[SPECIAL PROJECT] Lihat, Dengar, dan Rasakan

Lihat, Dengar, dan Rasakan by Chocokailate

.

-o-

 .

Ada lima alasan utama – di antara barisan alasan lain – mengapa aku membenci hidupku:

 

5. Aku dikejar-kejar dosen pembimbing skripsiku seperti buronan kelas kakap.

Itu kalau golongan terakhir dari mahasiswa ‘abadi’ di kampusku bisa dikatakan buronan. Selain sebutan semacam Mahasiswa Siluman. Ya ya ya. Apalah itu. Yang jelas, frekuensi panggilan tak terjawab dan pesan singkat yang dikirim oleh dosenku bahkan lebih banyak dari yang pernah dikirim oleh (mantan) pacarku. Menyedihkan, bukan?

 .

4. Aku sudah berada di akhir tahun ketujuh di kampus ini. Batas akhir studi yang bisa ditoleransi kampus. Dan aku terjebak dalam kondisi skripsi yang stagnan. Tidak beranjak sedikitpun dari bab pertama sejak tiga tahun yang lalu. Lebih parahnya, aku sama sekali tidak tahu apa yang akan aku tulis selanjutnya untuk skripsiku itu.

Dan ini tahun ketujuh; Tahun kalau-kau-masih-belum-lulus-juga-ya-sudah-siap-siap-saja-terdepak-ke-Antariksa.

 .

3. Pekerjaanku menumpuk setinggi Gunung Semeru.

Bagaimana bisa aku mengerjakan skripsi kalau aku bahkan tidak pernah sempat untuk datang ke kampus? Ralat, tidak hanya kampus, aku bahkan hampir tidak pernah bisa singgah cukup lama di kotaku sendiri, Surabaya. Profesiku menuntutku untuk roadshow keliling kota-kota di penjuru Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Profesiku? Bukan, terima kasih, sayangnya aku bukan artis atau anggota girlband. Yang kumaksud, bukan roadshow semacam konser. Roadshow di sini adalah berkeliling menggelar event semacam talkshow, demo masak, dan sejenisnya untuk perkumpulan ibu-ibu dharmawanita, ibu-ibu pejabat, maupun ibu-ibu PKK. Mereka bilang sih, sebutan keren pekerjaan rodi ini: Event Promotion.

Dan penderitaanku tidak cukup ‘hanya’ harus keliling separuh Pulau Jawa, lewat jalur darat, yang menyebabkan aku harus duduk tertekuk – hingga bokong panas dan kaki kesemutan – selama 12-24 jam di mobil sekali jalan.

Sebagai satu-satunya perempuan dalam tim – dan terkutuk oleh predikat ‘asisten manajer’ – aku juga harus mengerjakan Laporan Pertanggung Jawaban yang tebalnya cukup untuk menimpuk maling jatuh pingsan. Kalau setiap bulan kami menggelar sekitar 10-12 event, silahkan diperkirakan sendiri setinggi apa tumpukan laporan yang harus kubuat.

Sendirian.

 .

2. Aku dinamai dengan nama salah satu perempuan yang melegenda, Drupadi. Dan tidak seperti Drupadi asli yang luar biasa, hingga konon katanya Pandawa Lima tunduk padanya, aku selalu gagal dalam urusan percintaan. Jangankan lima suami, satu pacar pun saat ini aku tidak punya.

Ya. Di umurku yang hampir seperempat abad – umur dimana pertanyaan keramat kau-tahu-apa selalu muncul hingga membuat telinga sakit – ini, aku selalu berakhir dengan status jomblo setelah beberapa bulan menjalin asmara. Tidak pernah ada yang cocok. Pedekate–pacaran–putus. Begitu seterusnya. Datang dan pergi silih berganti, hingga rasanya aku akan muntah pelangi saking kesalnya.

Kata sahabat perempuanku sih, itu karena aku takut komitmen. Soalnya aku selalu lari menjauh ketika para lelaki itu mulai mengajak ke jenjang yang lebih serius atau mengarah ke pernikahan. Hmm… setelah kupikir-pikir, mungkin benar juga. Aku belum siap. Kenapa aku belum siap?

 .

1. Karena aku sangat butuh uang.

Orangtuaku semacam ditipu rentenir – oh, kudoakan para rentenir itu masuk neraka – dan akhirnya keluargaku menanggung beban yang membuat perutku melilit setiap memikirkannya. Ayahku sudah tua, tidak lagi mampu bekerja. Ibuku hanya bisa membuka warung sederhana. Adikku ada dua. Satu masih kuliah, dan yang satu lagi masih sekolah.

Sebagai anak sulung, tentu saja aku tidak bisa hanya berdiam diri untuk dapat terus hidup, agar adik-adikku bisa terus sekolah, dan agar kondisi keluarga kami setidaknya bisa kembali stabil seperti semula.

Itulah alasan mengapa aku mau menghabiskan beberapa tahun terakhirku dengan bekerja rodi keliling Jawa dengan jalur darat. Bergaul dengan debu, angin malam, masuk angin, kram, dan sejenisnya, hingga tidak pulang selama berminggu-minggu, bukannya duduk manis di kampus mendengarkan penjelasan dosen, ngopi-ngopi cantik di kafe, atau kegiatan normal lain mahasiswa pada umumnya.

Jadi, mengerti kan, kenapa aku belum siap? Aku masih harus membereskan berbagai kekacauan dalam hidupku terlebih dulu.

Kadang aku iri pada mereka yang hidupnya beruntung. Kaya raya, kuliah, lulus, dapat kerja enak, punya pacar, menikah, dan hidup bahagia selama-lamanya.

 .

.

~

 .

“Kamu beruntung, Dru.”

Aku mendongak dari tatapan kosong dan hampa pada tumpukan literatur di hadapanku, lalu menatap lelaki yang duduk di hadapanku. Cengiran terpampang di wajahnya seusai mendengar racauanku tentang aku-benci-hidupku.

Kami sedang duduk di salah satu sudut di perpustakaan Fakultas – salah satu dari momen langka aku bisa curi-curi kesempatan ke kampus sebelum harus berangkat lagi ke kota lain.

Wajah dan penampilan lelaki di hadapanku ini jauh lebih terawat dari pertama aku mengenalnya dulu, enam tahun yang lalu. Dulu dia gondrong, lebih suka mengenakan kaus oblong, jins kumal yang bagian lututnya sobek, dan sepatu kets belel yang bagian tumitnya diinjak. Walaupun kalau sedang berada di kampus, pakaiannya jadi sedikit lebih beradab karena peraturan Fakultas melarang siapapun yang berkostum sobek-sobek masuk kampus.

Namun kini, dia jauh – benar-benar jauh – lebih rapi. Rambut hitam tebalnya dipotong pendek, selalu pakai kemeja yang lengannya digulung hingga siku, dan sepatunya tidak lagi jenis yang diinjak tumitnya.

 .

“Beruntung apanya sih, Ar? Kamu tuh yang beruntung. Tinggal selangkah lagi kamu menuju impianmu.”

Namanya Aryasatya, aku memanggilnya Arya. Dia satu angkatan di bawahku. Yeah, dia juga salah satu dari golongan mahasiswa tingkat kritis, mengingat ini tahun keenamnya – tapi kami seumuran, karena usiaku memang lebih muda setahun dari teman-teman seangkatanku pada umumnya.

Dia adalah Ketua Ekspedisi Pendakian Pegunungan Elbrus – salah satu dari Seven Summits, tujuh puncak tertinggi di dunia. Dia bersama dua anggota klub Mahasiwa Pecinta Alam lainnya, akan membawa nama kampus kami dan Indonesia, untuk menaklukan puncak Elbrus nun jauh di Rusia sana.

 .

Aku masih ingat kata-katanya enam tahun yang lalu, ketika kami – yang awalnya hanya sebatas kakak Pendamping Kelompok dan mahasiswa baru yang sedang menjalani ospek – mendadak jadi dekat, sering mengobrol, dan berbagi mimpi.

“Salah satu dari impianku adalah membawa nama Indonesia, menaklukan salah satu puncak tertinggi di dunia, mengumandangkan Indonesia Raya, dan menancapkan Sang Saka Merah Putih di sana.”

 .

Dan dia berhasil. Setelah sekian tahun aktif mengabdi pada klub Mahasiswa Pecinta Alam di kampus kami, kemudian ditempa berbagai bimbingan jasmani, berbagai tes dalam penyeleksian, dan sebagainya, dia berhasil terpilih mengalahkan barisan kandidat lainnya.

Bahkan dia terpilih menjadi Ketua. Itulah yang membuat penampilannya sekarang jauh berubah jadi lebih terawat dan rapi. Biar tampak meyakinkan saat presentasi di hadapan sponsor, begitu alasan yang dilontarkannya ketika aku iseng meledek perubahan drastis penampilannya.

Tapi aku suka perubahannya. Dia berubah ke arah yang jauh lebih baik. Dan dia tampak jauh lebih gant–… ehem, keren – menurutku.

 .

“Ya itu. Semua yang kamu bilang barusan. Pertama, dosenmu yang perhatian—” Dia mengangkat tangan ketika melihatku membuka mulut untuk protes, “—yang mau mengingatkan kamu. Ya meskipun kamu jadi kayak semacam buron,” dia mendengus dan terkekeh geli sejenak, membuatku melotot, “Tapi kamu beruntung, Dru. Dosenmu terus-terusan mengejarmu itu kan demi kebaikanmu. Si Dodi, temanku, malah kasian. Dosennya supersibuk. Dia sering nungguin siang malem sampai jamuran biar bisa ketemuan konsultasi, sampai harus nyatronin rumah dosennya segala.”

“Serius?”

“Iya, ini akhirnya skripsinya masih gantung nggak jelas sampai sekarang. Makanya, kamu termasuk yang beruntung.”

Aku terdiam menatapnya. Benar juga sih.

 .

“Nah, masalah skripsimu. Oh meeen, kamu sanggup nulis cerpen atau apalah itu sampai beratus-ratus halaman di blogmu. Masa nulis kayak gini aja nggak bisa? Payah, ah.” Dia menjentikkan jarinya, seolah meremehkan.

Aku tergelak, merasa tersentil. “Sialan! Itu beda, tau.”

Dia ikut tertawa ketika aku meninju lengannya.

“Beda apanya? Sama-sama nulisnya, kan. Kalau cuma ngerjain skripsi kayak gini sih, kamu pasti bisa lah. Penulis keren semacam Drupadi Larasati, gitu kan.” Dia mengacungkan ibu jari dan telunjuknya padaku. “Anggap saja ini kayak nulis novel perdanamu.”

Aku tercabik, separuh tersipu malu, separuh menggerutu. “Keren apanya? Beda! Tetep aja beda bahasan yang ditulis. I hate economics.

Arya tertawa. “But, you love money.

“Tapi, bukan berarti aku nggak benci Akuntansi,” kilahku, merutuki nasibku yang salah masuk jurusan. Seharusnya aku masuk jurusan Sastra atau Komunikasi yang aku sukai saja, bukannya terjebak dalam ilmu yang di mataku terlihat abu-abu macam Akuntansi ini. Tapi, ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur.

Arya tertawa lagi, lalu mengibaskan tangannya dengan asal ke udara. “Ya terserahlah. Kalau gitu, coba pakai ilmu The power of kepepet. Paksa kerjain, pokoknya jadi. Mau nggak mau, kamu harus mau.”

Aku ikut tergelak mendengarnya. The power of kepepet. Dia benar. Di saat-saat kritis semacam ini pasti ada jalan. Ide-ide pasti bermunculan. Sama seperti waktu aku dan dia, tiap malam menjelang ujian, selalu ngebut belajar untuk mengganti berbulan-bulan kealpaan kami di kelas.

 .

Ya, kami memang sering mengambil kelas yang sama karena simbiosis mutualisme – selain karena spesies kami di kampus sudah langka. Kalau aku tidak bisa menghadiri kuliah, Arya yang akan melakukan kau-tahu-apa-agar-tidak-kena-tilang-kehadiran, untukku. Begitupun sebaliknya.

Nah, sudah lihat kan, betapa kami saling membutuhkan?

 .

Ya, sama seperti aku, Arya juga jarang masuk kelas. Persiapan untuk ekspedisi impiannya itu memakan waktu lebih dari dua tahun. Selain harus menjalani berbagai latihan fisik dan mental, dia juga harus mencari sponsor untuk mendapatkan dana yang berjumlah besar agar ekspedisi itu dapat terlaksana. Dan dia memilih untuk fokus agar impiannya tercapai.

Lagipula, mengambil mata kuliah dan kelas yang sama ini juga memudahkan ketika kami kebetulan sedang sama-sama masuk. Biasanya kami akan sama-sama bosan oleh ceramah dosen. Kami akan memilih untuk duduk di barisan paling belakang, lalu mengobrol pelan tentang petualangan kami masing-masing.

Dia bercerita tentang pendakian yang sudah pernah dilakukannya di berbagai penjuru di Indonesia, aku mengoceh tentang pengalamanku keliling Jawa.

 .

 .

“Oh, dan ngomong-ngomong masalah pekerjaanmu, coba deh minta keringanan sama bosmu.”

Aku menghela napas panjang. “Kamu sudah pernah aku ceritain, kan. Percuma bilang ke bosku. Seluruh pekerjaannya bakal tetap dilimpahkan ke aku.”

“Ya sudah, kamu laporin aja bosmu ke bos besarmu di kantor pusat di Jakarta sana.”

“Nggak segampang itu, Ar. Nggak bisa.”

“Apanya yang nggak bisa sih, Dru?” Dia maju dan mengenggam tanganku di meja. “Jangan mau terus-terusan dikasih kerjaan overload. Apalagi kalau itu sebenarnya tugasnya bosmu, bukan tugasmu. Jangan mau ditindas gitu dong, Dru.” Lalu dia menelengkan kepalanya seolah memikirkan sesuatu. “Hei, namamu itu Drupadi. Kamu tahu kan kisahnya? Kekuatan seorang Drupadi?”

 .

Aku mengerjap. Kisah Drupadi?

Lalu aku hanya bisa nyengir dan menjawab dengan jujur, “Well, aku cuma tahu dia istri dari kelima Pandawa.”

Arya menjitak dahiku dengan gemas, membuat bibirku mengerucut lalu tanganku terangkat mengusap-usap dahiku. “Masa sejarah wanita yang namanya diambil sebagai namamu kamu nggak tahu sih?”

Aku menggeleng polos dan berkelit menghindar sambil menjulurkan lidah ketika dia akan menjitak kepalaku lagi. Well, jujur saja, sejarah bukan mata pelajaran favoritku, aku lebih suka menggambar di buku pelajaranku agar tidak mengantuk ketika guru sejarah-ku mendongeng di sekolah dulu. Dan aku memang belum pernah mencari tahu sejarah Drupadi.

 .

Aku sebenarnya ingin sekali menggoda Arya, bertanya mengapa dia bisa tahu sejarah namaku – yang aku sendiri saja tidak tahu. Apakah dia memang dengan sengaja mencari tahu asal-usul namaku? Hahaha.

Tapi setelah kupikir-pikir lagi, Arya termasuk lelaki yang berwawasan luas dan tahu banyak tentang berbagai hal. Yeah, mungkin dia memang tahu macam-macam sejarah, bukan hanya namaku saja.

Jadi, kubuang jauh-jauh segala prasangka konyol itu, dan fokus untuk mendengar dongeng darinya. “Oke, jadi bagaimana ceritanya?”

 .

Arya terdiam sejenak, mengambil salah satu buku literatur yang dari tadi menganggur di meja kami dan mulai memutar-mutarnya dengan jari, lalu memulai dongengnya.

Well, dari sejarah yang aku baca, Drupadi itu wanita yang kuat. Dia menentang sesuatu yang tidak sesuai dengan hak dan nuraninya. Seperti waktu dia dijadikan barang taruhan dalam pertaruhan judi dadu oleh kakak sulung Pandawa, Yudhistira, dan Yudhistira kalah dari Kurawa, Drupadi menolak untuk menyerahkan diri. Hingga akhirnya dia diseret—”

Aku menyela mendengar itu, keningku bertaut. “Whoa, whoa! Tunggu dulu! Drupadi dijadikan barang taruhan? Kenapa?”

Hmm… mungkin karena Yudhistira sudah terlanjur malu dan diperdaya oleh musuh, Kurawa. Jadi ceritanya, gara-gara kelicikan dan hasutan dari pihak musuh, akhirnya Yudhistira mempertaruhkan seluruh kerajaan dan harta benda mereka. Kalah. Semua jatuh ke tangan Kurawa. Yudhistira bahkan mempertaruhkan dirinya sendiri dan adik-adiknya. Kalah lagi. Lalu akhirnya, dia juga mempertaruhkan Drupadi.”

Aku mencelos mendengarnya, entah mengapa merasa tidak terima Drupadi dibuat barang taruhan. “DAN DIA KALAH LAGI?”

 .

Sssst!” Tangan Arya terjulur membekap mulutku sambil menoleh ke sekelilingnya dengan khawatir. “Jangan teriak-teriak dong, Dru. Nanti bisa-bisa kita diusir dari sini.”

Ups! Sori, sori.” Aku menunduk di atas meja, baru sadar kami sedang berada di perpustakaan, dan akhirnya mengecilkan volume suaraku hingga nyaris serupa bisikan. “Habisnya tadi aku kebawa emosi. Terus, terus?” Aku mendorong Arya untuk melanjutkan ceritanya lagi.

 .

Arya menghela napas dan menyandarkan punggungnya ke sofa. “Soalnya menurut cerita, Yudhistira main polos dan jujur, sementara Kurawa main licik. Lalu, rambut Drupadi dijambak sampai sanggulnya lepas dan diseret lewat rambutnya itu ke tempat perjudian oleh Dursasana, adik dari pemimpin Kurawa,” Arya memberi jeda sejenak, sementara tanganku otomatis terangkat membekap mulutku sendiri saking ngerinya.

“Drupadi dipermalukan dan hampir ditelanjangi di muka umum. Tapi, dewa menolongnya. Sepanjang dan sebanyak apapun kain yang ditarik oleh Dursasana, tubuh Drupadi masih utuh terbungkus kain.”

 .

“Ya Tuhan…” Aku tak tahu apalagi yang harus kukatakan. Hatiku tiba-tiba terasa begitu perih seolah teriris sembilu.

“Ya begitulah, karena merasa tidak terima itu, akhirnya Drupadi bersumpah tidak akan menyanggul rambutnya sebelum keramas pakai darah Dursasana.”

Aku berjengit. Menelan ludah.

“Akhirnya setelah mereka semua dibuang dan diasingkan selama—” Arya berpikir sejenak mengingat-ingat, “—aku lupa, kalau nggak 12 ya 13 tahun, pecahlah perang melawan Kurawa. Katanya salah satu pemicu perang melegenda itu karena sumpah dari Drupadi itu. Lalu, Bima membunuh Dursasana dan membawakan darahnya untuk dibuat keramas Drupadi.”

 .

Aku membeku selama beberapa saat. Tidak menyangka ternyata sejarah Drupadi begitu luar biasa. Membuatku bergidik merinding. Hingga akhirnya Arya melambaikan tangannya di depan mukaku, memanggilku. “Dru?”

“Ya?”

 .

Matanya menatapku tajam selama beberapa saat, seolah memastikan aku sudah tersadar sepenuhnya atau belum.

Well, inti yang mau aku sampaikan di sini adalah, Drupadi itu wanita yang santun dan penurut ketika diminta untuk berbagi dengan lima suami,” Arya mencodongkan tubuhnya ke depan, memastikan aku mendengar perkataannya, “Namun dia juga kuat, tidak menelan mentah-mentah ketidakadilan dan penderitaannya begitu aja. Jadi, kalau kamu merasa tertindas dengan pekerjaanmu yang overload, menurutku paling tidak kamu harus—”

“Keramas?” potongku.

 .

Arya memutar bola mata kesal, membuatku nyengir bersalah. “Iya, iya, bercanda. Aku ngerti, kok. Nanti aku coba ngomong lagi deh sama bosku. Kalo masih nggak dikasih juga, ya sudah, aku mengajukan permohonan mengundurkan diri saja.”

“Nah, begitu dong. Tunjukkin bargain power-mu. Aku yakin bosmu nggak bakal mau kehilangan kamu. Dia pasti mengabulkan keringanan tugasmu. Demi skripsimu. Skripsimu ini kan darurat. Butuh perhatian lebih. Cuti deh kalo perlu.”

“Iya, iya, aku tahu.”

Kadang aku merasa Arya lebih mengkhawatirkan keadaanku ketimbang aku sendiri.

 .

Kurebahkan kepalaku ke atas meja, tiba-tiba merasa lelah. “Andai aku nggak perlu harus repot kerja gini ya, Ar. Andai aku bisa duduk manis, kuliah normal, lulus tepat waktu. Andai aku kaya raya, atau paling nggak, nggak perlu pusing mikirin harus bayar ini itu. Mungkin aku bisa mencapai impian-impianku…”

Tanpa sadar aku mendesah resah, mengingat sekarang aku bahkan sudah jarang sekali menulis, karena tidak sempat. Lalu, bagaimana aku mau menggapai mimpi menjadi seorang penulis yang menghasilkan buku yang berguna bagi seluruh orang yang membacanya?

Arya terdiam cukup lama sebelum kurasakan tangannya menepuk-nepuk pelan kepalaku. “Hei, hei. Bukankah kamu sudah mencapai salah satu impian terbesarmu?”

 .

.

~

 .

Kutatap punggung yang sedang menggoreng lauk di dapur. Terbayang jelas kerut-kerut tipis yang mulai muncul di wajahnya. Sanggul rambutnya yang mulai tipis, uban yang mulai bermunculan. Perutnya yang mulai membuncit… semoga bukan karena penyakit.

dan tiba-tiba saja aku merasakan mataku memanas.

 .

“Bukankah salah satu impianmu adalah membuat ibu dan ayahmu bahagia? Impianmu mulia, Dru. Sebelum kamu mengabdi pada Ibu Pertiwi dengan menghasilkan karya, kamu memilih untuk mengabdi terlebih dahulu pada ibumu, pada orangtuamu.”

Perkataan Arya menyadarkanku.

 .

Ibu. Itulah alasanku melakukan semua ini. Tidak sepantasnya aku mengeluh dengan semua kepenatan dan lelahku. Semua yang kulakukan saat ini bahkan tidak sebanding dan tidak akan cukup untuk membalas kasih sayang ibu dalam membesarkanku selama ini.

Tidak ada yang lebih kuinginkan di dunia ini selain membuat ibu bahagia.

Selagi sempat.

Selagi aku dan ayah-ibuku masih diberi kesempatan untuk menghirup udara dan berpijak di bumi oleh Tuhan. Usia manusia tidak ada yang tahu, kan?

 .

Lho, nduk. Sudah pulang?” Tiba-tiba ibu sudah berdiri di hadapanku. Mungkin tadi beliau tidak mendengar aku yang berjingkat-jingkat masuk ke dapur dan duduk memandangi punggungnya. Aku tersenyum, lalu bangkit berdiri untuk memeluknya erat.

Hangat. Pelukan ibu selalu hangat.

Pelukan ibu selalu jadi obat terampuhku. Penghapus lelahku.

“Iya, aku pulang, Bu.”

 .

~

 .

 .

Sekarang aku punya lima alasan utama – di antara ribuan barisan alasan lain – mengapa aku mencintai hidupku.

5. Aku baru menyadari bahwa dosenku baik hati. Mau mengejarku dan mengingatkanku agar aku tidak sampai terkena batas tujuh tahun itu. Aku beruntung dapat dosen pembimbing yang begitu perhatian padaku, bukan?

4. Kuliahku memang dalam masa kritis, tapi aku pasti bisa menuntaskan skripsiku. Aku pasti bisa lulus. Dan lagi, aku sudah punya pekerjaan bahkan jauh bertahun-tahun sebelum aku lulus, di saat teman-temanku yang lain harus susah payah mencari pekerjaan. Bukankah aku harusnya bersyukur?

3. Baiklah, pekerjaanku memang menyiksa. Tapi, bukankah pengalamannya luar biasa?

Hei, siapa tahu suatu saat nanti, aku bisa menulis tentang perjalanan keliling Jawa itu? Mungkin saat itu aku juga bisa mencari pekerjaan yang bisa membawaku keliling Indonesia! Aku memang tidak bisa membawa nama Indonesia ke puncak tertinggi di dunia seperti yang Arya lakukan. Tapi seperti kata Arya, nanti aku pasti akan punya cara sendiri untuk menunjukkan pengabdianku pada Ibu Pertiwi.

 .

2. Aku punya nama yang keren. Drupadi. Oh, by the way, sampai detik ini aku masih merinding tiap membayangkan kisah tentang Drupadi.

Dan oke, aku memang jomblo. Tapi, aku punya partner in crime semacam Arya. Dia baik, cerdas, punya semangat yang tinggi dalam menggapai visinya – tahu kan, pria yang punya passion dalam hidup itu selalu terlihat hot.

Terkadang, aku berpikir, jangan-jangan kami jodoh. Maksudku, saat ini sih aku belum siap menjalin komitmen dengan pria manapun, dan dia setipe denganku. Selama ini ketika aku iseng meledeknya yang bertahan jomblo dan tidak menghiraukan rayuan gadis-gadis, dia selalu bilang itu karena dia berjiwa bebas, tidak mau dikekang oleh yang namanya pacaran, dan ingin fokus terlebih dahulu pada impiannya.

Jadi, berharap sedikit boleh, kan? Siapa tahu, suatu saat dia capek ‘berpacaran’ dengan gunung, sudah puas dengan impiannya, dan mulai melirikku. Dan siapa tahu, saat itu tiba, aku juga sudah siap berkomitmen. Uh, yeah!

 .

1. Inilah alasan utamaku mencintai dan bersyukur atas hidupku. Tak peduli seberapa kesalnya aku pada dunia, aku masih punya tempat pulang.

Pelukan ibu.

Walaupun aku tidak kaya, jomblo, sedang pusing dengan masa-kritis-kuliah, dan perlu bekerja banting tulang agar dapur-tetap-mengepul-dan-tidak-dikejar-kejar-para-lintah-darat…

aku punya harta yang tidak akan mampu diganti dengan uang sebesar apapun:

Keluarga.

 .

.

Maka, nikmat-Nya yang manakah yang akan aku dustakan?

 

 .

 .

.

-o-

Hidup ini menyenangkan atau menyedihkan,

bergantung pada cara kita memandang dan menghargainya.

-o-

.

.

.

Advertisements

58 comments

  1. Keren kak hilda!

    Sedikit ngerasa senasib ama Drupadi, ga lulus2 (tp belom bisa disebut mahasiswa abadi), bingung mau milih kerja apa skripsi tamatin dulu, anak pertama dari keluarga yg butuh uang. Tapi yaaa, harus bersyukur… makasih ya fiksinya kak ^^

    Like

  2. Pingin meluk ibu terus bilang makasih atas semua yg beliau lakuin buat aku selama ini. Ni cerita memotivasi bgt buat aku yg bakalan mnghadapi akhir2 semester buat g mnunda-nunda kelulusan. Klo Dru nge-PHPin dosen lah klo aku di-PHPin sm dosen trololol.. Pesannya dalem bgt ini… Hoho I like it!

    Like

  3. Kak Hilda sukanya bikin orang nangis ya……. T_T
    Jadi pengen dipeluk ibu setelah baca ini huhuhu
    Jadi keingetan sama ‘ehem’ yang setipe-tipe Arya gitu deh yang sukanya pacaran ama gunung XD

    Pesan moralnya juga dapet ini sih intinya bersyukur harus kudu wajib,
    Keren Kak, pokoknya selalu keren tulisan kakak mah.
    Ditunggu yang selanjutnyaaa ^^
    xoxo

    Like

  4. Dalam sekali, Hil…. Dan aku setuju bgt sama pesan di tulisan ini…kalo baik buruknya sesuatu ya tergantung gimana kita memandangnya….

    Maka nikmat-Nya yg mana yg akan aku dustakan?
    Jawabannya, Nggak ada…

    Subhanallah… Sungguh Allah itu Maha besar. Betapa ingkarnya kita kalau mendustakan nikmat”Nya.

    Like

  5. Like this yoooo like this *ala WG* 😀
    Setuju lah sama kalimat terakhirnya. Semuanya tergantung bagaimana cara kita memandangnya! Pesan moralnya dapet 😀
    Dan btw Drupadi itu hampiiiirrrr kaya aku. Cuma di beberapa point doang sih hahaha jadi berasa berkaca sama kehidupan sendiri, dan thankssss banget ka, setelah baca ini mindset aku berubah -setidaknya- sedikit :p

    Like

  6. Dru sama kayak aku, salah masuk jurusan T_T
    cuma gak ada jalan lain selain jalanin aja apa yg udah ada, karna nasi udh jadi bubur. mau pindah jurusan juga udh tahun terakhir. insya Allah lulus tepat waktu :’) /curhat/
    ceritanya keren, maknanya dalem.. Lihat, Dengar, dan Rasakan.. jangan lupa untuk selalu Bersyukur :’)

    Like

  7. Oke kak hil~ ini bisa membekaliku untuk kedepannya~ part yang terakhir itu bikin yaaaa cedihhh~ inget emakkkk … Aku suka quotesnya kak hohohhoo sukses terus yaaa kakkk,

    Betewe ya kak ini aryanya gak jadi nikah sama si dru??? Aduhh eman sekaliii-_-

    Like

  8. beneran deh baca ini mesti bnyk2 intropeksi diri,..
    selalu bersyukur atas nikmat yg diberikan Allah,.. 🙂
    pasti ad hikmah d’balik semuanya,..
    trs pas baca yg ini,..
    Ibu. Itulah alasanku melakukan semua ini. Tidak sepantasnya aku mengeluh dengan semua kepenatan dan lelahku. Semua yang kulakukan saat ini bahkan tidak sebanding dan tidak akan cukup untuk membalas kasih sayang ibu dalam membesarkanku selama ini.
    Tidak ada yang lebih kuinginkan di dunia ini selain membuat ibu bahagia.
    terharu bacanya, pengend lngsung meluk mama,.. :”)
    orific inspiratif sekali kak,..
    trs ditutup am quota yg indah deh,.
    Hidup ini menyenangkan atau menyedihkan,
    bergantung pada cara kita memandang dan menghargainya.

    Pkkny d’tgg trs tulisanny kak hilda,..
    Fighthing,.. 🙂

    Like

  9. udah deh, kalo baca atau denger kata ibu atau keluarga mata langsung berkaca-kaca abis itu banjir T__T
    Semacem petuah aja ini cerita, berguna bgt buat hidup.
    Nice story^^

    Like

  10. “Hidup ini menyenangkan atau menyedihkan,

    bergantung pada cara kita memandang dan menghargainya.”

    satu kalimat yang merangkum seluruh isi cerita. Bersyukur, bersyukur, bersyukur. Tuhan itu baik. 🙂

    Like

  11. kereeeeeeen.
    Yah, bener. suka sama quote yg terakhir 😀 hidup itu tergantung sm kita, mau diliat dr sisi mana. Pas pertama baca kan ngenes yak. Nah ternyata kalo diliat dr sisi yg berbeda, banyak bgt hal yg perlu disyukuri
    sip. good job 😉

    Like

  12. Pesan moralnya adalah akinlah bahwa kamu bukan orang yang paling merana sedunia.
    Buktinya banyak kan yang merasa mirip sama cerita di atas. Hahaha..

    Oh, aku suka penjabaran waktu si Dru ngaku jangan2 dia jodoh sama Arya dan nganggep Arya itu hot. Hakhakhak

    Like

  13. Saat stuck dengan skripsi yang super duper telat dari anak2 lain, baca ini T___T
    Astaga ini ff bener2 pendongkrak semangat
    Terima kasih udah bikin ff ini dengan pesan seperti ini
    Bikin aku sadar bahwa bener kalau “Hidup ini menyenangkan atau menyedihkan, bergantung pada cara kita memandang dan menghargainya.”
    Ini ff bener2 jadi moodbooster :’

    Like

  14. wow ceritanya luar biasa kerennn 🙂

    Inspiratif, dari cerita ini aku mendapat pandangan baru tentang hidup, walaupun diluar sana banyak motivator2 yg tk pernah kehabisan kata2 untuk memberikan input positif, tapi jujur kadang semangat itu hanya bertahan di tempat dan setelahnya lupa lagi,,
    Karena aku lebih suka tulisan, mungkin, jadi inilah salah satu favorit q,, *lebih berkesan..
    Authornya emang slalu keren hh 🙂

    Like

  15. crita yang awesome!! jujur aku gak pernah dpet crita yang ngambil bnyak hikmah ini… patut dicontoh.. mengingat kau kls 12 skarang yg diambang klulusan… lalu kuliah kerja bla bla…

    Like

  16. crita yang awesome!! jujur aku gak pernah dpet crita yang ngambil bnyak hikmah ini… patut dicontoh.. mengingat aku kls 12 skarang yg diambang klulusan… lalu kuliah kerja bla bla…

    Like

  17. aku suka bagian terakhirnya, ah tidak, aku suka seluruh bagian ceritanya.
    hari ini meski ga pergi kemana-mana tapi aku dapet banyak pelajaran dan semangat baru.
    thanks…
    salam kenal 🙂

    Like

  18. dari benci jadi cinta sama hidup..
    ciee ciee jangan-jangan nanti dari temen jadi demen nih sama si Arya ehemm~

    kata dosenku, apapun pasti bisa dilakukan kalo kita lagi kepepet..apalagi kalo ngerjakan tugas akhir kuliah..dan itu pernah kubuktikan sendiri 🙂

    kak Hilda, kenapa pas bagian “pria yang punya passion dalam hidup itu selalu terlihat hot” aku malah ngebayangin Kai? mana bayangannya dia lagi nari pula –“

    Like

    1. Dru sama Arya? amiiiiinnnnn :’) hihihi

      betul, the power of kepepet xD

      Lah, kenapa jadi Kai, hihihi xD
      Tapi iya, Kai juga hot karena dia punya passion yang tinggi dalam menggapai mimpinya :’)

      Like

  19. Mbak Hilda, aku muncul!!! ^^

    Dulu aku juga sempat menuliskan cerita tentang seseorang yang memiliki poin2 yg dia benci dalam hidupnya tapi akhirnya naskah itu kuhentikan. Heheee. Sama denganku, kadang aku juga berpikir kayak Drupadi smpe akhirnya ya aku sadar, semua yang terjadi itu ada alasannya, yg pasti semua itu akan memberikan pengalaman dan pelajaran yang nggak mungkin didapet kalo kita nggak mengalaminya dulu.

    Nice story… Aku suka… 🙂

    Like

  20. Mas Arya ini … udah cinta gunung, wawasan luas, kece, ditambah bijak pula! Tipe2 pria idaman. Lol *salah fokus*
    emang yaa, hidup itu jangan selalu ngeliat ke atas. Tp harus juga disyukuri nikmat yang telah Dia berikan sekecil apapun itu. Alhamdulillah o:)
    dalem banget ini pesan moralnya..

    Like

  21. Baca ulang. LHOOOOOOOO HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHA

    Eh Hil, bahkan di komen pertamaku pun aku malah merhatiin soal sepele. Lihat deh komen di atas. Sayangnya dulu aku nggak mudeng :p

    Like

  22. Ya ampun, ini keren lo. Beneran 🙂 Drupadi emang perempuan yang keren di samping dia punya lima orang suami 🙂 Mungkin bisa dilanjutin? Maksudnya kan belum diceritain gimana si Drupadi nanti pontang-panting dengan perjuangan-menulis-skripsi dan impian Arya yang mau ekspedisi. Apa mau dibuat novel nih?

    Aduh, pokoknya keren deh. Dua jempol buat author yang nulis 🙂

    Like

  23. semacem dapet renungan abis baca cerita ini. apa ya? intinya ngena, simple, pokoknya bikin aku sebagai pembaca jadi merenung, tapi serius aku suka banget. tersentuh pas baca.

    “Maka, nikmat-Nya yang manakah yang akan aku dustakan?” ngomong-ngomong kalimat ini kayak terjemahan dari ayat al-qur`an. bener engga, sih? serius keren banget.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s