[One Shot] 사랑해 (Saranghae)

Pria itu telah selesai menyematkan dasi pada kerah kemeja biru muda yang sudah sejak tadi dipakainya dan kini tengah bersiap mengenakan jas berwarna navy blue untuk menyempurnakan penampilannya malam itu.Dresscode acara yang akan ia hadiri malam ini mewajibkan para tamunya mengenakan pakaian dengan dominasi warna biru dan segala warna turunan dan gradasinya. Setelah rapi dengan setelan jas CalvinKlein supernecisnya, kini pria itu melangkah ke arah ruang wardrobenya yang cukup luasdi ujung kamar tidurnya, guna mengambil sepatu yang akan dipakainya malam itu. Memilih-milih sekilas, pria jangkung itu kemudian menjatuhkan pilihannya pada sepasang sepatu kulit berwarna hitam yang dibelinya ketika menghadiri seminar jurnalistik di Paris pada musim semi sekitar 2 tahun lalu. Kini yang pria itu tengah lakukan adalah memakai jam tangan kulit Bvlgari berwarna hitam pada pergelangan tangan kirinya, setelah sebelumnya mengencangkan ikatan tali sepatu pada kedua kakinya. Sempurnalah kini penampilan pria berpostur tinggi itu, berbalut setelan jas, sepatu kulit, serta dengan rambut kecokelatannya yang nampak kontras dengan kulit wajahnya yang pucat.

            Cho Kyuhyun ––pria itu–– baru saja mengunci pintu apartemennya dan mulai melangkahkan kaki jenjangnya ke arah lift untuk menuju ke basement tempat mobil sedannya biasa terparkir setiap harinya. Mengemudikan sendiri mobilnya tanpa supir adalah hal yang cukup jarang dilakukannya semenjak dua tahun lalu menjadi anchor di salah satu stasiun televisi berita yang cukup ternama di Seoul. Segudang kesibukan yang setiap hari dilaluinya sebagai penyiar berita, reporter sekaligus program director salah satu acara talk show di stasiun televisi tempatnya bekerja terkadang memaksanya untuk mengurangi jatah istirahatnya, sehingga ia mau tidak mau harus tidur di dalam mobilnya selama perjalanan dari apartemen ke kantornya ––atau sebaliknya–– yang memang berjarak lumayan jauh.

Namun, kali ini agak sedikit lain dari biasanya, sebab ini adalah hari Minggu, yang merupakan jatah hari libur bagi Pak Kim, supir kepercayaannya selama hampir 4 tahun terakhir ini. Lagipula, Kyuhyun sepertinya akan pulang agak larut, mengingat acara yang akan dihadirinya malam ini pasti berlangsung lebih lama dari estimasi waktu yang tercantum pada undangannya. Malam hari ini ia akan menghadiri undangan reuni yang diselanggarakan oleh almamaternya, Hannyoung High School.

Cho Kyuhyun kini telah memasuki lobby hotel JW Marriott setelah sebelumnya membiarkan petugas vallet memarkirkan mobilnya di basement. Hotel berbintang 5 yang terletak di kawasan Seocho ini adalah tempat berlangsungnya acara reuni SMAnya malam ini. Melangkah tegap dengan tenang, pria itu kini tengah menuju ke salah satu lift yang akan membawanya ke lantai 5, tempat dilangsungkannya acara malam hari ini. Kyuhyun menunggu kurang dari satu menit sebelum akhirnya pintu lift di hadapannya terbuka, kemudian pria itu pun menekan angka 5 pada panel tombol di sisi kanan pintu.

Ding!

Pintu lift terbuka perlahan dan kini Kyuhyun telah berada di lantai yang sejak tadi menjadi tujuannya. Grand ballroom hotel yg menjadi venue acara reuninya malam ini terletak tidak begitu jauh dari koridor tempat Kyuhyun keluar dari lift tadi. Begitu tiba di depan ballroom yang malam hari ini didekorasi dengan dominasi warna biru safir, Kyuhyun langsung melangkahkan kakinya memasuki ruangan megah itu. Menyapukan pandangannya ke sekitar, pria itu masih merasa belum menemukan seseorang yang dikenalnya. Sepuluh tahun memang bukanlah waktu yang sebentar, sebagian besar teman-teman sekolahnya dulu mungkin saja telah banyak mengalami perubahan fisik. Yang saat sekolah dulu berkacamata tebal, bisa saja kini sudah menjalani operasi lasik sehingga dapat bebas melihat tanpa kacamata, yang dulu berambut cepak, mungkin kini telah gondrong atau mungkin teman wanitanya yang dulu bertubuh langsing menawan, kini menjadi agak sedikit sintal dan ‘berisi’ karena proses kehamilan dan melahirkan yang mungkin telah mereka lalui. Mungkin saja, Kyuhyun berpikir dalam hati.

Kyuhyun melihat sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya yang menunjukkan pukul 20:10 dan itu berarti ia tadi datang terlambat sepuluh menit dari waktu yang tertera pada undangannya. Pria itu masih terus mencari-cari sosok yang mungkin saja dikenalnya di antara kerumunan orang di dalam ruangan luas itu. Tidak mengherankan memang bila Kyuhyun agak kesulitan menemukan kawan-kawan karibnya saat sekolah dulu, sebab reuni malam itu merupakan reuni akbar gabungan dari lima angkatan berbeda.

Sambil terus menelusuri wajah-wajah yang hadir di sana malam itu, Kyuhyun melangkahkan kakinya ke arah buffet dan mengambil segelas champagne dengan tangan kirinya. Kyuhyun menyesap minuman itu sekilas sebelum kemudian melemparkan pandangan ke arah tengah ruangan tempat sekelompok wanita berkerumun. Pria itu lalu melangkah santai ke arah kerumunan wanita yang dilihatnya tadi karena merasa mengenali salah satu di antara beberapa wanita yang nampak sedang berbincang-bincang di sana.

Tebakan Kyuhyun sama sekali tidak salah, wanita berparas cantik dengan tatanan rambut french braid di salah satu sisi kepalanya yang sejak beberapa waktu lalu menarik perhatiannya adalah Hwang Miyoung, salah satu teman sekelasnya di tahun pertamanya bersekolah di Hannyoung High School. Kini pria itu berdiri dengan jarak sekitar dua meter dari kerumunan para wanita itu dan dengan sengaja memandangi Miyoung lekat-lekat, berharap perhatian wanita itu teralih padanya.

Tak diperlukan waktu yang lama bagi Kyuhyun untuk menarik perhatian wanita itu, kurang dari dua menit Kyuhyun menatap ke arah kawan lamanya itu dan begitulah, lelaki itu menang telak, tatapan intensnya pada Miyoung sukses membuat wanita cantik itu balas menatap ke arahnya dengan segudang rasa penasaran. Tanpa membuang waktu, Kyuhyun kemudian langsung melambaikan tangan kanannya yang terbebas dari gelas dengan gerakan elegan seraya tersenyum ramah ke arah wanita cantik itu.

Miyoung nampak berpamitan sekilas pada teman-temannya yang lain, yang berkumpul di kerumunan itu, kemudian dengan cepat memisahkan diri dan menghampiri Kyuhyun yang masih berdiri di tempatnya sejak tadi. Kyuhyun tersenyum manis pada Miyoung begitu ia melangkah semakin dekat ke arahnya, sementara wanita itu memandangi teman lamanya itu dengan tatapan takjub penuh rasa tak percaya.

“Cho Kyuhyun? Bukankah kau ini Cho Kyuhyun?!! Yah! Lihat dirimu, si pangeran kodok telah berubah menjadi prince charming rupanya,” kata wanita itu di sela kekehan kecilnya ––setengah meledek tentu saja–– lalu setelahnya kedua pipi mereka saling menyapu, sebagai ucapan salam.

Mendengar ocehan Miyoung, Kyuhyun hanya bisa mendengus dan kemudian keduanya pun tergelak menertawakan kelucuan yang baru saja wanita itu ciptakan. Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk terlibat dalam percakapan hangat sarat nuansa nostalgia. Kyuhyun dan Miyoung memang berteman cukup dekat sepuluh tahun yang lalu. Selain karena mereka ditempatkan di kelas yang sama saat kelas 1, rumah mereka pun berada dalam satu blok dan hanya terpisah jarak beberapa sekitar tiga rumah saja.

“Kau banyak berubah, Miyoung ah… Dulu kau berambut cepak, tapi lihat kini, wig siapa yang menempel di kepalamu itu, hah?” cela Kyuhyun membalas gurauan kawannya tadi seraya terkekeh geli.

Miyoung menyikut perut Kyuhyun dengan cukup keras dan seketika berhasil menghentikan tawa jahil Kyuhyun yang kemudian berganti menjadi desisan pelan dengan wajah tampannya yang terlihat meringis menahan sakit.

“—Aww! Sial, kau belum lupa caranya menyerang ternyata. Kupikir setelah berpenampilan feminin dengan stiletto belasan senti begini, kau sudah tak lagi mau bersentuhan dengan segala macam ilmu bela diri yang dulu kau tekuni,” lanjut Kyuhyun sambil masih mengusap-usap perut bagian kirinya yang terasa nyeri.

“Hahaha… Kau salah besar, Tuan Cho Kyuhyun. Aku kini justru berprofesi sebagai instruktur taekwondo di sebuah pusat pelatihan taekwondo yang didirakan oleh suamiku, kau tahu?”

Kelopak mata Kyuhyun membelalak sempurna mendengar jawaban yang baru saja meluncur dari bibir mungil Miyoung yang malam ini terpoles lipstik shocking pink itu. Lelaki itu begitu terkejut mengetahui bahwa pekerjaan wanita kemayu di hadapannya saat ini sungguh jauh di luar dugaannya. Semula ia mengira bahwa Miyoung dengan penampilannya yang seperti sekarang ––yang begitu feminin dan anggun–– ini mungkin telah menjelma menjadi seorang guru TK atau instruktur tari balet atau pun segala jenis pekerjaan yang menuntut keluwesan dan juga feminitas tingkat tinggi yang harus dimiliki oleh pelakunya, maka betapa terkejutnya ia kala jawaban yang didapatkannya malah berbanding terbalik 180 derajat.

“Apa katamu? Kau instruktur taekwondo? Astaga, Miyoung… Kupikir waktu sepuluh tahun sudah berhasil menyulapmu menjadi wanita ‘sungguhan’, ternyata hanya tampilan luarmu saja yang berubah, ckckck..” ujar Kyuhyun dengan nada takjub sekaligus heran pada saat bersamaan sambil berdecak penuh ketidakpercayaan.

“Ya, mungkin sifat tomboiku inilah yang menuntun takdirku menjadi seperti sekarang ini. Aku bertemu dengan pria yang kini menjadi suamiku sekitar empat tahun yang lalu di sanggar taekwondo miliknya, kala itu aku adalah salah satu muridnya di sana. Kami berkenalan dan mulai mendalami karakter satu sama lain, singkatnya kami berdua berkencan, kemudian kami memutuskan untuk menikah satu tahun setelahnya. Life is so unpredictable, isn’t it, Cho Kyuhyun ssi?”

Kyuhyun tertegun sesaat mendengar cerita singkat yang baru saja dituturkan teman lamanya itu, terlebih setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan wanita yang berusia satu tahun di bawahnya itu. Life is so unpredictable. Kyuhyun mengulang kalimat itu lamat-lamat di dalam kepalanya, ia lalu mengkorelasikannya dengan segala hal yang telah terjadi di dalam hidupnya selama beberapa tahun terakhir ini.

Yah, Kyuhyun ah, kenapa kau jadi melamun begitu? Aku ingin mendengar ceritamu juga. Katakan padaku, berapa anakmu sekarang?”

Kyuhyun tersadar dari lamunannya dan kembali memusatkan perhatiannya pada teman wanita yang sejak tadi berdiri di hadapannya itu.

“A-a-apa katamu tadi? Aku tidak terlalu mengikutimu tadi…” tanya Kyuhyun jujur dengan memasang wajah polosnya yang sungguh nampak menggelikan bagi Miyoung.

“Aishh…! Kau ini….! Kubilang tadi, berapa anak yang kaupunya sekarang? Kabar tentangmu yang terakhir kudengar dari Lee Jonghyun, temanmu di tim basket dulu, katanya kau telah menikah dua tahun yang lalu ketika kau masih tinggal di London. Benar begitu, kan?” cerocos Miyoung panjang lebar agar kawan lamanya itu paham.

“Ah ya, kau benar. Aku memang sudah menikah dua tahun lalu, tapi kami sudah memutuskan berpisah sejak sekitar setahun yang lalu…” jawab Kyuhyun datar setelah sebelumnya memberi jeda selama beberapa detik.

Miyoung tercengang mendengar jawaban pria itu, sementara Kyuhyun terdengar menghela napas berat sebelum sejurus kemudian meneruskan kalimatnya.

“—Kau tahu, kan? Di dalam hidup ini, segalanya tidak selalu berjalan mulus sesuai apa yang kita inginkan. Bila kehidupan pribadimu menyenangkan, mungkin kau menghadapi masa-masa sulit di tempat kerja atau dengan bisnis yang kau geluti, begitupun sebaliknya, bila karirmu gemilang, mungkin kau terpaksa harus bisa merelakan kehidupan pribadimu hancur berantakan. Seperti katamu tadi, ‘life is so unpredictable’, begitu pulalah yang terjadi pada kehidupanku. Ya, kurasa begitu, Miyoung ah..” ucap Kyuhyun sambil tersenyum getir.

I’m sorry to hear that. Aku tidak bermaksud…”

“Sshhh…sudah, tak apa, aku sudah terbiasa dengan ini,” sela Kyuhyun memotong kata-kata Miyoung seraya meletakkan salah satu telunjuknya pada bibir wanita itu.

“—Ah ya, kau sendiri bagaimana? Kaubilang tadi kau sudah tiga tahun menikah, kan? Harusnya kau sudah punya setidaknya dua orang anak, bukan begitu?” goda Kyuhyun dengan senyum genit tersungging di sudut bibirnya.

“Ahaha,,,wajahmu itu, Kyuhyunnie…membuatku ingin mencakarmu saking sebalnya!” sahut Miyoung seraya meninju pelan bahu Kyuhyun dengan gemas.

“—Ya, aku sudah punya satu anak perempuan yang kini usianya hampir dua tahun, Kyuhyun ahBy the way, apa kau tidak berniat untuk…uhm,,,menikah lagi, mungkin?”

Kyuhyun hanya bisa tersenyum datar mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh kawannya itu. Setahun terakhir ini, hampir semua orang yang sudah mengetahui perihal kabar perceraiannya selalu menanyakan hal yang sama dengan apa yang baru saja Miyoung tanyakan padanya, dan jujur saja hal itu sungguh membuatnya begitu jengah. Alih-alih menunjukkan rasa tidak nyamannya pada teman lamanya itu Kyuhyun malah menyahuti pertanyaan itu dengan candaan, “Kalau aku ingin menikah lagi, kaulah orang pertama yang akan kuhubungi untuk mencarikanku calon istri.”

Kedua kawan lama itu kemudian kembali tergelak bersama, menertawakan betapa konyolnya salah satu dari mereka yang justru menjadikan masa lalunya yang cukup memprihatinkan sebagai sebuah lelucon ringan yang mampu mengocok perut mereka. Tak lama kemudian, ponsel yang disimpan Miyoung di dalam clutch bag hitam yang sejak tadi berada dalam genggamannya berdering.

“Ah, tunggu sebentar ya, Kyuhyunnie… Sepertinya suamiku menelepon…” pamit Miyoung sambil berlalu meninggalkan Kyuhyun menuju ke salah satu sudut yang agak lengang di dalam ruangan ballroom yang dipadati tamu undangan.

Kyuhyun bergeser sedikit ke arah buffet yang berada tak jauh dari tempatnya mengobrol dengan Miyoung belum lama ini, untuk mengambil beberapa potong pastry yang tersaji rapi di atas meja panjang di sana. Kini pria itu tengah mengunyah sepotong mini croissant yang tadi diambilnya dari salah satu piring yang ada sambil terus mengedarkan pandangan, masih kebingungan mencari-cari temannya yang lain. Sedari tadi ia belum melihat tampang Kim Dongwook si kapten basket yang dulu sangat digilai para gadis di sekolah mereka karena ketampanannya yang termasuk ke dalam jajaran superior pada masanya kala itu. Ia pun belum menemukan Lee Yongjae si jenius fisika, yang juga merupakan rekan satu timnya saat mengikuti Olimpiade Sains tingkat nasional pada tahun kedua mereka di Hannyoung High School. Ke mana mereka semua? batin Kyuhyun.

Sementara itu, di sudut lain ballroom nampak Miyoung kini sedang asyik berbincang dengan seorang wanita yang tidak sengaja ditemuinya seusai tadi ia menjawab telepon dari suaminya. Wanita yang kini menjadi lawan bicara Miyoung adalah Jung Suyeon, salah satu teman sekolah yang dikenalnya di klub fotografi dulu. Suyeon memang bukan teman sekelas Miyoung dan Kyuhyun, namun mereka bertiga memiliki hubungan yang terbilang akrab semenjak tergabung dalam klub fotografi kala itu. Selepas berbincang sedikit dengan Suyeon, Miyoung lalu mengajak wanita berambut sepundak itu untuk bergabung bersama Kyuhyun yang sejak tadi sudah mengobrol dengannya.

“Cho Kyuhyun, lihat siapa yang datang bersamaku… Apa kau masih ingat padanya?” kata Miyoung agak lantang dari balik punggung pria yang berdiri tinggi menjulang membelakangi kedua wanita anggun di belakangnya. Kyuhyun yang masih memegang gelas champagne yang isinya hampir habis itu terlihat menoleh penuh ekspresi terkejut, ia terkesiap sejenak memerhatikan wanita yang diajak oleh Miyoung ke hadapannya saat ini. Sementara Suyeon yang menjadi penyebab rasa terkejut Kyuhyun berdiri dengan begitu anggunnya, senyum manis terulas pula di wajahnya yang halus bak pualam.

“Kau? Kau Jung Suyeon, kan?”

“Ah, senang sekali rasanya kau masih mengingat namaku, Cho Kyuhyun ssi…” ujar Suyeon menjawab pertanyaan bernada ragu dari Kyuhyun tadi dengan bahasa formal.

Lalu, mereka bertiga terlarut dalam serangkaian kisah tentang memori indah, lucu bahkan konyol yang pernah mereka rangkai di masa SMA yang seluruhnya mengalir dan terangkum dalam sebuah percakapan ringan penuh kehangatan. Percakapan yang diam-diam membawa salah satu di antara mereka memasuki sepetak ruang kecil yang terjaga rapi di dalam kotak memori yang selama bertahun-tahun ini dijaga dan dipertahankan begitu rupa oleh pemiliknya. Sepetak ruang kecil itu menyimpan sepotong kata dengan satu makna yang begitu dalam, yang dulu, pada sepuluh tahun yang lalu, tidak sempat terucapkan oleh salah satu dari tiga orang berbeda gender itu. Sesuatu yang sekian lama telah terpendam itu kini memaksa menyeruak dari ingatan salah satu di antara tiga anak manusia yang sedang menyesapi manisnya kenangan yang pernah mereka cecap di masa lalu, di salah satu ruangan megah di salah satu sudut kota Seoul yang gemerlap. Sesuatu yang membuat salah satu di antara mereka menjadi begitu menyesal sebab dulu sama sekali tidak bernyali untuk berucap “saranghae”.

—OoooO—

Advertisements

8 comments

  1. Begitu tau kalo ini udah end segitu aja, otak aku langsung otomatis menyuarakan, “Lah?”
    Beneran deh mbak Mit ini… Suka bikin kita bertanya2 sndiri. Pdahal aku mngharapkan ada cerita ttg Kyu sama mantan istrinya loh, eh trnyata bahkan namanya pun ga ketulis disini. Haha. 😀

    Like

  2. iya nih, .. anti klimaks banget di kalimat terakhir.

    tapi kisah ini dibuka dengan sangat apik, aku suka banget narasi di paragraf pertama menggambarkan sosok seorang Sexy, Free & Single yang memikat, tapi dibalik semua nama brand dan kemewahan yang dia miliki, ternyata dia tetap seorang manusia yang nggak sempurna.

    Like

  3. wow.. duren…….duren.. *toel2 pipi kyu
    udah gini doank? gak ada lagi? *ish songong,haha!
    kalo aku jadi kyu gak bakal nyia2in lagi, jadikan pertemuan ini kesempatan lagi buat dia.. susah loh ngelupain seseorang macem kasusnya kyu ini apalagi yang pertama *eaaa curcol abiis!haha

    Like

  4. wuhu, ad duren nih,..
    hehehe,..
    sebuah reuni mengungkap nostalgia kembali,..
    ckckckck,..
    lho, ending cm kyk gitu aj,.. ‘d’tendang’
    suka am penjabaran nih cerita,..
    d’tunggu buat krya lain,..
    fighting,.. 🙂

    Like

  5. Suka penggambaran kyuhyun pas di awal.kukira ada cerita pas kyuhyun sama mantan istrinya.eh ternyata end sampe disitu.intinya jangan menyia-nyiakan kesempatan karena penyesalan tidak datang di awal.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s