[One shot] Ethereal

Ethereal

Tahukah kau kalau menyukaimu itu sangat mudah, Helena? Tunggulah sebentar lagi. Sedikit lagi aku akan mencintaimu

-o0o-

Dari sudut pandang seorang Lee Hyukjae, Song Yoorin—atau yang lebih kerap disapa Helena Song—adalah gadis yang menyenangkan. Ia seorang gadis yang ceria, cantik dan keramahannya sungguh luar biasa. Hal itu cukup mengherankan Hyukjae, bila mengingat kalau gadis itu sempat menghabiskan masa studi masternya di New York—suatu tempat yang menurut lelaki itu sebagai tempat paling berpotensi untuk menanamkan dalam-dalam sikap antisosial kepada seseorang. Tapi Helena mematahkan persepsi Hyukjae sejak awal pertemuan mereka.

Gadis itu punya lusinan sahabat dan teman baik di kota asing itu dan menunjukkan betapa kuat lingkungan sosial yang dibangunnya. Beberapa diantara sahabatnya itu bahkan berasal dari negara berbeda benua. Belakangan Hyukjae juga baru mengetahui kalau Letti—teman sekamar Helena semasa kuliahnya—adalah seorang gadis berkulit legam berkebangsaan Nigeria.

Diantara semua sifat menakjubkan gadis itu, yang paling disukai Hyukjae adalah kecerdasan gadis itu dalam menempatkan diri. Gadis itu tahu kapan ia harus bicara, kapan ia hanya harus diam dan cukup dengan mendengarkan. Gadis itu tahu kapan ia harus mendekat dan kapan ia harus menjaga jarak. Pribadi gadis itu yang menyenangkan membuatnya menjadi kesayangan semua orang—termasuk kedua orang tua Hyukjae. Mereka seperti terobsesi sekali untuk menjadikan Helena sebagai menantu, terlebih gadis itu adalah putri dari sahabat lama orang tua Hyukjae.

Dari sanalah dimulainya kisah perjodohan mereka. Dan sekali lagi Hyukjae dikejutkan dengan keputusan gadis itu yang menerima keputusan orang tua mereka dengan begitu entengnya seolah-olah masalah ini bukanlah sesuatu perkara besar untuk masa depannya. Hyukjae kian penasaran di belahan New York yang mana gadis itu telah mengajarkannya tentang pemahaman perjodohan di era modern. Sulit dipercaya.

Dengan penerimaan Helena yang suka rela atas perjodohan itu, Hyukjae juga memutuskan untuk tidak menolak. Seperti yang sudah dijelaskannya, Hyukjae sangat menyukai cara gadis itu menempatkan diri. Lelaki itu merasa gadis seperti itulah yang memang dibutuhkannya sebagai pendamping—gadis yang bisa membatasi diri untuk tidak menerobos masuk ke dalam lingkaran privasi hidupnya.

Lee Hyukjae butuh seorang gadis yang bisa ada di sampingnya namun gadis itu tak boleh sampai mengisi ruang kosong di hatinya. Ruang kosong yang telah dibiarkannya hampa semenjak cinta itu pergi dari hidupnya.

-o0o-

Hari itu sudah menjelang sore ketika Hyukjae menyadari kalau CD demo yang harus ia dengarkan masih tertumpuk. Lelaki itu mengumpat kecil saat perutnya mulai protes minta diisi dengan mengeluarkan bunyi-bunyian nyaring. Ia baru sadar kalau ia telah melewatkan waktu makan siangnya. Lelaki itu semakin mengerang mengingat kalau lima buah CD demo pilihannya harus sudah ada di meja ayahnya esok pagi.

Hyukjae sudah hampir membuka ponselnya ketika ia mendengar pintu studio diketuk dan sesaat kemudian tampak Helena yang mengintip dari balik kaca. Gadis itu segera masuk begitu Hyukjae memberi isyarat untuk mempersilakannya untuk masuk ke ruang studio. Kali itu tidak perlu dijelaskan betapa leganya Hyukjae melihat kotak makanan yang ditenteng gadis itu.

“Aku sedang mencoba beberapa resep makanan Jepang. Maaf kalau hasilnya masih jauh dari expert, tapi aku berani jamin rasanya tidak begitu buruk dan kau tidak akan sampai keracunan.” Gadis itu menyahut dengan nada ceria saat melihat kerutan di dahi Hyukjae begitu ia melihat isi kotak itu adalah beberapa potong nasi kepal, ikan saus dan sushi yang gulungannya tampak tidak terlalu rapi.

Hyukjae tersenyum kecil. “Terima kasih. Aku memang sangat lapar karena melewatkan jam makan siangku.” Lelaki itu harus menunjukkan rasa terima kasihnya kepada gadis itu. Seminggu pasca pertunangan mereka, usaha pengakraban diri seperti hanya terjadi dari pihak Helena. Bukannya Hyukjae tak mau mendekatkan diri, hanya saja ia tidak tahu harus memulainya dari mana. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk membuat gadis itu tetap dekat namun jangan sampai terlalu dekat.

Jauh sebelum ide pertunangan ini tercetus, mereka berdua hanyalah dua orang asing sama sekali. Sekali atau dua kali mereka memang pernah berpapasan ketika mereka menemani orang tua masing-masing menghadiri suatu undangan acara. Tapi hanya sebatas itu. Jelas butuh banyak usaha untuk perubahan status dari orang asing menjadi tunangan dalam waktu sesingkat itu.

“Aku tahu. Aku tadi menelpon ayahmu dan katanya kau sedang diberi tugas dan belum keluar dari studio sejak pagi.”

Hyukjae mengangguk sambil menelan satu potongan sushi. Begitu kunyahan sushi itu masuk ke kerongkongannya ia baru menyahut. “Sudah kuduga mengadakan audisi dengan sistem seperti ini adalah yang ide buruk. Ada ratusan CD demo yang harus aku lihat dan dengarkan. Seharusnya aku sudah bisa menebaknya kalau tahap seleksi awal pasti akan dibebankan kepadaku.”

Helena menyambutnya dengan tawa. Hyukjae baru menyadari kalau gadis itu punya kebiasaan menutup mulutnya dengan tangan saat sedang tertawa. Tepat ketika Helena mengangkat tangannya, cincin pertunangan mereka tampak berkilau di jemari gadis itu. Entah kenapa melihat cincin itu di jari Helena membuat Hyukjae tersentak. Ia dan Helena benar-benar telah bertunangan dan itu sungguhan.

“Aku tidak heran dengan jumlah peserta audisi mengingat reputasi perusahaan kalian. Ayahmu percaya dengan kemampuanmu dan lagipula kau yang akan menggantikan posisinya nanti sebagai pemimpin perusahaan, tentu saja kau yang akan diberikan tugas dengan beban terbesar.” Gadis itu berkomentar. Helena mengatakannya dengan tulus dan Hyukjae menyukainya.

Mereka berdua kemudian melanjutkan obrolan ringan sambil menunggu Hyukjae menghabiskan makanannya. Setelah makan, Helena memutuskan untuk tetap berada di sana dan menemani Hyukjae menyelesaikan pekerjaannya. Hyukjae sempat berdecak kagum dengan pengetahuan gadis itu tentang musik. Tidak sebatas musik modern, gadis itu juga bisa mengenali beberapa karya Chopin yang telah digubah. Ketika Hyukjae menanyakan dari mana gadis itu bisa mengetahuinya, Helena mengeluarkan jawaban yang membuat Hyukjae menautkan alisnya sebelum akhirnya melepas tawa.

“Aku menonton La Corda d’Oro[1], asal kau tahu.” tandas gadis itu seadanya.

-o0o-

Pertunangan itu mereka jalani dengan perlahan-lahan dan semuanya berjalan tanpa banyak hambatan. Melihat kondisi baik ini, beberapa kali orang tua mereka menawarkan agar keduanya masuk ke jenjang hubungan lebih lanjut. Dan sekali lagi Hyukjae bersyukur Helena lah gadis yang saat itu menjadi tunangannya. Gadis itu mengerti dengan cepat ekspresi keberatan di wajah lelaki itu.

“Hei, tidak perlu terburu-buru kan? Aku belum lama berada di Seoul dan kalian sudah menyuruhku menikah. Biarkan aku dan Hyukjae menikmati waktu kami terlebih dahulu.” kilah gadis itu waktu itu di depan orang tua mereka masing-masing. Meskipun sebenarnya rasa keberatan itu datang dari Hyukjae, tak sekalipun Helena membebankan kesalahan kepada lelaki itu.

Dalam hatinya Hyukjae merasa lega. Namun rasa lega itu berbalutkan rasa bersalah. Ia tahu hutang budinya semakin banyak kepada Helena. Ia takut kalau nanti ia tak lagi sanggup membayarnya dan justru kemudian melukai gadis itu.

Rasa ingin tahu sebenarnya juga sempat terbersit di kepala Hyukjae. Ia ingin tahu apa sebenarnya yang ada di dalam hati Helena. Ia ingin tahu seperti apa perasaan gadis itu kepadanya. Gadis itu begitu baik dan kadang kala Hyukjae merasa cemas kalau gadis itu mulai memiliki perasaan kepadanya. Dengan begitu rasa bersalahnya akan semakin tak terbendung, jika mengingat ia pasti akan sulit untuk membalas perasaan gadis itu dengan cara yang sama.

Tapi ada kalanya juga Hyukjae merasa kecemasannya berlebihan. Helena gadis yang pintar. Ia tidak mungkin tidak bisa membaca gerak-gerik Hyukjae yang membatasi diri. Gadis itu pasti mengerti bahwa apa yang terjadi di antara mereka kini hanya sebatas pertunangan artifisial belaka yang sangat kecil kemungkinannya untuk melibatkan cinta di dalamnya.

Untunglah Helena sepertinya memang mengerti. Ia mendekat pada Hyukjae dengan cara yang membuat Hyukjae bisa bernafas dengan tenang tanpa mencemaskan apapun. Melebihi sepasang tunangan, mereka lebih terlihat sebagai sepasang sahabat.

-o0o-

Siang itu Helena kembali mengunjungi Hyukjae di studio dan kemudian mereka memutuskan untuk makan siang di kantin perusahaan. Gadis itu membiarkan Hyukjae menyelesaikan sedikit lagi pekerjaannya di studio dan memutuskan untuk menunggu terlebih dulu di kantin. Setelah lima belas menit, akhirnya Hyukjae menyusul. Lelaki itu mengecup singkat pipi gadis itu sebelum kemudian mengambil tempat duduk di hadapan Helena.

“Bagaimana hari pertamamu?” tanya Hyukjae. Hari itu memang adalah hari pertama gadis itu ikut bergabung dengan firma hukum ayahnya.

Helena mengangkat bahunya. “Hanya mengurusi satu persengketaan hak kepemilikan tanah keluarga. Bukan kasus berat. Sepertinya ayahku masih belum mempercayaiku untuk mengurusi masalah yang lebih pelik.”

“Hei, ini baru hari pertamamu, kau lupa?” tegur Hyukjae yang kemudian disambut Helena dengan cengiran lebar.

Mengingat kalau mereka masih harus melanjutkan pekerjaan begitu jam makan siang berakhir, keduanya kemudian segara memesan makanan mereka sambil kembali melanjutkan obrolan. Sesaat kemudian Hyukjae segera sadar dengan gantungan pada ponsel Helena yang terlihat begitu unik dan menarik perhatiannya. Karena tertarik, Hyukjae akhirnya meraih ponsel gadis itu yang memang diletakkannya di meja kantin tepat di hadapannya.

“Benda apa ini?” tanya lelaki ingin tahu. Ia memperhatikan botol kaca kecil seukuruan kelingking yang berisi air dan dijadikan aksesori ponsel gadis itu. Di dalam botol kecil itu Hyukjae bisa melihat sebuah batu kecil berwarna putih di dasar botol.

Sweet elephant.” sahut Helena cepat. “Itu hadiah dari Letti saat upacara kelulusanku dan benda itu dibawanya langsung dari negaranya. Letti sempat menyebutkan nama benda itu padaku tapi nama benda itu dalam bahasa mereka bukan sesuatu yang gampang diingat jadi biar lebih mudah aku menyebutnya sweet elephant.”

Elephant?” Alis Hyukjae bertaut. “Apa kau tidak punya stok nama yang lebih menggambarkan ukuran benda ini?”

Helena tertawa. “Itu sudah sangat mewakili.” tanggapnya. “Benda itu bisa dihargai ribuan sampai jutaan dolar. Benda itu dipercaya bisa membawa keberuntungan dan nasib mujur. Dan satu hal, batu kecil yang ada di dasar botol itu berasal dari cairan semen gajah jantan yang membeku. Nah, elephant!”

Hyukjae bergidik. Ia meletakkan kembali ponsel Helena ke tempat semula. “Kau membawa-bawa cairan semen gajah di ponselmu, tidakkah itu menjijikkan?”

Helena hanya tertawa melihat reaksi Hyukjae. Ia juga tidak terlalu percaya sebenarnya pada hal-hal seperti itu, hanya saja benda itu adalah pemberian Letti dan ia menghargai apapun pemberian sahabatnya itu.

“Nah, aku sudah menjelaskan soal sweet elephant padamu, sekarang biarkan aku melihat playlistmu.” ujar Helena kemudian. Gadis itu baru hendak meraih ponsel Hyukjae yang juga diletakkan di meja kantin ketika dengan secepat kilat lelaki itu menyambar ponselnya sebelum Helena sempat menyentuhnya.

Raut wajah Hyukjae mengeras dan berubah dingin seketika.“Jangan coba-coba. Kau tidak boleh menyentuh apapun barang pribadi milikku.” Lelaki memperingatkan dengan nada dingin yang membuat Helena terhenyak.

-o0o-

Hyukjae memarkir mobilnya di depan gedung firma hukum milik ayah Helena. Tepat di samping mobilnya, audi milik Helena telah terlebih dahulu terparkir di sana menandakan kalau gadis itu sedang berada di dalam gedung itu.

Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, mereka tidak lagi saling bertemu. Gadis itu tidak pernah lagi datang mengunjungi ke studio ataupun sekadar berhubungan lewat ponsel. Helena seolah menghilang begitu saja dari kehidupannya. Dan tidak sedetikpun dalam beberapa hari tanpa saling kontak itu Hyukjae tidak merasa gelisah dan bersalah. Barangkali waktu itu ia sudah terlalu keras kepada gadis itu.

Selama ini selalu Helena yang membuat pergerakan terlebih dahulu, jadi kini sebenarnya Hyukjae merasa aneh dengan dirinya sendiri yang justru sekarang telah berada di sana dan berniat menemui Helena.

Sejak awal, ia sudah bertekad untuk tidak membiarkan Helena terlalu dekat dan mencampuri hidupnya terlalu jauh, namun entah kenapa ketika Helena benar-benar menyingkir dari kehidupannya begini, Hyukjae justru menjadi merasa kian tidak aman. Mungkin keputusannya menerima pertunangan ini tidak sepenuhnya benar. Akan tetapi juga telah terlambat untuk menyesalinya sekarang.

Disertai helaan nafas panjang, lelaki itu akhirnya melangkah masuk.

-Sekarang atau tidak sama sekali.-

-o0o-

Firma hukum milik ayah Helena berada tak jauh dari taman kota Seoul. Menjelang musim gugur seperti sekarang, daun-daun maple di taman itu tampak kian memerah bahkan satu persatu daunnya mulai berguguran. Tempat itu bisa menjadi tempat yang menarik untuk menenangkan diri dan menikmati udara segar jika bukan karena kondisinya yang hampir selalu ramai pengunjung. Akan tetapi saat-saat jam kerja seperti sekarang adalah timing dimana taman tersebut sepi tanpa pengunjung. Dan di sanalah Hyukjae dan Helena sekarang. Setelah sempat disambut dengan raut kekagetan Helena karena kedatangannya, akhirnya gadis itu setuju untuk berbincang sejenak.

“Maafkan aku. Aku tak bermaksud kasar padamu saat itu.” ujar Hyukjae. Ia mencengkeram pinggiran bangku taman yang didudukinya dan sebisa mungkin menghindari tatapan mata Helena yang duduk di sebelahnya. Ia cemas bila ia menoleh dan menemukan luka di mata gadis itu. Rasanya ia akan semakin bersalah mengingat dialah yang melukai gadis itu.

Helena tak segera menjawab Hyukjae. Barangkali kekagetannya atas kedatangan Hyukjae belum habis. Gadis itu membiarkan dan hanya terus memperhatikan pergerakan Hyukjae yang kemudian mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya. Lelaki itu kemudian menyodorkan ponsel tersebut pada Helena dan memperlihatkan gambar seorang gadis yang digunakan sebagai wallpapernya.

“Nama gadis ini Han Jihye.” Hyukjae memulai. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri. Sungguh ini diluar perkiraannya. Ia tidak pernah berniat sama sekali membawa-bawa nama Jihye dan memperdengarkan nama itu pada Helena. Namun keterdiaman Helena menerima permintaan maafnya, membuat Hyukjae gugup dan menyangka kalau gadis itu benar-benar marah padanya kali ini.

Hyukjae menciptakan zona aman di sekelilingnya dan tak memperbolehkan Helena masuk ke dalamnya. Tapi yang dilakukannya kini justru ia sendiri yang memutuskan untuk keluar dari zona aman tersebut dan menarik Helena agar tidak terlalu menjauh darinya. Sebenarnya apa yang telah terjadi padanya? Ini semua sungguh diluar kendali.

“Aku dulu pernah mencintai Jihye.” Akal sehat Hyukjae tak lagi bisa menghentikan cerita lama yang bergulir.

Helena menatapnya tenang, menunggu lelaki itu melanjutkan. Hyukjae tidak lagi tahu seberapa dalam ia bisa tenggelam dalam tatapan tenang gadis itu.

“Dan aku kira sampai sekarangpun aku masih mencintainya.”

Hyukjae sedang memulai pertaruhannya. Ia tahu kejujurannya akan beresiko besar. Mengetahui kenyataan ini akan memberi alasan pada Helena untuk semakin menjauh darinya. Tapi Hyukjae tetap melakukannya, karena ia tidak ingin melukai Helena lebih jauh. Gadis itu terlalu baik untuknya. Jika setelah ini Helena memilih untuk tetap di sampingnya, maka Hyukjae ingin hal itu adalah keputusan Helena sendiri dengan gambaran jelas luka seperti apa yang mungkin gadis itu dapatkan jika tetap bersama Hyukjae.

-o0o-

Dari sudut pandang Helena, Lee Hyukjae mungkin adalah lelaki ternaif yang pernah ia kenal. Helena selalu senang bergaul dengan banyak orang dan tidak membatasinya pada golongan tertentu saja. Jadi di sepanjang hidupnya Helena telah bertemu dengan berbagai macam tipe manusia. Dan Lee Hyukjae barangkali termasuk salah tipe terapuh yang pernah Helena temui.

Hyukjae mengira mereka berdua adalah dua orang yang benar-benar asing sebelum akhirnya perjodohan itu terjadi. Mungkin benar bagi Hyukjae, Helena tidak lebih dari orang asing. Namun bagi Helena, lelaki itu sudah tidak terasa asing sama sekali.

Helena begitu sering mendengar nama lelaki itu terlontar dari bibir kedua orang tuanya dan betapa mereka mengagumi sikap sopan dan kerja keras lelaki itu. Helena tidak tahu kapan persisnya ia mulai merasa senang bila orang tuanya semakin banyak bercerita tentang lelaki itu. Ia juga tidak tahu kapan persisnya ia mulai senang mencuri-curi pandang bila mereka kebetulan bertemu saat menemani orang tua mereka menghadiri acara tertentu.

Tentu saja Helena juga tahu kisah tentang Han Jihye dan pengkhianatan yang dilakukan gadis itu terhadap Hyukjae. Orang tuanya bercerita banyak kala itu betapa orang tua Hyukjae begitu prihatin dengan kondisi anak mereka yang memburuk setelah ditinggalkan Jihye.

Hyukjae sangat naïf jika ia berpikir Helena tidak tahu apa-apa. Hyukjae sangat naïf bila ia mengira keputusan Helena untuk menerima perjodohan yang ditawarkan oleh orang tua mereka adalah suatu hal yang tanpa alasan. Lelaki itu tidak tahu, bahkan dulu dirinya sempat menjadi penghalang terberat di hati Helena sebelum ia memutuskan keberangkatannya ke New York. Hanya saja rasanya sangat konyol mengharapkan hati Hyukjae yang saat itu masih bersama Jihye. Maka akhirnya Helena berangkat menuju New York dan membiarkan hatinya tertinggal bersama lelaki itu di tanah kelahirannya.

Hyukjae sangat naïf jika tidak mengetahui semua itu.

Sekembalinya ia dari New York, situasi berkembang diluar perkiraannya. Orang tua mereka datang dengan sebuah ide perjodohan dan Helena berpikir mungkin itu adalah saatnya ia mencoba peruntungannya. Hanya saja Hyukjae masih tetap naïf seperti yang sudah-sudah.

Lelaki itu tidak bisa membaca pergerakan demi pergerakan yang dilakukan Helena untuk bisa dekat dengan lelaki itu. Lelaki itu tidak bisa mengartikan segenap perhatian yang ia berikan. Lelaki itu tidak bisa memaknai kesabaran dan kegigihan Helena untuk menerobos masuk ke dalam zona aman yang dibangun lelaki itu.

Lee Hyukjae sangat naïf dan benar-benar bodoh jika mengira Helena akan menyerah kepada masa lalu yang dimiliki lelaki itu dengan Jihye. Helena tidak akan kemana-mana sebelum Hyukjae sendiri yang memintanya untuk pergi atau sampai lelaki itu menemukan gadis lain yang dicintainya.

-o0o-

Hubungan mereka kembali ke titik semula setelah permintaan maaf Hyukjae. Mereka kembali menghabiskan waktu bersama serupa sepasang sahabat.

“Tidak apa-apa. Aku akan tetap bersamamu sampai kau yang tak menginginkanku lagi.” Begitu ucapan gadis itu setelah Hyukjae menuntaskan semua kisahnya dengan Jihye.

Pada titik itu kecemasan semakin menghantui Hyukjae. Dengan kebaikan hati gadis itu, ia yakin hari dimana ia mungkin akan melukai Helena cepat atau lambat akan datang juga. Dan perkiraannya tidak meleset.

Hyukjae dan Helena sedang menghadiri pesta seorang kenalan lelaki itu ketika hari berbadai itu datang.

Suara Frank Sinatra masih mengalun dengan lembut di segala penjuru ballroom hotel tempat diselenggarakan pesta itu. Helena menyandarkan kepalanya di dada Hyukjae sementara lelaki itu melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu. Kaki mereka bergerak pelan mengikuti tempo lambat irama lagu. Dan di sanalah Jihye kembali datang entah dari mana. Gadis itu tidak repot-repot menunggu sesi dansa itu usai untuk menghampiri Hyukjae dan memohon kepada lelaki itu untuk diberi kesempatan bicara.

Hyukjae nyaris membeku di tempatnya. Dadanya bergemuruh dengan keras. Ia menatap Jihye dan Helena bergantian tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.

Pegangan Helena di lengan Hyukjae semakin mengendur sebelum akhirnya ia benar-benar melepaskan pegangannya sama sekali. Gadis itu mundur selangkah dan memaksakan seulas senyum begitu Hyukjae menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.

“Kalian bicaralah. Aku rasa ada beberapa hal yang memang seharusnya kalian benahi.”

Langkah Helena semakin mundur dan perlahan sosoknya menghilang di keramaian pesta. Gadis itu melintas dengan cepat menuju pintu keluar tanpa memberi kesempatan pada Hyukjae untuk bereaksi.

“Aku dulu pernah mencintai Jihye.”

“Dan aku kira sampai sekarangpun aku masih mencintainya.”

Pengakuan Hyukjae waktu masih terus terngiang di kepalanya dan menyisakan harapan apapun di hatinya.

-o0o-

“Hyukjae, maafkan aku… Aku tahu aku bersalah padamu.”

-Ya. Kau sangat bersalah padaku. Kau menghancurkanku hingga berkeping-keping dengan meninggalkanku bersama lelaki lain.-

Jihye memohon. Namun di dalam hatinya Hyukjae memaki meski tak sebentuk reaksipun yang keluar dari bibirnya.

“Apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkanku, Hyuk-ah?”

-Bisakah kau berlutut di lantai dan mengumpulkan serpihan hatiku yang berceceran di sana? Rekatkan kembali mereka dan aku akan memaafkanmu.-

“Aku… aku hanya baru sadar kalau aku masih mencintaimu, Hyuk-ah.”

-Aku juga dulu sangat mencintaimu, tapi apa kau peduli?-

“Apakah perasaanmu padaku padaku sudah tidak bersisa sedikitpun lagi?”

-Entahlah. Menurutmu?-

Jihye telah nyaris frustasi dengan keterdiaman lelaki di hadapannya. Air mata itu semakin membanjir di pipinya. Ia menarik lengan Hyukjae dan berusaha menguncang-guncang tubuh lelaki itu.

“Hyuk-ah… masihkah kau ingat hari-hari kebersamaan kita dulu? Demi hari itu, kumohon maafkan aku…”

-Tidak.-

Hyukjae tidak bisa mengingat apapun. Seperti kata Jihye, ia memang mencoba memanggil kembali ingatan tentang ingatan masa lalu mereka. Hanya saja semua terasa begitu mengabur. Ia tidak tahu kapan persisnya semua kenangannya dengan Jihye perlahan mulai terkikis dari otaknya. Sekarang justru satu-satunya yang mengisi ingatannya justru hanya Helena. Senyum gadis itu dan semua perhatian-perhatiannya. Bahkan rasanya wangi tubuh gadis itu yang ia hirup selama mereka tadi berdansa masih tertinggal di saraf penciumannya.

Hyukjae tersentak. Sebuah kesadaran baru saja menamparnya dengan keras. Secara refleks lelaki itu menepiskan tangan Jihye dari lengannya dan segera berlari ke arah dimana tadi sosok Helena menghilang. Ia meninggalkan Jihye yang masih menangis di belakang dan membiarkan adegan mereka menjadi tontonan para undangan.

Tapi Hyukjae tak peduli.

Dan tidak akan ada satu kalimatpun yang bisa menjelaskan kelegaan hati Hyukjae ketika ia berhasil mendapati sosok Helena masih berdiri linglung di lobi hotel. Lelaki itu dengan cepat menyambar lengan gadis itu.

“Kau akan tetap disini bersamaku, Helena. Kau tidak akan kemana-mana.” desis lelaki itu.

Tatapan Helena menyorot penuh tanda tanya padanya. Tapi Hyukjae tak ingin menjelaskan apapun. Ia rasa itulah saatnya ia hanya perlu menarik gadis itu dan memeluknya erat-erat. Dalam pelukannya ia berbisik pelan di daun telinga Helena.

“Tahukah kau kalau menyukaimu itu sangat mudah, Helena? Tunggulah sebentar lagi. Sedikit lagi aku akan mencintaimu.”

Dalam pelukan Hyukjae, Helena mengulas senyumnya. Mungkin kali ini Hyukjae sudah tak lagi senaif dulu.

..FIN..

Note :

[1] Sebuah film anime bertema musikal.

Advertisements

33 comments

  1. Ah finaly…

    Aku agak males sebenernya baca tadi nih soalnya castnya Hyukjae, hahaha.. tapi ketika kulihat kamu yang ngepost aku lanjutkan baca. And hey, magically, aku nggak begitu terpengaruh sama keapatisanku sama hyukjae ini begitu larut dalam ceritanya, lagi-lagi aku terhanyut sama tulisan kamu yang manipulatif untuk bahkan membuat aku jadi simpati sama sosok si.Hyukjae ini.

    Dan beneran ya, si Hyukjae itu mimpi apaaaa bisa dapat prempuan kek Helena. Jarang ada perempuan kota hasil didikan lingkungan metropolis yg masih punya kepribadian seperti ini. But then again, its only her good deeds that can move mountain cold, she deserves to be happy..

    Anyway aku sampe harus ngecek kamus untuk cari artinya.Ethereal ini,, kata ini sangat asing di telingaku, but i love it .. judulnya sungguh merepresentasikan isinya 🙂

    Like

    1. Haha.. aku malah mikir karena ini hyukjae, kamu gak bakal baca. XD
      ini manipulatif dimananyaa?? Hahaha… ini cerita dengan ide mainstream yg pengen aku tulis dengan gayaku sendiri, ga ada niat utk memanipulasi apapun. 😛

      yeah, beberapa sampe cerita ini mau posting aku masih belum tau mau kasih judul apa, sampe aku inget kata ethereal ini dan kedengarannya mgkn bakal cool. hihi..
      thanks ya 🙂

      Like

  2. Ga nyangka ceritanya semenarik ini. 🙂
    Suka sama alurnya. Bgmn hyuk menjauh tetpi jdnya tertarik.
    Bgmn helena suka sama hyuk.
    Penasaran sih ada part2nya ga. Mungkinkah hyuk tau akan perasaan helena selama ini, dan bgmn akhirnya hubungan mereka. Hmmmmm.. Menarik nih.

    Like

  3. Sangat mengharapkan sequel untuk kelanjutan dan kejelasaan hubungan mereka..
    Tapi ini maniiss banget, gimana akhirnya kesabaran dan penantian membuahkan hasil yang di harapkan–mesti masih proses.

    Like

  4. nice ff yan,..
    qm eamng slalu bsa deh bwt yg kyk gini,.. 🙂
    tulisanmu ttg cara helena mikat si hyukjae,..
    hihi,..
    ngebayangi seorang yg blh d’bilang wanita idaman pria tiba2 jatuh hati am hyukjae dr cerita2 yg d’dengar ttg pria i2,..
    it’s a …… ‘isisendirideh’
    ok, d’tgg karya lainny,..
    fighting,.. 🙂

    Like

  5. ahhh aku suka banget ama penggambaran ceritanya. bahasanya nggak terlalu njelimet kayak ulet bulet tapi ngena bangeeett
    hyuk disini sama sekali bukan kayak hyuk. ya secara hyuk yang asli kayak kucing garong gitu-_-
    ini nggak bakal ada lanjutannya ya? hehehe
    (y)

    Like

  6. so sweet!!!!!!!!! benar kata Kimchidee, FF ini menggambarkan Hyukjae dgn berbeda.jadi kita juga melihat Hyukjae dgn berbeda dan lupa dgn sifat dia yang sebenarnya di dunia nyata

    Like

  7. ah, sebelum komen panjang lebar, ada baiknya aku kenalin diri dulu .-. Hanifa imnida 95line dan tersesat diblog ini~~ kkkkk ^^

    Boleh komen panjang lebar disini…???? :””'( rasanya tau engga author-ssi? *ah mianhae aku engga tau nama unniee-,-* pas baca ini kata perkatanya itu mudah dimengerti ini poin pertama yang aku suka, yah kan selama ini kan katanya ff yang baik dan bagus itu ya ff yang kata-katanya selangit dan kadang readernya pun sulit untuk memahami, tapi ga menutup kemungkinan kan kata kata yang disusun secara sederhana dan deskriptif kayak gini bisa jadi luar biasa kan unnieee :””(
    Suka banget karakternya hyukjae, agak naif pecundang .-. gimanaaa gitu, lagian ini beneran meresap kehati bacanya(?)….. Hyukjae bukan tipe playboy lagi seperti kebanyakan, apapun itu saya suka sekali unniiee ah, im ur new fans!! :*

    Like

  8. may gawddd
    habis baca cerita ini sumpahh yg ada ak malah jatuh cinta sama karakter helena nya
    ceritanya keren bangett
    selalu suka deh kak sama semua karya kamu
    xD

    Like

  9. Penggambaran Lee Hyukjae di sini sungguh mampu menghapus image dia yang pada umumnya diketahui para ELF wkwkwk ga mau ke lain hati deh kalo Lee Hyukjae beneran begini di dunia nyata ♥

    Kesabaran memang selalu berbuah manis. Baik itu bisa dinikmati dalam waktu dekat ataupun dibutuhkan lebih banyak waktu. Menginspirasi sekali ide ceritanya, author chingu.

    Semangat berkarya, ya ^^9

    Like

  10. Ini keren..
    Sebenernya ceritanya udah umum y tentang lelaki yg di hianati tp gak bs move on tiba2 ada wanita baru yg mencintainya datang buat mbenahin hati si lelaki walau harus penuh kesabaran sampai si wanita yg berhianat datang kembali utk memperbaiki dan lelaki itu sadar mana cinta yg harus dia pilih di antara wanita2 itu..
    Tp konflik dan penulisan yg baik yg di sajikan ini ngebuat cerita ini menarik dan gak umum lg..
    Good job lah pokoknya!

    Like

  11. gosh, aku telat sekali baru baca ini T_T
    huhuhu, anyway, iyahhhhh kalau mengikuti istilah kekinian, baper bgt ah ini ceritanya :”)
    suka banget sama pergolakan konflik batin hyukjae di sini. i love helena!!!! karakter dia itu kuat sekali menurutku meski tidak dijadikan titik utama dari cerita ini karena semuanya ditulis berdasarkan pandangan hyukjae. helena itu menginspirasi sekali kak 🙂 :):)
    ahhh keren sekali lah :):)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s