[RESENSI] Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk: Kisah Cinta ala Sastra

250px-Tenggelamnya-vanderwijk

Judul                                     : Tenggelamnya Kapal  Van der Wijck

Pengarang                          : Buya Hamka

Halaman                              : 224 Halaman

Penerbit                              : PT. Bulan Bintang cetakan ke-20 tahun 1990

Harga                                    : Rp. 4500 (tahun 1990 mungkin sekarang setara dengan Rp. 45.000)

 

“Tetapi, cita-cita manusia tidak dapat melawan kehendak takdir.” – Hamka

Zainuddin adalah seorang yatim piatu yang jatuh cinta pada anak perempuan salah satu bangsawan Minang yang bernama Hayati. Mereka berdua saling mencintai namun terhalang oleh orang tua Hayati yang tidak setuju karena Zainuddin adalah orang yang tidak mempunyai suku.

Ayah Zainuddin adalah orang Minang asli, namun ibunya adalah keturunan Bugis. Sehingga dalam adat Minang yang masih menganut system Matrilineal (garis keturunan yang diambil dari pihak perempuan) khususnya pada saat itu, membuat Zainuddin  menjadi seperti orang luar di kampung halamannya sendiri.

Hal ini diperparah dengan keadaan Zainuddin yang yatim piatu, membuatnya benar-benar seperti orang terasing yang mendapat tekanan sosial dari penduduk sekitar. Keadaan ini pun membuat Hayati menaruh perhatian lebih terhadap Zainuddin begitupun sebaliknya.

Ditunjang dengan wajah keduanya yang rupawan, tidak memerlukan waktu lama bagi mereka berdua untuk saling jatuh cinta. Namun dikarenakan tekanan hidup yang semakin menghimpit, maka Zainuddin memutuskan untuk merantau ke Jakarta.

Sebelum berangkat, Zainuddin dan Hayati saling berjanji untuk saling setia. Namun apa daya, sebagai anak yang berbakti, Hayati tak kuasa menolak keinginan orang tuanya yang sudah menjodohkannya dengan Aziz, seorang keturunan bangsawan Minang asli dan sekaligus kakak dari sabahat Hayati, Khadijah.

Zainuddin merasa yang merasa terkhianati, kemudian berbekal kemampuan menulis yang cukup mumpuni, Zainuddin menuliskan apa yang dirasakannya dalam sebuah buku roman dengan yang kemudian menjadi best seller dengan nama pena Z.

Saat Zainuddin hijrah dari Jakarta ke Surabaya dengan alasan untuk lebih dekat dengan kampung halaman orang tuanya selain Minang yaitu Makassar, takdir seakan bermain dalam garis kehidupannya lagi.

Ia dipertemukan dengan Aziz dan Hayati yang saat itu juga merantau ke Surabaya dalam keadaan jatuh miskin, hingga pada akhirnya Aziz memilih untuk bunuh diri karena tidak kuat dengan kemiskinan yang menderanya.

Lalu apakah Zainuddin dan Hayati bisa bersatu setelah segala yang terjadi dengan mereka berdua?

Buat kalian yang menjalani masa sekolah dasar sekitar tahun 1990 sampai dengan 1999 pasti tidak asing dengan buku diatas. Meskipun belum pernah baca atau tidak tertarik, tapi aku yakin sekilas pasti kalian pernah mendengar judul maupun nama pengarangnya, Buya Hamka.

Istilahnya buku ini sempat dijadikan sebagai bacaan referensi sekolah dasar dan menengah di kala MNC Tv masih bernama Televisi Pendidikan Indonesia dan salah satu acara siarannya adalah mbak-mbak-dengan-rambut-mengembang-berpiak-tengah lagi menjelaskan tentang pelajaran kimia wkwkwk

Awal mula pertemuanku dengan buku ini (?) adalah berawal dari ketidaksengajaan bongkar-bongkar koleksi buku almarhum papa :”)) ternyata selain buku wayang ada buku ini. Bukunya udah menguning dan masih ada label harganya Rp. 4.500 HAHAHAHAHA belinya di Sinar Supermarket yang sekarang udah bangkrut dan ditutup :’)) duh memori masa kecil banget siy wkwkwkwk

Tenggelamnya Kapan Van der Wijck adalah salah satu karya sastrawan Indonesia yang mungkin paling dikenal dalam sejarah, Buya Hamka. Ditulis pada tahun 1938 kemudian diterbitkan setahun kemudian. Pada awalnya sebagai cerita bersambung di salah satu surat kabar lokal di Medan yang bernama Pedoman Masjarakat, hingga pada akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku hingga mencapai cetakan kedua pada tahun 1949.

Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah memilih nama “HAMKA” sebagai nama penanya yang diambil dari singkatan namanya sendiri. Sedangkan kata “BUYA” menurut falsafah Minang adalah panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayah kami, atau seseorang yang dihormati.

Buya Hamka

Buya Hamka

Buya Hamka lahir 17 Februari 1908, di desa kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat, dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Dalam hidupnya Buya Hamka adalah seorang aktifis Islam yang mempelajari secara otodidak mengenai berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat.

 Eh ya ampun Feb-Line itu emang keren-keren 😎 kkkkkk

Pada awal penerbitan buku “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” ini Hamka sempat diprotes oleh beberapa orang Muslim konservatif, mereka menyatakan bahwa seorang ulama harusnya tidak mengarang cerita tentang percintaan.

aku sih mikirnya semacam FPI gitu apa-apa ditolakin mulu =_=

Namun pada akhirnya karena sambutan hangat pembaca yang sangat luar buku ini akhirnya tetap diterbitkan. Sempat terhalang kebijakan sensor dari penerbit besar Balai Pustaka, pada akhirnya buku ini diterbitkan oleh penerbit swasta bernama Syarkawi.

Ternyata lembaga sensor itu emang udah ada sejak jaman dahulu kala hagz hagz hagz

Hingga kemudian hak ciptanya dibeli oleh penerbit Bulan Bintang pada tahun 1962 dan hingga kini telah mencapai lebih dari 80.000 eksemplar. Tetapi dibalik kesuksesan buku ini ternyata juga disertai dengan beberapa kontroversi.

Pada bulan September 1962 seorang penulis bernama Abdullah SP memuat tulisannya dalam surat kabar terkenal yang menyebutkan bahwa novel Buya Hamka ini diplagiasi dari sebuah karya dari Sous les Tilleuls karya Jean –Baptise Alphonse Karr tahun 1832.

Tulisan yang ternyata ditulis oleh nama samaran dari Pramoedya Ananta Toer itu dibantah oleh ahli dokumentasi sastra H.B. Jassin dan kritikus asal Belanda, A.Teeuw. Ia menyatakan bahwa tanpa berpendapat kalau kesamaan yang terkandung dalam novel itu dilakukan secara sadar, memang terdapat banyak hal yang mirip di antara kedua karya itu, tetapi Van der Wijck sesungguhnya mempunyai tema yang murni dari Indonesia

Pelajaran yang aku ambil dari sini adalah yang namanya masalah plagiasi itu pada dasarnya emang udah ada dari jaman kompeni, hanya saja jika memang karya itu asli maka yang tersisa hanya ke-otentikan bukan meniru. Dan menjadi penulis itu berat meeeennnnnnn hahahahaaha bahkan sastrawan sekelas Buya Hamka juga pernah dituduh hal serupa. Jadi salam perjuangan aja buat para penulis-penulis muda saat ini kkkkk 8-)))

Tema “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” ini sebenarnya tidak jauh dari karya Hamka sebelumnya. Beliau tetap menitik beratkan pada kritik akan beberapa tradisi adat kuno yang kemudian nyaris membuat orang-orang pada jaman itu menjadi berpikiran sempit.

Hal ini dituangkan Hamka dalam bagian dimana Hayati tetap berusaha menjadi istri yang baik untuk Aziz, menerima segala kekurangannya, bersabar, tidak membantah, serta pengabdian yang tulus meskipun dalam hatinya tetap mencintai Zainuddin, namun Hayati tetap rela tetap menjalani tugasnya sebagai istri dengan ikhlas.

Latar belakang tempat yang menjadi setting buku ini adalah Medan, Makassar,Jakarta dan berakhir di Surabaya. Kapal Van der Wicjk sendiri adalah kapal milik Koninklijke Paketvaart Maatschappij, Amsterdam. Dibuat pada tahun 1921 di galangan kapal Feijenoord, Rotterdam, Belanda.

Kapal Van der Wicjk ini termasuk golongan kapal paling mewah saat itu dan disinyalir sangat kuat. Pada akhirnya sama seperti Titanic (yang cukup takabur kkkk x))) akhirnya kapal ini tenggelam juga di pesisir utara pulau Jawa, peraiaran utara Brondong pada tangal 28 Oktober 1936.

Monument yang didirikan di Lamongan, Jawa Timur untuk mengenang peristiwa tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Monument yang didirikan di Lamongan, Jawa Timur untuk mengenang peristiwa tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Yang paling diminati dari buku ini adalah cara penyampaian Hamka pada saat itu yang dinilai tidak terlalu kaku namun tetap detail dan romatis ala tahun 1930an. Penyampaian kata romantis disini terlihat dalam surat-surat yang dikirim oleh Zainuddin kepada Hayati, begitu juga sebaliknya.

Jujur pas baca itu surat aku ngakak. Soalnya selain buku yang aku punya itu terbitan tahun 1990 (ini buku seumuran Luhan hahahahaha ><) bahasa yang dipakai juga masih bahasa ejaan lama.

Misalnya kata ‘Uang’ ditulis ‘Wang’.  Lalu kota Padang Panjang, kota kecil di daerah Sumatra Barat yang sampai sekarang tetap bernama sama.  Sedangkan  Surat kabar juga disebut dengan ‘Perkabaran’ kkkkk

Dan serius rasanya geli sendiri baca adegan surat-suratan itu. Yah jaman itu pak pos adalah profesi paling mulia banget. Jaman belom ada hape apalagi bbm kkkk jadi kalau mau nyepik cewek ya pakek surat wkwkwk.

Dan menurutku si Zainuddin ini termasuk tipikal cowok yang to the point pada jamannya. Ya semodel kayak Baekhyun gitu, ga bisa diem, dan begitu suka sama cewek, kejar terus sampek dapet LOL. Dan saking cintanya sama Hayati, semua surat dari Hayati disimpen, dijadiin jimat ._.

Yah kalo jaman sekarang tuh kayak yang suka nyimpenin chattingan gebetan / pacarnya pake screen capture wkwkwk yang merasa melakukan ga usah ketawa xD

Trus mereka berdua dikit-dikit surat menyurat. Pas Hayati kehujanan, tiba-tiba Zainuddin dateng nyodorin payung. Terus besoknya si Hayati nitip ke temen, buat ngembaliin tuh payung sama surat kalo Hayati pada akhirnya mau diajakin kenalan sama Zainuddin kkkkk

Aku enggak yakin sih sebenarnya ketika kalian membaca resensi ini akan tertarik kemudian ada niatan untuk baca, apalagi aku yakin rata-rata dari kalian juga masih remaja. Dan aku juga tidak memungkiri kalau memang lebih banyak bacaan yang lebih menarik di luar sana.

 Tapi aku berharap dengan membaca ini kalian jadi tahu bahwa ada sebuah novel klasik asli Indonesia yang juga tidak kalah romantis dari novel-novel luar. Dan aku juga berharap minimal kalian juga tau dan mengenal salah satu sastrawan Indonesia.

Tahun 2013 ini ternyata buku ini difilmkan. Zainuddin diperankan oleh Herjunot Ali, Hayati oleh Pevita Pearce dan tokoh Aziz diperankan oleh Reza Rahardian.  Sebagai penutup ini trailernya ^^

Menurutku lumayan siy trailernya ya meskipun di bagian akhir mengingatkan akan adegan salah satu masterpiece James Cameron tahun 1997 itu kkkkk 8-))

yopiyoll

Advertisements

24 comments

  1. lama gak ke saladbowl dan keteteran di banyak chapter ff, akhirnya aku sempetin baca ini gegara judulnya. lagi wow bgt sih ini karena film nya baru rilis .. pingin baca bukunya tapi,,,yakali ada ebook nya -__-

    Like

  2. Aku..aku!!! Generasi 1990’an, dulu pernah dipinjamin roman sama guru bahasa Indonesia SD, tapi aku dapatnya bukan yang ini. Aku pernah baca sinopsisnya di buku kumpulan sinopsis roman Indonesia terbitan mana gitu. *lupa*
    Jadi pengen baca, secara udah gede *banget* haha *ga ada hubungannya*
    Btw, Kak, Kota Padang Panjang itu emang ada di Sumatera Barat, jadi sepertinya bukan ketukar sama Ujung Pandang. Mungkin ada perpindahan latar tempat? Aku belum baca sih, jadi takut salah juga.
    Makasih atas resensinya, Kak. Serius jadi pengen baca roman ini, deh 🙂

    Like

  3. aku slh satu yg penasaran sm ni novel. Ngubek2 nyari ebooknya dr kpn tau ga nemu2, nemunya ringkasan’a doang 3 hlm. Awalnya kupikir ni novel serius mungkin cerita ala jack sparrow gtu, haha,, krn pengarangnya buya hamka, eh trnyata roman toh. Tambah pnasaran gara2 liat trailer film + junot nya. Haha

    Liked by 1 person

  4. entah kenapa aku merasa kita sama, kak ._.
    mama aku pernah punya buku ini, dan aku gak baca karena aku berpikir itu hanya satu dari sekian banyak buku pelajaran SMA-nya yang waktu itu mau dikardusin..

    pas liat trailernya di youtube kok perasaan dulu pernah liat judul ini entah dimana, pas buka saladbowl baru inget mama punya bukunya dulu .__.

    Makasih buat resensinya ya, kak.. Nanti mau maksa mama bongkar kardus cari bukunya lagi haha

    Like

  5. Ya ampun ada novel harganya Rp. 4500…………. mungkin saat itu 4500 termasuk mahal kali ya ._.
    Cetakan ke 20 buku ini lebih tua tujuh tahun dari aku XD LOL dari smp aku sering denger sih nama ‘Buya Hamka’, tapi gak tau dia penulis novel ehehe. Berhubung Orang tua aku katanya gak punya novel ini dan aku males bongkar-bongkar jadi nonton filmnya ajaa 😀
    Oh iya ada typo kak : ‘Zainuddin merasa yang merasa terkhianati’ menurutku harusnya ‘Zainuddin yang merasa terkhianati’ iya bukan? Dikit doang sih sebenernya ._.v
    Barusan liat trailernya dan kaget ada trailer durasinya 4:25 -_- hahaha

    Like

    1. haloo ^^

      Eh iya typo .-. Terlalu semangat mungkin aku nulisnya wkwkwk

      Emg kamu umur berapa ._.

      Iyaaahh aku awal liat juga mikir: buset ini trailer apa video clip hahahhaahaaha -_-
      Powered by Telkomsel BlackBerry®

      Like

      1. 16 kak ahaha ^^ cuma beda 5 tahun kok sama baekhyun (?)
        Bagus sih trailernya (yaiyalah harus bagus) aku suka denger dialek minangnya hayati enak aja di telinga. Iya kak kayak video clip wkwkwk

        Like

      2. 16 kak ^^ Beda 5 tahun aja kok sama baekhyun (?)
        Bagus sih trailernya (yaiyalah harus bagus). Suka juga denger dialek minangnya hayati wkwk iya kak kayak video clip lol 😀

        Like

  6. Aduuuhhh.. ni novel sempet saya lirik waktu SMA dulu tapi ga sampai halaman terakhir sih saya bertahan wkwkw…sekarang tinggal penyesalan deh
    Dan baru sadar kalau kapal itu beneran ada ya? macam titanic.. nyata ‘-‘

    Waktu pertama liat trailler ny jujur saya pikir ini titanic versi indonesia lol
    Ah! Pokoknya smoga sukses filmnya deh ya! Cos ini bukan lagi film setan2 bertebaran cew tak berkain… Ini lebih keren kemana2 ><

    Like

  7. pas msin ke sini eh nemu judul bgini, langsung kayak familiar gimaanaaa gitu, kyak pernah baca dimana.. Eh ternyata, ibu aku punya bukunya,tp udah ga bisa dibaca lagi, tulisannya ilang gara2 kerendem air.. ibu aku bilang Ceritanya bagus bgt..
    Heumm, trailernya bagus, pemainnya juga ahem *_*

    Like

    1. Wkwkwk ya Luhan pada bilang buku ortu ya kkk aku juga siy xD

      Iya ceritanya tuh benernya menyentuh bgt cuman karena pake bahasa lama (?) Jdinya kedengeran geli u/ didenger jaman skrg kkkk

      Like

  8. Terusterang dulu banget temen gue pernah baca kebetulan temen gue itu demennya karya sastra dia rekomen ke gue n gue rada tertarik gitu cuma gue iseng nanya ini Happy or Sad ending n dia bilang Sad ending n maleslah gue baca karena gue suka kepikiran klw baca novel sad ending hehe lebay #abaikan n ternyata di filmkan lah sekarang n gue nyesel kenapa dulu ga baca novelnya btw tanks resensinya^^ bagus bgt…

    Like

  9. Ini adalah kisah paling menyedihkan yang pernah saya liat TT Ceritanya sangat menarik 🙂 begitu menyentuh dan bikin terharu 🙂 berasa jadi Zainuddin waktu lihat filmnya. Yang pertama tanggal 1 Januari 2014 LOL dan yang kedua sewaktu film-nya dijadikan Extended 😆 wehehe…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s