[RESENSI] Inferno by Dan Brown: Karya Sastra yang nyaris seperti Kitab Suci

 

inferno-di-dan-brown

 

Judul                                     : Inferno

Pengarang                          : Dan Brown

Tebal                                     : 639 halaman

Harga                                    : Rp 125.000,-

Penerbit                              : Bentang Pustaka

 

 

 

Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral

 

 

Robert Langdon terbangun di sebuah rumah sakit di Florence dengan keadaan kepala berjahit dan amnesia cukup parah. Langdon kehilangan ingatan jangka pendeknya yang merupakan alasan mengapa ia bisa tiba di Florence dengan keadaan seperti itu.

Dalam keadaan cukup panik, Langdon juga dikejutkan dengan kenyataan bahwa dirinya juga dijadikan target oleh seorang pembunuh bayaran serta sepasukan lengkap berseragam hitam milik pemerintah. Dengan bantuan seorang dokter yang bernama Sienna, Langdon pun mengetahui bahwa dirinya membawa suatu benda yang menjadi kunci dari seluruh perjalanan anehnya ini.

Benda itu berbentuk stempel kuno yang memberikan sebuah petunjuk, dimana seluruh rangkaian kejadian ini berhubungan dengan salah satu mahakarya terhebat yang pernah diciptakan. Rangkaian puisi karya Dante Alighieri yang berjudul Inferno (neraka).

Tak jauh dari rumah sakit tempat Langdon dirawat, enam hari yang lalu ditemukan jasad seorang laki-laki yang disinyalir menjatuhkan dirinya dari puncak salah satu menara paling terkenal di Florence. Dan laki-laki tersebut merupakan salah satu klien terpenting dari sebuah organisasi paling rahasia di seluruh dunia, Konsorsium.

Lalu apa hubungan antara pemerintah denga organisasi tersebut? Dan bagaimana Langdon pada akhirnya mampu mengetahui arti dibalik semua petunjuk yang diberikan oleh stempel kuno tersebut?

Buku terbaru karya Dan Brown ini sekali lagi menawarkan penulisan yang sangat sangat sangat Dan Brown sekali. Semua alur,cara pengenalan tokoh-tokohnya, konflik yang ditawarkan hingga cara pemecahannya.

Bagi yang sudah pernah membaca The Da Vinci Code maupun Angel & Demon pasti akan mengetahui apa yang aku maksud dengan ‘khas’ Dan Brown tersebut. Sebenarnya hal ini cukup membuat agak sedikit bosan di awal, namun sekali lagi buku ini masih sangat menarik untuk diikuti.

(Apa mungkin aku bias ya? Hahahaha)

Inferno sendiri adalah bagian pertama dari mahakarya seorang penyair besar yang bernama Dante Alighieri yang berjudul The Divine Comedy (Komedi Ketuhanan). Sedangkan bagian kedua berjudul Purgatorio (Penebusan) dan bagian ketiga berjudu Paradiso (Surga).

Meskipun berjudul komedi, namun The Divine Comedy ini sama sekali bukan karya yang berisi lelucon.Komedi di sini lebih diartikan karena Dante menuliskannya dengan bahasa Italia modern atau lebih dikenal dengan bahasa rakyat.

Karena pada jaman itu, semua karya yang menggunakan bahasa modern akan dianggap kurang sopan atau dalam hal ini disebut sebagai bahasa kelas dua. Maka dari itu disebut sebagai bahasa komedi (lelucon) yang sering dipakai sehari-hari.

Namun justru dikarenakan bahasanya yang mudah dimengerti maka pesan-pesan yang disampaikan oleh buku ini menjadi sangat mudah terpatri di dalam benak setiap orang yang membacanya.

Bahkan menurut sejarahnya setelah buku ini terbit, Inferno menjadi semacam pengingat akan dosa yang harus dihindari. Dan dengan detail neraka versi Dante, banyak orang yang kemudian memilih untuk bertobat. Denga kata lain, buku ini lebih efektif mengajak orang untuk ke Gereja daripada Alkitab pada jaman itu.

The Divine Comedy yang diterbitkan pada tanggal 11 April 1472 - Wikipedia

The Divine Comedy yang diterbitkan pada tanggal 11 April 1472 – Wikipedia

 

The Divine Comedy ini konon katanya juga membuat Dante mendapatkan apresiasi yang mendalam dari berbagai macam seniman kelas atas. Bahkan pembuat patung David yang tersohor itu juga ikut menuliskan pendapatnya akan penyair tersebut.

Tidak pernah ada di dunia, orang yang lebih hebat daripada dia.

-Michelangelo

Dante hidup di Florence, Italia dari tahun 1265 sampai dengan tahun 1321. Kehidupan Dante sendiri sebenarnya sangat normal seperti layaknya orang kebanyakan, hingga pada akhirnya ia bertemu dengan seorang wanita bernama Beatrice Portinari yang menjadi cinta matinya seumur hidup dan inspirasi utamanya. Sayangnya cinta Dante bertepuk sebelah tangan karena Beatrice pada akhirnya menikah dengan pria lain.

Lukisan diri Dante membawa buku The Divine Comedy yang dulukis oleh Michelino dan saat ini tergantung di Il Duomo - Florence

Lukisan diri Dante membawa buku The Divine Comedy yang dulukis oleh Michelino dan saat ini tergantung di Il Duomo – Florence

Inferno adalah bab yang menceritakan perjalanan Dante ke sepuluh tingkat neraka. Dalam karyanya, Dante memakai tiga nama wanita, Virgil, Maria dan Beatrice. Dalam perjalanan ke neraka, Dante ditemani oleh Virgil. Sedangkan perjalanan penebusannya Dante di temani oleh Maria dan dalam perjalanan ke surga ia ditemani oleh Beatrice.

(Pas tau hal ini jujur aku mikir: oh ternyata Dante juga manusia, dia bisa galau, terbukti pas ke surga aja dia bayanginnya sama Beatrice. Ya semacam kata Fadli PADI: meskipun aku di surga… tetap ku tak bahagia, karena itu tanpamu… )

Interpretasi Inferno karya Dante ini kemudian dituangkan oleh salah satu seniman besar yang bernama Botticelli yang melukiskan bagaimana gambaran tingkatan neraka versi Dante. Lukisan yang terkenal dengan nama La Mappa dell’Inferno atau dalam bahasa Inggris disebut dengan: Map of Hell.

Map of Hell karya Botticelli ini digambarkan sebagai irisan-melintang di bumu denga lubang besar berbentuk corong yang kedalamannya tak terhingga. Lubang neraka ini dibagi menjadi teras-teras menurun dengan penderitaan yang semakin hebat. Setiap tingkat dihuni oleh masing-masing jenis pendosa yang tersiksa.

Map of Hell by Botticelli

Map of Hell by Botticelli

Adapun tingkatan dosa itu diambil dari mnemonik Latin yang diciptakan oleh Vatikan pada Abad Pertengahan untuk mengingatkan umat Kristiani pada Tujuh Dosa Besar. Disingkat dengan nama SALIGIA yang berarti Superbia (kesombongan), Avaritia (keserakahan), Luxuria (hawa nafsu), Invidia (kecemburuan), Gula (kerakusan), Ira (kemarahan) dan Acedia (kemalasan).

(Mungkin karena aku muslim, daripada gambaran Inferno ini buat aku lebih serem buku-saku-siksa-neraka-yang-dulu-terbit-jaman-tahun-90an-itu >_< dan dalam Islam, tujuh dosa besar ini juga termasuk dalam kategori dosa =_= semua agama itu pada hakikatnya selalu mengajak kearah yang benar ^^)

Seperti sebelumnya, kali ini Dan Brown juga mengajak pembacanya untuk menelusuri berbagai macam karya seni yang ada di dunia. Untuk Inferno kali ini, para pembaca akan diajak untuk berjalan-jalan dalam imajinasi di kota tua Florence, Venesia dan berakhir di Turki.

Yang pertama adalah Gerbang Porta Romana yang di jelaskan di Bab 20. Gerbang ini dibangun pada tahun 1320 dan pernah dijadikan sebagai tempat Bazar Kontrak atau Fiera dei Contratti. Dimana pada jaman itu para orang tua seringkali memaksa anak-anak perempuan mereka untuk kawin kontrak dan mendapatkan mas kawin yang tinggi.

Di dalam buku, gerbang ini merupakan tempat pertama dari pelarian Langdon bersama Dokter Sienna ketika dikejar oleh pembunuh bayaran.

Porta Romana - Florence, Italia

Porta Romana – Florence, Italia

Di bab 21, para pembaca akan bertemu dengan dengan lukisan karya seniman Vasari yang dibuat pada tahun 1563 dan tergantung di Palazzo Vecchio, Florence. Lukisan ini menyimpan misteri akan arti kata Cerca Trova (cari dan temukan) yang hanya bisa dilihat dengan memakai binocular (teropong).

Kata-kata inilah yang menjadi inspirasi Langdon pertama kali akan misteri yang ia pecahkan.

Tulisan Cerca Trova yang terpampang dalam lukisan yang tergantung di Hall of Five Hundred

Tulisan Cerca Trova yang terpampang dalam lukisan yang tergantung di Hall of Five Hundred

Bab 27 akan banyak menceritakan tentang istana keluarga Medici. Keluarga bangsawan kaya raya yang berjaya hingga empat abad namun pada akhirnya harus mengangalami kebangkrutan di akhir tahun 1700 atau abad ke delapan belas.

Istana keluarga Medici menjadi tempat persembunyian Langdon ketika dikejar oleh para tentara berseragam hitam. Mulai dari Institut Seni, Boboli Garden dan pada akhirnya bersembunyi di gua buatan.

Instituto Statale D'arte (Institut Seni) yang dulunya merupakan kediaman keluarga bangsawan Medici pada abad ke 15

Instituto Statale D’arte (Institut Seni) yang dulunya merupakan kediaman keluarga bangsawan Medici pada abad ke 15

 

Boboli Garden - Taman labirin yang dibuat khusus sesuai pesanan keluarga Medici

Boboli Garden – Taman labirin yang dibuat khusus sesuai pesanan keluarga Medici

 

Buontalenti Grotto - Gua buatan yang terdiri dari tiga pintu masuk yang terdapat banyak patung-patung seni yang dipilih langsung oleh keluarga Medici sebagai penjaganya

Buontalenti Grotto – Gua buatan yang terdiri dari tiga pintu masuk yang terdapat banyak patung-patung seni yang dipilih langsung oleh keluarga Medici sebagai penjaganya

Bab 37 menceritakan tentang kunjungan Langdong ke Palazzo Vecchio. Memasuki The Hall of Five Hundred, berjalan terus ke arah Lo Studiolo untuk bisa melihat secara dekat muka asli Dante Alighieri yang tercetak dalam topeng kematiannya sendiri.

Dengan menemukan topeng kematian Dante, pada akhirnya satu persatu misteri mulai terkuak.

Palazzo Vecchio - salah satu ikon Florence

Palazzo Vecchio – salah satu ikon Florence

 

The Hall of Five Hundred - dinamakan seperti fungsinya untuk menjamu 500 orang tamu pada jamannya. Di sisi kiri terlihat lukisan dimana tulisan Cerca Trova berada.

The Hall of Five Hundred – dinamakan seperti fungsinya untuk menjamu 500 orang tamu pada jamannya. Di sisi kanan terlihat lukisan dimana tulisan Cerca Trova berada.

 

Lo Studiolo - sebuah studio pribadi yang digunakan oleh para bangsawa untuk menyendiri

Lo Studiolo – sebuah studio pribadi yang digunakan oleh para bangsawa untuk menyendiri

 

Topeng kematian Dante - dimana para wisatawan dapat melihat raut muka asli dari penyair Dante

Topeng kematian Dante – dimana para wisatawan dapat melihat raut muka asli dari penyair Dante. Topeng kematian ini diceritakan berada di dalam Lo Studiolo

Bab 51 akan mengajak pembaca ke dalam Museo Casa Di Dante kemudian berlanjut ke rumah suci Chiesa atau yang lebih dikenal dengan nama Gereja Dante yag terletak di Santa Margherita dei Cerchi.

Gereja Dante - konon katanya makam Beatrice Portinari diletakkan disini. Dan pada akhirnya gereja ini menjadi rujukan para pendoa yang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan, layaknya Dante kepada Beatrice

Gereja Dante – konon katanya makam Beatrice Portinari diletakkan disini. Dan pada akhirnya gereja ini menjadi rujukan para pendoa yang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan, layaknya Dante kepada Beatrice

Pada Bab 53 para pembaca akan bertemu dengan pusat spiritual kuno di Florence, yaitu Katedral Santa Maria del Fiore atau yang lebih dikenal dengan julukan Il Duomo.

Il Duomo - Katedral yang menjadi ikon utama Florence

Il Duomo – Katedral yang menjadi ikon utama Florence

Bab 72 pembaca akan bertemu dengan Basilika Santo Markus dengan keempat patung kuda perunggunya yang merupakan salah satu hasil dari jarahan saat perang salib berlangsung.

Disinilah pada akhirnya Langdon benar-benar memahami semua misteri yang dimaksud. petunjuk-petunjuk yang pada akhirnya membuat ia sadar bahwa terjadi kekeliruan dalam pemikirannya.

Basilika Santo Markus

Basilika Santo Markus

 

Kuda perunggu Santo Markus. Kalung leher yang dipakai oleh kuda disinyalir sebagai penyangga kepala Kuda yang sengaja di potong agar mudah di bawa di dalam kapal saat dibawa kembali ke Venesia

Kuda perunggu Santo Markus. Kalung leher yang dipakai oleh kuda disinyalir sebagai penyangga kepala Kuda yang sengaja di potong agar mudah di bawa di dalam kapal saat dibawa kembali ke Venesia

Kemudian perjalanan di lanjutkan ke negara tempat persimpangan timur dan barat berlangsung. Negara sekuler dimana semua kepercayaan barat dan timur bisa berdiri bersebelahan.

Perjalanan ke Istanbul, Turki yang pertama adalah melewati Blue Mosque, kemudian Hagia Sophia dan berhenti pada waduk kuno Yerebatan Sarayi (Istana yang Tenggelam).

Masjid Biru atau yang disebut dengan Blue Mosque

Masjid Biru atau yang disebut dengan Blue Mosque

 

Hagia Sophia - pilar berbentuk seperti peluru raksasan itu diyakini sebagai simbol dari masa-masa berat pada jaman Hagia Sophia didirikan

Hagia Sophia – pilar berbentuk seperti peluru raksasan itu diyakini sebagai simbol dari masa-masa berat pada jaman Hagia Sophia didirikan

 

Interior lapis kedua di dalam Hagia Sophia. Dulunya Hagia Sophia ini berfungsi sebagai gereja, namun ketika konstatinopel jatuh ke tangan pejuang muslim saat perang salib, maka Hagia Sophia berubah fungsi menjadi masjid. Namun sekarang digunakan sebagai museum.

Interior lapis kedua di dalam Hagia Sophia. Dulunya Hagia Sophia ini berfungsi sebagai gereja, namun ketika konstatinopel jatuh ke tangan pejuang muslim saat perang salib, maka Hagia Sophia berubah fungsi menjadi masjid. Namun sekarang digunakan sebagai museum.

 

Lebih dekat - bagian tengah merupakan semacam altar dengan dinding bergambar Yesus Kristus namun diapit tulisan kaligrafi bertulisakan Allah dan Muhammad di kedua sisi pilar.

Lebih dekat – bagian tengah merupakan semacam altar dengan dinding bergambar Yesus Kristus namun diapit tulisan kaligrafi bertulisakan Allah dan Muhammad di kedua sisi pilar.

 

Waduk Yarebatan Sarayi atau Waduk Istana yang Tenggelam dulunya berfungsi sebagai waduk utama kota Istanbul

Waduk Yarebatan Sarayi atau Waduk Istana yang Tenggelam dulunya berfungsi sebagai waduk utama kota Istanbul

 

Hingga kini Yarebata Sarayi masih digenagi air jernih yang merupakan daya tarik utama wisatawan

Hingga kini Yarebata Sarayi masih digenagi air jernih yang merupakan daya tarik utama wisatawan

 

patung kepala medusa yang diletakkan secara terbalik di dalam waduk yang menjadi simbol pendosa yang juga disebutkan di dalam buku Dante

patung kepala medusa yang diletakkan secara terbalik di dalam waduk yang menjadi simbol pendosa yang juga disebutkan di dalam Inferno karya Dante

Sama seperti buku terdahulunya, Dan Brown selalu berhasil menggabungkan apa yang menjadi issue yang sekarang lagi marak dibicarakan dengn hal-hal yang berkaitan dengan symbol dan sejarah. Membuat para pembacanya seakan-akan benar mempercayai bahwa apa yang tertulis di situ adalah benar adanya.

Saking tipisnya perbedaan antara fiksi dengan fakta yang disajikan, kita sebagai pembaca harus benar-benar jeli. Namun untuk buku Inferno kali ini perbedaanya masih bisa diketahui. Karena issue yang dibahas itu sangatlah bertolak belakang dengan karya sastra Dante yang menjadi patokan.

Buat aku pribadi, menghabiskan 639 halaman dalam lima hari itu termasuk cukup panjang. Kenapa? Karena ya seperti yang aku bilang di awal menurutku ini agak sedikit cukup bertele-tele. Ditambah dengan beberapa istilah yang membuat aku harus membacanya berulang-ulang baru bisa aku cerna.

Ya ditambah waktu kerja yang selalu sampai malam, jadi bacanya juga curi-curi waktu. Dari segi terjemahan menurutku ini bagus. Tidak membuat bingung dan bisa dibaca dengan mudah. Istilahnya tidak membuat orang berfikir untuk membaca versi aslinya karena bingung akan bahasa terjemahan yang dipakai.

Yang paling aku suka adalah di bagian akhirnya, dimana diselipkan banyak sekali pemikiran mengenai issue yang dibahas. Pembaca diajak untuk ikut lebih peka terhadap hal-hal disekitar terutama untuk daerah abu-abu kehidupan. Lalu mengenai teori penyangkalan serta hal-hal yang memang menjadi polemik tersendiri hingga saat ini dan dapat dijadikan sebagai sebuah renungan.

Mengenai teori apa yang dibahas atau konsep apa yang dipakai dalam buku ini sebenarnya aku pengen banget buat jelasin, tapi aku pikir itu akan menjadi spoiler yang tidak terbantah. Karena justru itu yang menjadi kunci dari misteri yang dibahas dalam buku ini, jadi lebih baik bila dibaca sendiri hehehe.

Yang pasti Dan Brown juga mengaitkan cerita ini dengan wabah hitam atau yang lebih dikenal dengan The Black Death. Wabah ini terjadi pada tahun 1348 ~ 1350 dan menewaskan 75 ~ 200 juta warga Eropa, atau sekitar hampir 60% populasi.

Seperti biasa, Brown juga tetap menyelipkan karakter Langdon yang memang diceritakan seorang Darwinian. Atau seseorang yang lebih meyakini fakta daripada sebuah keyakinan akan agama. Meskipun pekerjaan Langdon adalah seorang ahli simbol yang rata-rata selalu berkaitan dengan simbol keagamaan.

Dari sini banyak pembaca setia Brown yang secara tidak langsung meyakini bahwa Brown sebenarnya ingin menunjukkan sedikit pembangkangan terhadap Vatikan. Yang mana sudah ia lakukan semenjak jaman kontroversi akan sifat keilahian Yesus dalam buku The Da Vinci Code.

Kesimpulannya buku ini sangat direkomendasikan buat yang suka fiksi sejarah. Hanya saja aku berharap Dan Brown dikedepannya bisa membuat yang setara dengan The Da Vinci Code. Namun paling tidak dengan harga seratus dua puluh lima ribu aku bisa menutup buku dengan puas untuk kali ini.

Last, kutipan pembuka di atas adalah kunci dari seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi.  Dimana jika di telaah lebih lanjut kalimat itu akan berbunyi:

Dalam masa berbahaya (krisis) tidak ada dosa yang lebih besar daripada tetap diam

Advertisements

45 comments

  1. Akhirnya ada yang ngebahas novel ini.
    Sudah dua minggu-an aku ngincer ini novel.
    Tapi, sayang harganya nggak bersahabat sama kantongku 😦
    Dan terima kasih atas reviewnya, Takyuyaki-san! 😀

    Like

  2. Artinya hampir sama kayak quote yang pernah aku denger ya: ‘Dunia ini bakal hancur bukan karena orang jahat, tapi orang baik yang tetap diam’ dan kutipan paling atas itu aku tau dari tweet kakak kelas, ternyata diambil dari bukunya Dan brown ya hehe.
    Buku Dan brown ‘berat’ gak sih kak? Aku kebiasaan baca yang fiksi imajinasi macam Rick Riordan sih /terus kenapa/ /komen ga penting ya maaf kak ._./

    Like

    1. IMHO, Rick Riordan sama Dan Brown itu menurutku serupa tapi tak sama. Dua”nya sama-sama memakai fakta sejarah–atau untuk kasus Riordan lebih tepatnya memakai mitologi Yunani–sebagai objek kisah mereka, dan menjadikannya fiksi. Tapi kalau soal berat itu selera ya, orang yang nggak suka baca tentang mitologi” gini bisa bilang karya Riordan itu berat, begitu juga buat Dan Brown. Tapi kalau kamu suka kisah misteri dan fiksi sejarah macam gini, kurasa akan menyenangkan meski topiknya sedikit sulit. Malah bisa belajar banyak hal baru 🙂

      Resensi ini memberi para pembaca garis besar topik yang dibahas di Inferno, yang jelas ini bikin kita jadi semakin pengen baca bukunya XD

      Like

      1. benaaarr apa yang dibilang dista ^^

        dan lagi-lagi emang soal selera juga dan jujur aku belum pernah baca percy jackson, aku liat filmnya aja kkkkkk

        buat aku pribadi, buku Brown ini semacam buku semi sejarah, jadi ada ilmunya, sedangkan buku Riordan semacam Rowling, hiburan kkkk

        tapi aku suka dua2nya karena tetap ada pesan moral yang didapat 🙂

        Like

      2. Aku jadi penasaraaaan hahaha~ Beberapa kali liat buku Dan Brown di toko buku dan berpikir sepertinya buku ini serius sekali (kebiasaan liat cover duluan)
        Mungkin karena katanya harganya lumayan mungkin bakalan minjem-minjem dulu aja nih buat langkah awal ehehe. resensinya keren! Buat aku jadi ‘kemakan’ hahaha

        Like

      3. Hahaha terima kasih sudah komen ^^
        Emang masalah harga ini jadi bikin ilfeel banget kok hagz hagz hagz

        Tapi yah namanya juga org udh suka ya jdi ya dibela2in hahahahaha

        *elus2 dompet*

        Iya kalo ada minjem dulu aja ._.

        Kalau aku soalnya selain suka baca juga suka koleksi bukunya kkkk

        Like

  3. Wih ada jg yg bahas ini…
    Aku salah satu yg suka karya Dan Brown… Setiap aku baca novelnya pasti berakhir pada rasa penasran untuk melihat setiap karya-karya seniman dunia yg terdapat dalam novel yg ditulis Dan Brown… Kadang malah bertanya-tanya beneran ga sh ada simbol2 atau petunjuk2 dalam karya2 itu…..
    Sekarang aku lg baca ulang The Lost Symbol… Dan untuk novel ini duuiiitttttku lg cekak buat belinya…

    Like

    1. hai makasih udah komen hehehe ^^

      aku juga punya The Lost Symbol itu tapi jujur itu bukan seri fave ku hahahaha

      aku lebih suka angel & demon atau The Da Vinci Code. karena menurutku, Brown jauh lebih punya nyawa di tulisan2 yang berhubungan dengan karya seni eropa kuno daripada ketika ia membahas mengenai kepercayaan kuno-tapi-modern seperti kelompok Mason itu ._.

      dan ternyata kamu adalah orang kesekian yang mengeluh soal harga, aku pun demikian 😦 *sigh*

      Like

  4. Kalau untuk seri fav aku jg lbh ke The Da Vinci Code dan Angel&Demon….
    Uda pernah baca yg Deception Point? Ko aku kurang suka ya sama karya Brown yg itu… Aku baca blm nyampe setengah udahan ditinggalin aja g diterusin…hehehe

    harga bukunya emang bkin nyesek bgt kl lg g pnya duit…

    Like

    1. Iih kita samaaaa hahahaha

      Satu2 nya buk Brown yg belum aku baca ya cuman Deception Point itu ._.
      soalnya pas aku baca sinopsis di belakangnya kok kayaknya kurang menarik gitu kkkk

      Makanya aku berpendapat kalo buku Brown itu lebih bagus kalo dy bahas ttg seni eropa kuno, bukan modern amerika

      Thx udh komen 🙂

      Like

      1. Pendapat kita sama..aku jg lebih suka buku Brown yg mengulas sejarah2 dan karya seni kuno…
        Aku jg g tau itu kapan lanjutin baca Deception Point…bukan petualangan Robert Langdon sh jd agak males bacanya…

        Like

      2. Semua karya Dan Brown bagus kok, hanya sejauh yang saya baca Digital Fortress lah yang paling flat. Tapi tetep, Dan Brown menyuguhkan ilmu mengenai sandi dan kriptografi dengan sangat baik di DF.
        Coba aja baca Deception Point, itu bagus banget malah. Dan Brown sukses menciptakan skenario penipuan terhebat yang dilakukan di zaman modern melalui agen intelijen. FYI, yang suka dengan taktik intelijen pasti demen baca ini.
        Kalau diantara trio Da Vinci Code, Angel and Demon sama The Lost Symbol, Angel and Demon emang paling greget.
        Gak cuman plot, tapi juga ending dari novel itu bikin gua menganga gak percaya.

        Like

      3. Humm bener aku setuju sama kamu kalo angel and demon emg paling oke~

        Deception point itu yg ada ceritanya profesor jepang itu bukan?

        Aku malah ga terlaku suka the lost symbol entahlah menurutku kurang greget kkkk

        Like

  5. Terimakasih kak buat resensinya, buku nya menarik banget buat dibaca yaiyalah harganya aja selangit bagi pelajar berkantong tipis kaya saya. Baca dari sini saja rasanya uda dapet pengetahuan yang tak terduga, pokoknya saya tunggu kak resensi2 selanjutnya (:

    Like

  6. wah aku nemu jg blog fanfic yg ngbahas ttg sastra gini. aku emg lg nyari2 buku sastra apa aja sih yg bagus, san spertinya rekomen di atas boleh cb di baca. aku awalnya kuliah masuk broadcast, trus cuti krn kerja. makin ke sini akhirnya aku sadar aku cinta bgt sastra, dan bermimpi suatu saat tulisan aku bs di bukukan. dan baru sadar trnyata itu impian aku dr dulu. dan spertinya aku bakal beralih ke jurusan sastra. hahaha
    aduh malah jd curhat, abisnya kesenengan sih nemu blog ini. ah, aku mau dong kenal kalian utk share lbh bnyk ttg sastra dan buku2 bagus utk jd bacaan

    Like

  7. Aku pernah membaca setengah buku The Da Vinci Code .. Dan well, om Dan Brown entah otaknya terbuat dari apa atau emang otakku yang ga kuat nampung simbol, kode, sejarah atau apalah itu yah …
    Saluuut!

    Like

  8. Wah seneng banget ketemu resensi novel dan resensinya tentang novel dan brown. Jadi penasaran, apalagi petualangan robert langdon yg digambarin di novel lain memang selalu keren, terutama angel and demon, menurutku. Makasih ya kak resensinya 😀 siap-siap kumpulin uang buat beli.

    Like

  9. pernah liat doang buku ini dan….eumm…gimana yak=_= cuman diliat doang nggak pernah diraba maupun dibaca (?)
    yaaa aslinya emang aku ngga begitu tertarik sama sejarah2 gini 😀 tapi kan balik lagi ke pemikiran setiap individu. Kapan2 lah coba nyari pinjeman buku ini wkwkwkwkwk

    Like

  10. Resensinya keren menarik, terus terang gue udah tertarik baca karya Dan Brown sejak Davinci code cuma sangat di sayangkan waktu nya ga ada hiks n mahal pula hehe terpaksa deh W nonton filmnya dan ternyata Tom Hanks apik bener mainnya gue ampe nonton dua kali n yg Angel n Demon juga keren bgt jadi yah kesimpulannya walaupun gw penasaran bgt baca bukunya setelah baca resensinya emm kayanya mending nunggu filmnya deh hehehe tanks y atas resensinya suka bgt^^

    Like

  11. Ini keren banget! Apalagi resensinya desertai gambar-gambar dari setting dalam cerita >w<
    Pas membaca Inferno aku suka membayangkan gimana bentuk asli bangunan-bangunan yang diceritakan di buku itu :3
    Btw, koridor Vasari nya nggak ada ya .w. dan nggak ada soal The Mendacium?
    Mou ichido, sankyuu sudah meresensi bukunya kakak Takyuyaki san :3

    Like

      1. Wkwkwk tapi benernya itu koridornya (digambarnya) biasa aja siy ._. Wkwkwk

        Malah lebih serem yg hall of 500 itu menurutku >,<
        Powered by Telkomsel BlackBerry®

        Like

      2. Entah mengapa terasa suram~ apa gegara itu ya banyak jalan rahasia(?)nya
        Tapi trus yang paling kerasa horrornya itu di Istana Tenggelam, Turki .w.
        Tempat digenangi air gitu trus ada cahaya merah2nya~ hiiy…cocok buat uji nyali. Apalagi kalo peserta uji nyali disuruh nunggu deket kepala Medusa hiiiiy #ngaco

        Like

  12. kebiasaanku kalau baca novel kang dan brown ya ditemenin mas google,hhehe, dan apresiasi banget sama agan takyuyaki yang udah cape-cape buat resensi ini. mantap. haha..

    terlepas dari petualangan fiksi Landon, inferno sekali lagi membangunkan aku dari tidur.haha.. isu-isu yang diangkatnya itu loh gan.. bikin kita disuruh bangun dan memang itu kenyataan yang harus kita hadapi.. 😐 atau karena aku terlalu percaya hasutan kang dan brown?entahlah.haha..

    Like

  13. Aku udh baca dan nonton The Da Vinci Code dan Angel & Demons dan dsitu jatuh cinta banget sama karakter Robert Langdon.Dan waktu aku ke toko buku dan gk sengaja liat ni novel,langsung dh mohon2 minta beli…Novel karya Dan Brown ini memang luar biasa 🙂

    Like

  14. Koleksi aku tinggal digital fortress nih bikin greget pen ngelengkapin, harganya emang bikin sedih dompet tapi menurutku itu masih murah dibandingin sama yg original di books and beyond 200k lebih:(

    Lagi nyari film yg diangkat dr novelnya dan brown selain the da vinci code sama angels and demons apa ya?:(

    Makasiiih❤️

    Like

  15. waaaa makasih banget udah bikin resensinyaa~~ makin penasaran dan pengen beli~~ tapi aku dalam proses nyelesein baca deception point, dan masih ada the da vinci code yg sedang nungguin buat dibaca. kayaknya inferno belinya pas liburan semester 2 kali ya hahahahaha
    uhh makasih pokoknya udah bikin makin penasaran~~

    Like

  16. Dan Brown. Novel nya enggak akan pernah selesai dibaca, karena deskripsinya detail banget. Setiap lembar halamannya menarik imajinasi kita melintasi waktu, ribuan tahun, melintasi benua, ribuan mil, menggerakkan jemari untuk searching, membuka jendela kesegala arah ilmu pengetahuan, sejarah, seni, agama, kebudayaan..
    Harga bukunya pantas, karena kita akan merasakan “kekayaan” pengalaman, pengetahuan dan passion setelah membacanya.
    Keberuntungan membawaku “ziarah” ke Istanbul, amazing. Sayangnya enggak sempat turun ke yerebatan sarayi.
    # nggak sabar menunggu karya berikutnya.

    Like

  17. Terimakasih sudah dibahas, aku ngikuti dari angel and demons loh, dan ketahuan bget emang gaya ‘khas’ dri sang author. Ini baca novelnya inferno masih on going tapi udh pnasaran sama endingnya. Hehehe

    Like

  18. Aku baru komen sekarang soalnya baru aja nongol trailer nya Inferno di Youtube.. Hehe..
    Kalo aku suka semua karya Dan Brown.. Memang sih kalo Deception Point & Digital Fortress ga se keren Da Vinci Code / Angels & Demons… Tapi itu karya Dan Brown sblm dia menemukan jati dirinya sbagai pnulis fiksi sejarah konspirasi..haahaha ribet amat.. Stlh Da Vinci Code yg mendunia Dan Brown dituntut utk buat karya yg lbh hebat lagi… Tp kok kalo menurutku gagal deh… Lost Symbol, Inferno aku ngerasa lbh banyak pengulasan sejarah suatu tempat atau karya seni.. Apalagi Inferno…jd ky baca ensiklopedi… Dulu Da Vinci Code aku baca 1 hari 1 malem. Nonstop!!(jaman kuliah). Berenti cm makan & kencing doank, stlh lost symbol, inferno keluar kok bacanya ga se heboh Da Vinci Code & Angels and Demons. Efek penasaran dan menggebu2 ketika baca ga ada… Tapi kita tunggu deh besok oktober filmnya inferno… Semoga lebih bagus dr Da Vinci Code & Angels and Demons… Hehehe… Btw thx ya penulis.. Penjelasannya keren, dilengkapi gambar2 juga..jd ga perlu googling… Hehehe… Sukses selalu.

    Like

    1. Aku malah belum liat trailernya ._. Ga berani .-. Takut kayak davinci code yg jauh bgt dr ekspektasi huhuhu :((

      Tapi aku bakal tetep nonton sih secara ini fave aku bgt kkkk

      Iya beda sih emang sometimes jd beban juga buat penulisnya. Tapi inferno ini aku baca juga secepet davinci code dan endingnya bagus bgt aku suka.

      Thx udh baca and komen ya. Sukses selalu u/ kamu juga 🙂

      Like

  19. liat di etalase toko buku, novel Inferno, harganya 250rb. perasaan campur aduk. pengen beli tapi muahualnya..sampe tercekat T_T nungguin e-booknya aja kali ya..hiks, ga modal. sekalian nunggu filmnya. kapan ya tayang di FOX, hehe… resensinya emang keren, lengkap! ❤ saya udah baca deception point, digital fortress juga. saking tebelnya, jadi lupa-lupa ingat ceritanya :")

    Like

  20. Cuyy.. haha. Gw dah nonton inferno barusan di bioskop. Makasih buat resensinya. Gw blom pernah baca inferno tp jadi paham filmnya gr2 baca resensi ini… yuhuuu

    Like

  21. Bagus banget pengupasan isi novel nya. Ringan tan enak diikuti.
    Boleh tau sehari – hari kerja sebagai apa dan tips bagi waktunya? aq juga seneng bgt berbagi, salah satu nya lewat blog, tapi sering kesulitan mencari waktu..
    Thanx

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s