tanyain:

    1. Kapan kamu mau ciptain novel metropop?

    2. Kapan kamu mau hangout sama aku jam 2 malem buat mesen Ice java Chocochips sama redvelvet Starbucks kemang yang gaenak?

    3. Aku kaya Jeff, penggila rubik Klasika di kompas apalagi kalo udah masalah pameran tour-tour #skip

    4. Instead of DWP *a big chaos of mud and heavy traffic happened last year on DWP* I suggest Erin to go to Coachella 😀 hahaha

    5. Ceritanya….khas novel-novel metropop yang ada di Gramedia, jauh lebih bagus dan berbobot ini pula. Aku suka gimana kamu jelasin kata-katanya jadi kiasan, konflik batin di antara Rika nya sendiri sama kehidupan masa lalu dia dan orang-orang di sekitarnya. Perfect!

    6. Aku jarang baca cerita di internet, dan ini adalah kali pertama aku baca cerita fiksi di internet yang super keren dan sekelas Ika Natasa! You rock! 😀

    7. Selama baca cerita ini, aku bayangin Rika itu Ashley Tisdale hahaha

    8. Dari awal aku udah nebak kalo Jeff itu Gay, pas di bagian “Kecupan sesungguhnya hanya untuk Devon” awww I love Gay story! And yaps nama Devon itu cocok banget buat cowo-cowo tajir yang punya muka kaya Dena Dehaan ❤

    9. I'm totally sure Nakula's parents are Sadewa and Rika.

    10. Aku tunggu fiksi-fiksi keren selanjutnya! 😀

    xx

    IJaggys

    Like

    1. Hai, halo! Wow! Senang sekali bisa mendapatkan komen darimu :*

      Mari saya jawab pertanyaannya:
      1. Haha! saya juga suka novel metropop sih, cuma entah deh, gak pernah membayangkan bisa bikin satu, ya semoga aja ada kesempatan buat saya di suatu hari nanti.

      2. Ini lucu banget deh! Sebenernya saya gak tau rupa Starbucks Kemang kae apa, lantaran males cari tahu, cuma copy-paste omongan temen saya yang rumah tantenya deket Kemang. Terciptalah Starbucks Kemang di cerita ini 🙂 dan saya suka banget ice java chocochips dulu. Mari-mari ntar kalau saya ke Jakarta, saya juga penasaran sama tempat itu.

      4. DWP… hahaha … kayaknya Coachella is better place. Saya tau DWP juga dari temen, yang orang Cibubur dan orang Karawang, hobi banget ngobrolin DWP event tiap taun. Jadi akhirnya saya colong juga deh buat cerita ini.

      5. Terima kasih.

      6. Waaaah. Ika Natasa! Mbak Ika jelas lebih keren dongs, dan saya itu gagu bahasa Inggris, LOL.

      7. Masa?! LOL.

      8. Me love gay story too 🙂 duh, kalau ada kesempatan saya pengin banget bikin side-story project tentang duaan itu. Tuh kan! Tuh kan! Devon memang tipikal cowok kayak banget. Yang pake parfum-parfum wangi gitu, terus pake kardigan ke mana-mana hahaha.

      9. Kentara banget ya?

      10. Siap.

      Makasih banget lho pertanyaannya, asyik dan seru dapet komen dari kamu.

      Like

  9. Tadi melihat fiksi ini di TL, karena punyanya Kak Azura jadilah saya pengen baca dan kesan pertama yang aku dapat adalah… “OH MY…..”
    Honestly, aku lumayan ngerti fiksi ini hingga ga perlu pake baca dua kali buat ngeyakinin diri xD Salutlah sama kakak yang sudah bikin fiksi ini dengan konflik yang sedemikian rupa.
    Awalnya aku mikir si Jeff bakal ada something sama Rika terlepas dari adanya tokoh kaya Sadewa sama Devon, eh taunya ada sesuatu yang tertutupi darinya. Pas baca “Papa-papa,…” langsunglah saya histeris 😮 (lebay). Taunya Jeff gay, pantesan Rika sebelumnya bilang kalo doi bukan cangkir tehnya.
    Well done, kak… suka banget ama orific yang ini (y)

    Like

    1. Hehehe, iya, dek, baru saja ngepost kemarin. Ah, syukurlah, yang ini memang ceritanya ringan sih, cuma main main teka-teki aja.
      Terima kasih ya.
      Di sini memang banyak rambu-rambu yang perlu disimak sih, jadi harus hati-hati kalau mau menemukan jawabannya.

      Like

  10. hai kak Azura. .
    kayaknya ini pertama aku baca karyanya kak Azura deh…
    Woah di blog ini kok penulisnya kece badai semua sih 😀

    baca ini ya ampun kayak baca novel dan woah banyak hal gk di sangka kejadian. Awalnya aku kira Rika “oh gadis metropolitan banget” diakhir aku beneran kasihan dia korban dari kehidupan metropolitan. oiya aku bayangin Rika itu kayak Jia MissA waktu rambut pink juga hehe
    di tunggu tulisan berikutnya ya kakak 🙂

    Like

    1. Hai juga, iu_da 🙂 terima kasih ya sudah mampir. Senang sekali membaca komen darimu. Salam kenal juga. Setuju, di sini ada banyak banget karya yang keren-keren.

      Iya, ini memang kisah yang sangat metropop sih. LOL. Eh, wah … iya juga ya, Jia Miss A memang sih pernah warna pink juga rambutnya, itu sesuai banget dengan yang saya bayangkan, pink cotton candy 🙂

      Like

  11. Hai kak, aku baru pertama kali ini baca karya kakak di blog ini, dan ya aku kagum banget krn dipertama kali ini aku cukup seneng dgn pembawaan kakak yg ‘unik’.
    Jujur, di awal aku bener gak nemu apa mksdnya, dengan penggunaan kata yg kakak gunakan, itu bener butuh sedikit waktu untuk mencernahnya. Tapi terlepas dari itu semua, aku suka kok.

    Ohiya, point yg aku bener-bener yakini adalah Devon itu laki, Jeff itu guy, dan Nakula itu anaknya Rika dan Sadewa.

    Dan di balik kata ‘unik’ yg aku bilang sebelumnya itu adalah cerita fiksi kakak itu menurutku sgt berbobot.
    Nice:’)

    Like

    1. Hai juga. Salam kenal ya 🙂
      Terima kasih lho atas pujiannya hehehe. Iya, cerita ini memang sesungguhnya sederhana, tapi saya mencoba mengusungnya dengan ide cerita yang agak ribet, alias pengin main tebak-menebak 🙂

      Like

  12. Zuraaaaa, duh aku mah kasian ih ama si nakula. Jd dia teh anakny rika ama dewa kan? Tp nakulany ga pernah tau siapa ibuny masaaaaa

    Dan, aku ngerasa ada yg beda dengan tulisanmu yg ini, tp kurang ngeh apaan.

    Dr segi feeling, aku kurang greget sih baca ini, engga segemes baca tulisanmu yg biasanya. Cuma, aku mau muji cara km ngegambarin si rika, suka dehhhh

    Dan yang jago lagi, ilustrasinya bagusss

    Like

    1. terima kasih ya, bib sudah mampir hehe. ilustrasinya itu cuma sebagian dari uji coba kok, ya semoga ke depannya saya bisa berkontribusi di bagian ilustrator juga hehe 🙂

      ya, mungkin yang berbeda dari tulisan ini ada di bahasanya yang simpel.

      Like

  13. from the first line aku udah bisa tebak ini tulisan siapa, gaya kepenulisan kakak emg beda dari yg lain dan kakak mengangkat kisah yang unik juga disini. penamaan tokohnya unik kak.. nakula-sadewa-bima, tokoh wayang gtu.. terlebih ilustrasiny ngebuat narasi menjadi lebih hidup dan aku akhirnya mengerti apa arti dari 3 ukuran sepatu yg brbeda diatas stelah baca sampai finish.. nice story kak, gak cuman ttg LDR tapi kakak memasukkan unsur lain yg ikut menyeimbangkan cerita ini jadi apik.. sering-sering nulis di saladbowl dong kak ^^

    Like

    1. terima kasih ya sudah baca hehe 🙂
      ah, kamu tau aja ini punya siapa. hebat uy. iya, memang lagi tertarik dengan tokoh-tokoh di mahabarata sih, jadi ada yang saya comot-comot gitu namanya.
      ah, akhirnya ada yang nyadar lagi nih tentang si sepatu-sepatu itu.
      ya, doakan saja ya.

      Like

  14. firstly, HELAW KAK ZURA! Nessa akhirnya berkunjung ke lapakmu tanpa tahu waktu yang tang rated xxx dan aku ((gatau)) bole baca ato engga tapi udah baca juga HAHAHA.epat ((padahal movweek lagi bejibun tapi rasa bersalah belom ninggalin komen lebih besar))
    aku dan tau bahasa kakak bagus.
    terlihat saat pertama kali bercakap di line grup.
    TAPI AKU TAK TAHU KAKAK BISA MENULIS FIC SEPARAH INI DAN AKU TAK MENYANGKA … owe mau terjungkal dan terjatuh dulu.

    maaf aja, tapi sadewa emang asshole, tapi kakak bikin akhirnya mereka ketemu juga meski terkesan agak gantung ya.
    dan sebenernya aku juga ga terlalu suka dgn sikap rika yang seakan ga mengakui anaknya sendiri dan pasti terasa banget sakitnya pas dia manggil ibunya sendiri “tante”.

    dan okay, aku ketinggalan spot pertama dan sama seperti yang diatas, aku ga nyangka kalo mereka gay, aku ga nyangka kalo nakula anaknya rika, dan aku ga nyangka kalo ceritanya bakal jadi ada y
    tbh, aku ga nyangka juga. fic kakak ga ketebak. genre dan tokohnya juga, aku kurang suka sama cast non bias, tapi berhubung ilustrasinya menarik dan menyikut untuk baca, aku baca, lagian ini the first-timenya aku di tempat kakak XD

    dan masalah diksi, AWESOME. like novel translate gitu, tapi bahasanya kaka pake ga baku ya XD. tapi terlepas dari itu semua aku tetep suka pembawaan kakak, ceritanya juga nyambung pada akhirnya, seakan di akhir aku menemukan banyak kepingan puzzle yang ga terselesaikan karena aku bingung di awal AHAHAH. sebenernya aku juga gatau DWP yang kek gimana dan apa DWP ((miris)) tapi aku bela-belain nganggep itu apalah dan lanjot wkwk.

    dan ini, sumpah anti mainstream, ending teragak gantung, masalah gay, tinggal bersama. biasanya aku selalu baca fic yang permasalahan remajanya seperti ini mainstreamnya bakal happy or sad, terus jalannya juga kebanyakan sama meski mereka mengungkapkan dalam cara berbeda.

    and you know what sista, sorry owe pake bias ngebayangin diatas. MAAFKAN AKU ATAS KENGAWURANKU INI ((ditoyor)). gay. owe pake sehun dan chanyeol. mau tau apa, aku ga tau kenapa semuanya kebayang bias aku sendiri HAHAY. ((staph nes jan gila di kolom komentar orang 😦 hik))

    Idk why, tapi ini berbeda dari yang lain.

    salam, Vanes.

    P.S; kak kak kak, coba copas di word dan liat berapa hasilnya, ini udah jadi drabble kali ya XD sampe ga 100? sampe ya? check dulu deh HAHAHA.

    Like

      1. terima kasih ya buat komen super panjangnya, dek hehe 🙂
        iya, memang topiknya sesungguhnya rada menjurus yang adegan yang rated, tapi ya saya sebisa mungkin mengemasnya dengan acara tebak-tebakan tokoh hehehe.
        akhirnya jadi cerita seperti ini deh.
        ah, tulisan kamu juga bagus kok dek, saya juga masih perlu belajar, banyak yang kurang di cerita ini yang komenmu bener-bener sangat membangun. terima kasih ya.

        Like

  15. Hello kakak, ini mah aslih metropop yak. Wkwk.

    Aku mau komenntar banyak sekali, tapi pas liat komentar-komentar di atas rasanya sudah diwakilkan. Mulai dari kepusingan aku ttg siapa sih Devon itu ? Cewek apa cowok ? Tapi, kanapa Nakula punya bapaknya 2 ?

    taunya bener cowok. Hihi..

    Aku penasaran sih, gimana nasibnya Nakula ini.. Setelah tahu kenyataannya.. Hehe seru kak ! Semoga bisa nemu kaya ginian lagi dari kakak..

    Xoxo
    Love !

    Like

  16. CHIIIIINNNGGGGGGG!!!!

    aku cinta banget cerita ini ya.
    kamu harus banyak2 bikin cerita ginian.
    serius aku sepakat sama komen ijaggys di atas kalo cerita ini udah kayak novelnya ika natasha huhuhuhu

    mulai dari pemilihan katanya, cara kamu deskripsiin tempat dan apa yang ada di benak rika.
    and then sadewa! GOD aku bayangin dia itu udah kayak AL yang ganteng tapi mukanya menyimpan segala kebrengsekan BAD BOY but I LOVE IT!

    apa ya… aku bener2 kayak baca antalogi rasanya ika natasha versi side story hahahaha dan devon.. oke nama itu emang cocok bgt buat dibayangkan jadi cowok metroseksual yang super modis tapi juga gentle di saat yang bersamaan.

    tapi yang paling buat aku trenyuh adalah endingnya…

    hei bagaimana kamu bisa tega memisahkan nakula dengan sadewa, mereka sudah digariskan untuk bersama sejak dalam tangan Tuhan!

    hahaha abaikan… aku juga bakal trauma setengah mati kalo jadi rika, cuman itu sweet bgt. serius.

    love this ching. LOVE

    Bravo!!!

    Like

  17. Sejujurnya, saya tahu nih si Jeff itu gay. Soalnya keseringan nonton west series. Jadi sudah mencium gelagat-gelagat gay dari awal. Haha.
    Yang bikin kaget itu, si Nakula. Beneran. Saya nggak nyangka itu anak Rika. Saya malah mengira kalau itu emang anaknya si Jeff dari wanita lamanya. Yang kemudian dia sadar ternyata dia lebih tertarik dengan sesama jenisnya, dan bersepakat untuk memiliki hak asuh Nakula. *INI INFOTAIMENT BANGET SUMPAH* Ngahahaha.
    Dan Sadewa datang…
    Kamu pintar banget mempermainkan pikiran orang deh, Ra. Saya ngerasa kayak baca baca keluaran Metropop. Asyik.
    Aniwei, benerkan kataku. Kamu memang bagusnya gambar sekaligus nulis, Ra. Ilustrasinya keren. 😉

    Like

  18. azuraaaa udah berapa abad gak baca tulisan khas dari kamu wahaha 😀 kangen juga ternyata.
    Ehem, gak mau komen panjang kali lebar kali tinggi sih, nanti jadinya volum xP *krik krik garing*
    JADIIII NAKULA SADEWA ITU TERNYATA? BAPAK ANAK? SUMPAH GAK NYANGKA. beneran nggak ketebak loh. Tak pikir rika bakal jalanin hubungan sama sadewa lagi. ya gaktau mungkin mrka beneran balik kayak dulu. Nah yg bikin kaget itu bocah dengan piyama kedodoran yg mata+hidungnya mirip sadewa dan bibirnya mirip rika. dari situ langsung lemes. Ah ternyata mrka berdua….. :’3
    nice ff, seperti biasanya~

    Like

  19. Ah, akhirnya bisa baca fanfic kak Azura lagi, setelah lama gak dapat mention tentang fic baru di livejournal hehe. Seperti biasa, temanya selalu simple–tapi harus dibaca semua biar ngerti.Pertanyaan satu, Nakula itu anaknya Rika sama Sadewa kan? Sebenarnya ini tebakan doang sih, semoga aja bener. Daan, sesuai dugaan Jeff-Devon itu gay.
    Nunggu fic/ori-fic kakak yang lain nih! Semoga ada lagi ya kak! Ditungguuu selaluuuu, hahaha.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s