EXO ONESHOT SERIES – #KAI

hilda

Untuk dapat mencapai tujuan,

Cinta butuh waktu seperti kaki butuh sepatu.

..

“Jadi, kali ini perempuan mana lagi yang kau campakkan, Kai?”

Seorang gadis bergumam pelan sementara dirinya berdiri di depan cermin setinggi badan dalam kamar bernuansa pastel yang hangat. Gadis itu merapikan poninya dan mengecek bulu matanya sekali lagi untuk memastikan maskaranya tidak belepotan.

Tidak ada sahutan atas pertanyaannya tadi.

Gadis itu masih fokus pada penampilannya yang tampak di cermin. Lalu, pandangannya turun ke bawah, merapikan lipatan pada strapless little black dress menawan yang dikenakannya. Kemudian kembali mendesah pada cermin, “Kenapa perasaanku tidak enak ya, Kai? Aku merasa ada yang kurang, tapi aku tak tahu apa.”

.

Di balik balutan gaunnya, jantung gadis itu berdegup kencang. Malam ini istimewa, karena lelaki yang selama ini dicintainya akhirnya mengajaknya candle lite dinner berdua. Kalau beruntung, dia mungkin akhirnya bisa mengutarakan perasaannya setelah bertahun-tahun menunggu. Namun, entah kenapa perasaan cemas itu bergelayut di hatinya sepanjang malam.

”Tak ada yang salah dengan penampilanku, kan?”

Masih hening. Tidak ada sahutan.

YA! Aku bertanya padamu, Kim Jongin! Apa kau kira aku mengajak ngobrol cermin dari tadi, hah?” Gadis itu menatap tajam lelaki berambut hitam yang sedang berbaring malas di kasur di belakangnya, melalui cermin, tanpa menoleh.

.

Kim Jongin, yang dipanggil gadis itu dengan panggilan Kai, dan sedari tadi hanya berbaring diam membisu dengan kepala bersandar pada tembok untuk mengamati gerak-gerik sang gadis, akhirnya mengangkat tubuhnya dalam satu lontaran untuk bangkit dari kasur yang dibalur selimut bermotif tartan.

Lelaki itu menguap malas sambil mengacak-ngacak rambutnya yang hitam lebat, lalu berjalan perlahan ke arah sang gadis tanpa melepaskan pandangannya dari mata cokelat cemerlang yang menatapnya balik dari cermin.

Jongin berdiri di belakang gadis itu, menyibakkan rambut hitam panjang yang terurai di bahu sang gadis, lalu meletakkan dagunya dengan manja di sana. Lengan Jongin melingkari bahu sang gadis. Memeluknya dari belakang. Mata hitam tajam milik Jongin bertemu dengan mata cokelat cemerlang milik gadis itu melalui cermin.

Lalu, Jongin menunduk dan membenamkan wajahnya di bahu gadis itu. Menyesap aroma buah dan bunga yang menguar dari kulit gadis itu. Aroma familiar yang selalu membuat Jongin merasa tentram. Ingin selamanya tenggelam di situ.

.

“Kau gadis paling cantik yang pernah kutemui, Choi Minji,” bisik Jongin dari sela-sela bahu gadis itu. Dan Kim Jongin tidak bercanda ketika mengatakannya. Kalimat itu meluncur dari dasar lubuk hatinya.

Namun, yang dipuji malah mendengus mendengar kalimat itu, kemudian terbahak geli, melepaskan tubuhnya dari Jongin, dan berbalik sambil mencibir. “Yeah. Please. Simpan rayuan picisanmu untuk barisan gadismu itu, Kai. Tidak akan mempan padaku.”

Sebersit rasa sakit terbit di hati Jongin mendengar itu, namun dipaksanya untuk tetap tersenyum tipis.

Kalau setiap perkataanku selalu kau anggap rayuan gombal, lalu aku harus berkata apa lagi untuk mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya, Minji?

 .

“Memangnya kau mau bertemu dengannya dimana, sih? Kenapa kau berdandan seperti ini?” tanya Jongin menatap Minji yang kini  sibuk memasang Jimmy Choo strappy high heels di kedua kakinya.

Minji memandang puas pada sepatu berhak tinggi yang terlihat sangat cantik di kakinya, lalu menarik napas dan memejamkan mata sejenak membayangkan sepatu yang indah itu akan menyiksa kakinya selama beberapa jam ke depan. Namun, Minji segera memasang mood terbaiknya, mengingat dirinya akan bertemu dengan lelaki yang istimewa di hatinya, yang bahkan mengajaknya makan malam di restoran paling romantis yang pernah Minji dengar.

Minji mendongak menatap Jongin, tersenyum lebar, dan mengedipkan sebelah matanya. “Ra-ha-si-a!”

“Biar aku antar—-”

“—Tidak. Aku bisa sendiri, Kai. Berapa kali harus kukatakan—”

“—Kalau begitu kenapa dia tidak menjemputmu?”

“—Ya Tuhan, aku benar-benar akan terlambat—”

“—kau harus berangkat sekarang? Kau bahkan belum mendengarkan ceritaku!” tuntut Jongin setengah merajuk, meski sebenarnya dia bahkan sedang tidak berselera untuk bercerita.

“Tadi kan aku sudah bertanya padamu sepanjang malam, salahmu sendiri diam saja. Lagipula, nama gadis terakhir pun aku sudah lupa! Terlalu banyak gadis, Kai. Dan masalahmu itu selalu sama. Kau tidak bisa menyukai satupun dari mereka, kan?”

Ya, itulah masalahku. Terlanjur jatuh hati padamu hingga tidak ada gadis yang mampu mengisi hatiku selain dirimu. Kau tahu?

 .

Minji mengerling ke arah Jongin yang hanya membisu menatapnya, lalu mendesah, “Aku harus benar-benar berangkat sekarang, Kai. Kau tidak pulang ke rumahmu? Apa kau mau nonton di kamarku saja? Aku membeli beberapa kaset DVD film baru kemarin, coba kau periksa.”

Jongin menggeleng. “Aku pulang ke rumah saja setelah ini.”

Enak saja Minji menyuruhnya nonton film sendirian. Apa enaknya nonton tanpa ditemani sahabatnya sejak kecil itu?

.

Jongin sudah terbiasa menonton berdua saat weekend, di sofa, dengan Minji yang meringkuk bergelung hangat di lengannya atau sekedar bersandar di bahunya. Di lain weekend, lelaki itu yang berbaring sepanjang sofa dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Minji. Kemudian merasakan bagaimana jemari ramping milik Minji menyusuri kepalanya, menyisiri dan memainkan helai rambutnya.

Jongin terbiasa merasakan hangatnya keberadaan Minji di sampingnya. Jadi, dia tidak akan mau menonton sendirian, tidak tanpa Minji.

“Baiklah, aku berangkat, oke?” pamit Minji sambil menoleh, kemudian tertawa, “Jangan bersedih begitu, Kai. Kau kan sahabatku! Kau tidak akan pernah kehilanganku,” godanya riang sebelum menutup pintu.

Aku tahu, Minji. Dan untuk saat ini, itu saja sudah cukup bagiku.

 .

***

.

Kim Jongin sadar betul bahwa dirinya dianugerahi wajah tampan dan kemampuan untuk dapat membuat para gadis di dunia ini bertekuk lutut, hanya melalui satu kedipan mata dan satu senyuman seksi. Namun, yang tidak dia pahami adalah bagaimana hatinya tetap tidak tersentuh oleh satu pun dari mereka yang berjejer dan berlomba merebut perhatiannya itu.

Sebanyak apapun Jongin mencoba kencan dengan berbagai gadis, mulai dari yang paling cantik hingga yang paling nyeleneh, semua berakhir gagal. Mereka tetap tidak bisa meluluhkan hatinya. Bahkan primadona paling populer di kampusnya, Jung Soo Jung, pun akhirnya hanya bisa menelan pahit permintaan maaf dari Jongin yang tidak bisa membalas cintanya.

Penyebabnya hanya satu. Choi Minji.

.

Lelaki itu tidak tahu persisnya sejak kapan perasaan cintanya pada sang sahabat muncul. Yang jelas ketika Jongin menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Choi Minji tergila-gila pada seorang senior tampan yang baik hati sejak mereka duduk di bangku kelas satu SMA dulu, dan gadis itu tetap mencintai lelaki yang sama hingga kini, hingga entah sampai kapan Jongin tidak berani menebak.

Ironis, mengingat Kim Jongin sudah mengenal Choi Minji hampir sepanjang hidupnya.

Sejak gadis itu tiba-tiba datang menyerbu hidupnya ketika mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu Jongin kecil yang sedang kelaparan sengaja tidur-tiduran di atap sekolah karena lupa membawa bekal makan siang. Lalu, tiba-tiba Minji datang untuk membagi bekal makan miliknya, menyuapi Jongin dengan paksa yang membuat anak lelaki itu shock, dan berhasil merebut perhatian lelaki itu dengan menirukan suara Crong, karakter favorit Jongin di kartun Pororo.

Lalu mereka berbagi bekal, berbagi sumpit, dan berbagi tawa. Sejak itulah Minji resmi menjadi bagian hidup Jongin.

.

Jongin punya banyak teman baik. Tapi, yang benar-benar bisa menembus benteng yang dibangunnya dan berhasil benar-benar dekat dengannya hingga Jongin bisa menunjukkan karakter aslinya, hanya segelintir orang.

Minji termasuk di dalamnya, menjadi satu-satunya perempuan dalam inner circle Jongin, selain ibunya. Kedua kakak perempuannya Jongin saja tidak bisa sedekat seperti Minji pada adik lelaki mereka.

.

Persahabatan Minji-Jongin tidak berubah ketika Jongin mulai ikut kelas menari dan bertemu dengan Lee Taemin, senior yang punya kemampuan luar biasa di kelas menari, dan mendaulat lelaki itu menjadi sahabat sekaligus saudara. Terkadang Jongin mengajak Minji dan Taemin untuk menghabiskan weekend bertiga.

Minji-Jongin juga tetap bersahabat ketika duduk di bangku SMP. Jongin tetap menjadi pemuda yang hobi tidur di atap sekolah, dan Minji tetap bertugas membangunkannya dengan berbagai cara, dengan manis, dengan paksa, bahkan menyeretnya kalau perlu. Minji tetaplah Minji yang cerewet bagi Jongin. Minji yang suka mengatur, namun perhatian.

Begitupun ketika mereka menginjak SMA, ketika sahabat Jongin bertambah satu lagi yaitu lelaki tinggi kurus bernama Oh Sehun, yang menjadi rekan yang duduk di samping mejanya, sementara Minji terpisah kelas dengannya. Persahabatan mereka tidak berubah.

Minji tetap menjadi nomor satu bagi Jongin.

.

***

.

“Aku berusaha menjadi yang nomor satu baginya, Kai. Tapi… sekeras apapun mencoba, ternyata aku memang tidak bisa menjadi nomor satu,” desah Minji. Mata gadis itu berkilat, bibirnya tersenyum miris sementara kakinya menyusuri undakan paving pembatas jalan tanpa alas. Sepatu Jimmy Choo nya tergeletak begitu saja, tidak jauh dari situ. Tubuh Minji yang masih berbalut strapless dress sedikit menggigil karena udara malam itu menggigit kulit.

Saat itu dini hari, dan Minji baru saja berhasil memacu jantung Jongin berlari. Lelaki itu mencelos ketika tadi dia mengangkat telepon dari Minji dan mendengar suara gadisnya itu tersendat-sendat, memintanya untuk datang ke Taman Yeouido. Jongin hampir benar-benar terbang ketika menghampiri Minji yang berdiri hampa di sana.

.

“Aku tidak pernah bisa, Kai…” desah gadis itu sedih.

Minji masih menyusuri undakan paving pembatas jalan dengan Jongin berjalan pelan di sisinya menggenggam erat salah satu tangannya. Badan Minji oleng ke samping, yang langsung ditangkap dengan sergap oleh Jongin. Yang ditangkap malah mengikik geli seolah gadis itu sedang mabuk usai menegak bergelas-gelas alkohol.

Rambut panjang Minji terurai berantakan menutupi sebagian mukanya, membuat Jongin turun tangan merapikan rambutnya. Jongin melepas salah satu gelang yang berbahan lentur dari tangannya yang gelap, lalu mengikat rambut Minji ke belakang membentuk ekor kuda.

Jongin mengenal Minji seperti mengenal urat nadinya sendiri, sahabatnya itu tidak bisa minum alkohol, gadis itu membenci dan tidak akan pernah mau menyentuh alkohol. Jadi, lelaki itu tahu Minji-nya malam ini aman dari alkohol. Yang membuatnya was-was adalah, dia tahu bahwa sahabatnya itu tidak aman dari kehancuran hati.

.

“Kau tahu Kai?” tanya Minji, menatap hampa pada udara kosong di hadapannya.

Hm?” sahut Jongin sambil membantu gadis itu duduk di bangku taman dan memakaikan jaket tebal – yang tadi sempat disambarnya sebelum berangkat karena ingat Minji tidak membawa jaket – ke tubuh gadis itu, lalu menarik resletingnya, memastikan tubuh gadis kesayangannya itu aman dari udara malam.

“Untuk bisa mencapai impian, dibutuhkan pengorbanan dan kesabaran. Begitupun dengan mencintai seseorang. Untuk mencapai tujuan, cinta itu butuh waktu seperti kaki butuh sepatu. Kau mengerti?”

.

Jongin duduk di samping Minji dengan tenang, sambil memandang air mancur warna-warni yang menyembur indah di hadapan mereka.

Lelaki itu diam saja, menebak-nebak akan kemana arah pembicaraan ini akan berjalan. Seperti yang sudah-sudah, ketika sedang sedih dan kacau, Minji akan meracau. Mendongeng pada Jongin mengenai semua pendapat gadis itu tentang apa saja.

Lalu, seperti biasa, Jongin akan menatap gadis itu, menyimak kata demi kata yang dituturkannya, mengangguk, dan tersenyum pertanda mengerti.

Minji pendongeng yang baik, sedangkan Jongin adalah pendengar yang setia.

.

“Kaki butuh sepatu untuk berjalan, karena sepatu adalah pondasi untuk melangkah. Sepatu berkorban demi melindungi kaki. Menempa panasnya aspal jalanan, kubangan air, kerikil, dan berbagai hal jahat lainnya dengan penuh kesabaran—” Gadis itu menoleh ke bawah kakinya dan mencari-cari sepatunya dengan liar, Jongin berdiri dan memungut sepatu Minji yang tergeletak tak jauh dari mereka, dan menyerahkannya pada sang pemilik.

Alih-alih memakai sepatunya, Minji mengacung-acungkan benda itu ke udara, “Itu semua pengorbanan sepatu agar kaki selamat sampai tujuan. Kaki kita butuh sepatu untuk bisa melangkah mencapai tujuan, Kai. Mengerti?”

Minji menjelaskan dengan nada satu ditambah satu sama dengan dua, sementara Jongin hanya mengangguk singkat seperti murid yang patuh pada ibu guru.

.

“Begitupun dengan cinta. Cinta butuh waktu, Kai. Menunggu dengan kesabaran, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Di saat itulah cinta kita diuji, sanggupkah untuk terus berjalan dan bertahan atas nama cinta?”

Gadis itu menarik napas sejenak, masih menatap air mancur yang berkilauan.

“Waktulah yang akan menentukan besarnya cinta itu sendiri, Kai. Apakah ia akan habis terkikis, atau justru semakin bertambah besar.”

.

Jika cintaku padamu sejak dulu sanggup bertahan hingga saat ini, menurutmu sebesar apakah cintaku padamu, Minji?

Jongin lagi-lagi hanya mampu bersuara dalam hati dan menatap Minji dalam hening.

.

“Dan waktuku telah habis, Kai. Sepatuku ini—” Minji mengacungkan sepatu ditangannya lagi, “—tak peduli secantik apapun sepatu ini, tidak berhasil membawaku ke tujuan. Aku gagal, sepatu ini gagal.”

Minji menelan ludah, pahit.

“Aku dengan bodohnya berharap bahwa tadi akan menjadi malam romantis kami. Bahwa dia sudah menyerah menunggu perempuan yang dicintainya, dan akhirnya berpaling padaku. Padahal kau tahu, Kai?”

Minji mendongak dan mengerjapkan matanya. “Ternyata tadi dia malah bercerita dengan polosnya bahwa dia akan mengejar gadisnya ke London.  Dia akan pergi jauh.” Minji menjatuhkan sepatunya.

“Dia bahkan sama sekali tidak melihatku yang selama ini dengan bodoh bersabar menunggu balasan cintanya. Seharusnya aku sadar bahwa dia selalu, dan akan selalu, menganggapku seolah aku adalah adik perempuan kecil. Bodoh kan aku, Kai?”

.

Bagaimana dengan aku, Minji? Kalau kau menyebut dirimu bodoh, maka aku adalah orang paling bodoh sedunia karena tergila-gila padamu.

.

“Waktu akhirnya tadi dia pamit pergi untuk mengejar dan melamar gadis itu…” Minji menarik napas lagi, kali ini dalam-dalam sebelum melanjutkan, “aku tahu waktuku sudah habis. Aku tidak akan pernah bisa bersamanya, Kai.”

Bulir bening akhirnya menetes dari kelopak mata Minji yang indah. Hati Jongin mencelos dan teriris melihat itu. Minji adalah gadis paling tegar yang pernah lelaki itu kenal. Selama ini sahabatnya itu hampir tidak pernah menangis, sesakit apapun apapun situasinya. Ini berarti kesedihannya mencapai puncak.

Jongin membeku, bahkan untuk mengusap bulir bening itupun ia tak mampu.

.

“Kai…” panggil Minji setelah beberapa saat, memecah keheningan mengerikan pada senyapnya malam.

Hm?” Jongin menoleh, menatap mata cokelat cemerlang yang sedang memandanginya.

“Menarilah untukku.”

“Sekarang? Di sini?” Jongin memandang sekelilingnya. Taman Yeouido yang sangat luas dini hari itu sangat sepi, meski seluruh air mancur di tengah taman ini masih bergantian menyembur berkilau indah.

“Bukan, tahun depan, di tengah hutan.” Bibir Minji mengerucut, tangannya menyusut berkas air mata yang tersisa di sudut matanya. “Tentu saja sekarang, Kkamjong!”

.

Seulas senyum tipis terbit di bibir Jongin mendengar panggilan itu terdengar lagi. Minji akan memanggilnya Kkamjong ketika dia gemas setengah mati atau sebal pada Jongin. Sama seperti panggilan ‘Kai’, Minji – lah yang menciptakan panggilan ‘Kkamjong.’

Ketika itu mereka sedang pergi makan dan nonton bertiga. Minji, Jongin, dan Oh Sehun. Panggilan itu asal meluncur begitu saja dari mulut Minji ketika melihat Jongin dan Sehun duduk bersebelahan. Jongin tampak hitam di sebelah Sehun yang berkulit sangat pucat.

Dark Jongin. Lalu, Minji dan Sehun menggoda Jongin sepanjang hari dan berakhir dengan mereka bertiga tertawa terpingkal-pingkal. Tidak peduli seluruh orang yang berada di sekitar memberi  tatapan tercabik antara kesal dan prihatin dengan kewarasan mereka.

.

Jongin berpura-pura menghela napas berat. “Baiklah, Choi Minji. Berhubung kau adalah fans setiaku, akan kukabulkan permintaanmu,” ujarnya sambil menggerakkan bahu, tangan, dan kakinya, melemaskan semua persendian, dan bersiap untuk menari.

Aku akan melakukan apapun agar kau tidak bersedih, Minji. Bahkan jika aku harus menari sepanjang malam sampai kehabisan napas.

 .

“Asiiikk!” Mendengar persetujuan itu, Minji melonjak kegirangan dan bertepuk tangan seperti anak lima tahun yang diberi hadiah cokelat favoritnya, seolah sudah lupa akan kepedihan yang bercokol di hatinya. Menyaksikan tarian Jongin selama ini selalu menjadi penghiburan terbaik baginya. Minji sangat suka dengan bagaimana cara lelaki itu selalu menari dengan sepenuh jiwa dan raganya.

Minji menatap punggung Jongin dengan bersemangat ketika tiba-tiba langkah lelaki itu berhenti. Jongin berbalik menghadap gadis itu, sementara keningnya berkerut dan kedua alisnya bertaut. “Eh.. tapi kan tidak ada musik di sini?”

Minji menghela napas gemas dan mendatangi Jongin, kemudian menangkupkan kedua tangannya di pipi cokelat milik lelaki itu. “Sejak kapan kau membutuhkan musik untuk menari, hmm? Kau adalah penari paling berbakat yang pernah aku kenal, Kai.”

Jongin memamerkan seringainya, bangga.

“—Oh, selain dancing machine Lee Taemin tentu,” tambah Minji teringat akan sahabat mereka yang juga luar biasa hebat dalam menari. Gadis itu mengerling jahil ke arah Jongin dan tergelak ketika melihat seringai lelaki itu hilang berganti dengan bibir yang mengerucut dan tampang yang merajuk yang lucu.

Kalau sedang bertampang merajuk lucu seperti itu, Minji yakin tidak akan ada yang menyangka bahwa lelaki itu adalah lelaki yang sama dengan Kim Jongin si jagoan kampus yang hobi balapan.

.

Bagi Jongin, Minji benar satu hal: lelaki itu tidak butuh musik dan panggung untuk menari. Yang paling dibutuhkan seorang Kim Jongin untuk menari adalah seorang Choi Minji, ada di sana untuk menyaksikan penampilannya.

.

Meski begitu, Minji mengeluarkan ponselnya dari clutch bag dan memutar lagu favoritnya untuk menyaksikan Jongin menari, Angel (Into Your World) yang dibawakan oleh grup bernama EXO.

Minji suka semua jenis tarian yang dibawakan oleh Jongin, yang itu berarti hampir semua jenis tarian mulai dari hip-hop moderen dance  yang – Minji mengakui – mengeksplor sisi seksi dan maskulin sahabatnya itu, hingga jenis tarian jazz yang membuat Minji terpana menyaksikan kelenturan pria itu. Jongin selalu berhasil membuat Minji tersihir menikmati tariannya.

.

1, 2, 3…

Nada intro mengalun. Pada detik Kim Jongin melayangkan badannya untuk menari, detik itu pula seluruh dunia seakan berhenti bergerak di mata Minji. Yang ada hanya ada Jongin, alunan musik, air mancur, dan kerlip lampu yang memantulkan cahaya serupa surga.

Lalu lampu menyorot dari belakang Jongin, membiaskan siluet indah tubuhnya yang menari.

Merah

Kaki Jongin menyapu air. Kilau cahaya, percik air, dan alunan tubuh Jongin berpadu, memancarkan keindahan yang membuat Minji mendadak kehabisan napas.

Biru

Kibasan tangan Jongin membelah air yang memancar indah ke udara.

Kuning

Tubuh Jongin mengalun melayang kesana kemari. Berkelit dari kejaran air yang berlari menggodanya.

Hijau

Jongin melayangkan tangannya ke udara. Rambutnya terkibas indah di udara seirama ayunan badannya.

Ungu

Di mata Minji, Kim Jongin tidak hanya sekedar menari. He is beautifully flying. Like an angel.

.

Ketika lagu selesai diputar, Jongin membungkuk memberi penghormatan penutup dan Minji memberi standing applause dengan heboh layaknya seorang penggemar berat usai menyaksikan penampilan idolanya.

Bagi gadis itu, bakat sahabatnya ini luar biasa, dan seharusnya Jongin bisa menjadi seorang penari hebat atau idol. Sayang, orang tua lelaki itu tidak setuju anaknya jadi penari dan menyuruhnya kuliah di jalur bisnis. Meski begitu, Minji selalu mendukung hobi Jongin yang satu ini dan akan selalu menjadi penonton setianya.

Aku fansmu nomor satu, Kim Jongin.

.

Jongin mendatangi Minji dengan puas.  “Ayo kita pulang, sudah hampir pagi.”

Mendengar itu, Minji kembali lesu, memungut kedua sepatunya sambil menggerutu. Dia belum mau pergi dari sini. Jongin selalu berhasil membuat perasaannya jadi lebih baik. Gadis itu tidak mau membayangkan bagaimana rasanya kembali ke rumah lalu menghadapi semuanya sendirian.

Urgh, high heels ini menyiksaku. Kenapa kau tadi tidak bawa Ducati kesayanganmu, sih?”

Minji meletakkan kedua sepatunya di lantai untuk dipakai. Gadis itu sama sekali tidak menyangka jika Jongin tiba-tiba berjongkok mengambil kedua sepatunya sebelum sempat ujung kaki Minji menyentuhnya, lalu berbalik memunggungi Minji.

“Ayo naik!” perintah lelaki itu tanpa menoleh.

“Eh? T-tapi… rumahku kan jauh dari sini. Kau yakin mau menggendongku?”

“Akan lebih cepat jika aku menggendongmu ketimbang menungguimu berjalan pelan dengan sepatu semacam ini.”

“Yeah, sepatu cantik yang bahkan tidak diliriknya,” gumam Minji pelan, ada tekanan penuh arti pada cara gadis itu menyebut ‘nya’ , yang membuat hati Jongin kembali mencelos.

.

Ah, Dia lagi. Dia yang sama yang selalu dicintai Minji selama ini. Dia yang sama yang sejak tadi dibicarakan Minji. Dia yang sama yang tadi membuat gadis tegar itu akhirnya menitikkan air mata.

Jongin tahu akan selalu ada Lee Donghae dalam topik pembicaraan mereka dan menelan kenyataan pahit ini dengan senyum miris.

Tapi seorang Kim Jongin tidak akan menyerah.

“Ayo cepat naik!” ujar Jongin tidak sabar. Nada perintah yang tidak bisa dibantah itu keluar. Kali ini Minji memilih menurut.

.

***

.

“Kai…” panggil Minji setelah beberapa saat Jongin berjalan menggendongnya di punggung.

Hm?”

“Terima kasih.”

Jongin tersenyum lebar sebagai balasan. Meski Jongin tidak menoleh, Minji dapat merasakannya. Bahkan Minji bisa melihat senyuman tampan itu tercetak jelas di kelopak matanya ketika gadis itu menutup mata.

Bagi Choi Minji, Kim Jongin punya senyuman serupa kembang api di musim panas. Indah, menggetarkan, dan menghangatkan hati siapa pun yang melihatnya.

 .

“Kau tahu, Minji~ah?” panggil Jongin tiba-tiba.

Suaranya pelan. Serupa bisikan yang hampir tertelan angin malam, namun masih tertangkap jelas di telinga Minji. Jongin bisa merasakan napas Minji berhembus teratur menggelitik lehernya, menimbulkan efek bergolak yang menyenangkan di perutnya. Perasaan hangat yang menjalar hingga ke pori-pori ketika merasakan pipi gadis itu menempel di bahunya.

Hm?”

Sahutan Minji terdengar samar di sela bahu Jongin. Gadis itu sedang menghirup dalam-dalam aroma familiar yang menguar dari kulit Jongin. Adiktif. Bukan wangi parfum, bukan. Aroma lelaki itu seperti aroma susu cokelat hangat kesukaan Minji, aroma brownies empuk favorit mereka yang mengepul dari oven yang selalu dimakannya bersama Jongin tiap minggu sore, aroma hangat yang menenangkan.

Aroma Jongin terhirup seperti aroma gabungan semua hal favorit Minji yang dijadikan satu. Menjadikannya aroma paling favorit.

.

Tidak hanya aromanya, bahu milik Jongin pun terasa sangat hangat bagi Minji. Bahu yang dikenalnya sejak kecil. Bahu yang entah bagaimana kini tumbuh mempesona menjadi kekar dan bidang, namun tetap terasa empuk seperti bantal kesukaan Minji. Ah, gadis itu ingin selamanya terlelap nyenyak di sana.

Dan Minji memang sudah hampir terlelap ketika mendengar Jongin bersuara lagi. Suara khas yang berat dan dalam itu mengalun jelas dan tegas, mengalirkan kata-kata yang membuat gadis itu seketika mengangkat kepalanya dan tertegun.

.

Jongin masih berjalan pelan menggendong gadis itu, tidak peduli punggungnya mulai kebas mati rasa, kakinya masih basah kedinginan akibat menari dengan aliran air untuk menghibur Minji tadi, kedua tangannya masih saling mengait, menjaga agar gadis kesayangannya tidak jatuh, dan sepasang sepatu Jimmy Choo berhak tinggi masih berayun seirama di udara dengan strap yang bergantung melingkar di pergelangan tangan Jongin yang gelap,

ketika lelaki itu tersenyum tulus dan berucap,

.

“Untuk melangkah bersamaku, kau bahkan tidak membutuhkan sepatu.”

.

.

***END***

.

.

Advertisements

263 comments

  1. kyaaaaa~~!! Jongin disini kenapa gentle banget ya:3 biasanya kalo nemuin fanfict jonginnya selalu badboy terus mesum. Disini mah aduh bikin baper banget :3
    Suka banget thor sama ceritanya, ya walaupun endingnya itu agak ngegantung ya huhu pengen tau nanti jongin sama minji bakal jadian apa enggak. Kalo lebih bagus sih chapter thor biar konfliknya makin dapet. Hihi

    Sukses terus buat authornya ><

    Like

  2. Uwa jongin ya,dia benar benar pahlawan yg segala galanya buat minji,gadis yg punya seorang lelaki super keren yg suka sama dia apa adanya.tapi dianya gak peka ?!!!
    “Bahu kekar yang empuk kayak bantal” mau satu /ngarep/
    keren pokoknya

    Like

  3. Dlm waktu semalam aja ceritanya bisa panjang gini,, kkamjong emang bikin ser-ser an deg2 an..
    Gitu dia masih sabaarrr banget nungguin minji.. Dannn kalimat2 dlm hatinya kai itu menohok hati bangettt

    Like

  4. hai, Kak Hilda! Isan di sini, 97line! ^^)//
    well, meski gak tau kakak line berapa, tapi aku pengen manggil kakak :””3 karena Kak Hilda itu senpai/? :””3 /fyi, aku tau nama Kak Hilda dari “Rumah Author” 😂😂😂
    btw, ini ff tahun 2013? seriously? kenapa aku baru nemu sekarang? nyesel banget :””3
    Jongin… aduh, aku gak tau mau komen apa? speechless masaaa… aku suka banget sama penjabaran Kak Hilda di cerita ini. tahun 2013 aja tulisannya udah sekece ini, gimana sama tahun saat ini? aduuuuuh aduhhhh pasti tulisan Kak Hilda semakin keceee…!!!! aku ngiriii kak 😭😭😭😭 pengen banget bisa bikin FF dengan tulisan sekece ini 😭😭😭😭 /I need u to teach me, Sist 😂😂😂
    anyway, kasian banget ya jadi jongin, kejebak Friendzone tuh gak enak 😭 Minji nya lagi, gak peka 😭😣😣 and…. di ending story-nya, aduuuuuhh aku ampe senyum2 sendiri masa, Kak? YAAMPUUUN DEMI APA ATUH KAK, AKU GREGEEET!!! KATA2 JONGIN DI AKHIR TUH BIKIN AKU FALL IN LOVE SAMA DIA SETELAH BACA FF INI, SEDANGKAN BIAS AKU DI EXO TUH SI MAS CABE A.K.A BAEKHYUN, SI MAS EYELINER 😭😭😭😭
    KAAAAAK I LOVE U KAAAK POKOKNYA! TETEP SEMANGAT NULIS!!! AKU JUGA MAU BACA SERIES BERIKUTNYA AMPE TUNTAS 😂😂 //semoga kakak baca dan balas komen macem spam ini :””

    Once again, keep writing! 💪💪💪💪💪💋💕💗💙❤💓💕💞

    Like

  5. Aku baru nemu ff ini, jadi baru sempet mampir. Aku suka banget sama alurnya ^^
    Meskipun di awal aku sempet ragu buat nerusin baca atau engga. Konfliknya biasa, tapi menurut aku feelnya dapet, terus gaya penulisannya aku suka, maknanya bisa tersampaikan dengan rapi. Wah aku suka banget, apalagi sama sosok Kai disini ^^

    Like

  6. ahh,bkin baper bgt.. ><
    jd brandai2 jd minji..hehe
    minji aneh bgt,ada org kyk kai dsmpgny,tp mlah suka co laen..pdhl kai krg apa cb?!hehe

    Like

  7. Sumpah ini ff keren banget banget banget!!! :3
    Kata-kata dan pengandaian yang bakal selalu membekas di hati ❤ yeahh
    “Untuk melangkah bersamaku, kau bahkan tidak membutuhkan sepatu.” Sumpah ini kalimat ending paling berkesan di oneshoot. Keren abis authornya (y)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s